
Mike dan Floryn saling pandang. Keduanya sama-sama menelan salivanya dengan susah payah. Ah, rasanya Mike dan Floryn ingin menghilang saja saat ini.
Semua orang di ruang itu menatap sepasang kekasih itu dengan penuh selidik. Dan tentu saja hal itu membuat keduanya tak nyaman hingga salah tingkah.
Baik Mike maupun Floryn masih sangat ingat kapan ciuman itu terjadi. Karena itu merupakan ciuman pertama bagi keduanya. Dan sialnya justru ada orang lain yang melihatnya.
Setelah ciuman pertama mereka di taman belakang, mereka tak pernah berciuman lagi walaupun hanya sedang berduaan saja. Baik Mike maupun Floryn sama-sama menahan diri sampai mereka benar-benar halal. Apalagi sudah ada lampu hijau dari kedua belah keluarga.
"Jadi kapan sebaiknya kita menikahkan mereka berdua?" tanya Papa Jo lagi saat Papa Floryn hanya diam karena masih tak percaya dengan apa yang dirinya dengar.
"Bagaimana kalau tanggal dua bulan depan?" Papa Floryn memberi saran.
"Tanggal dua? Itu artinya delapan hari lagi?" tanya Papa Jo memastikan.
"Bukannya lebih cepat lebih baik untuk anak-anak kita?"
__ADS_1
"Memang benar, tapi bagaimana dengan kesehatan anda?" tanya Papa Jo khawatir. Apalagi belum lama ini Papa Floryn baru saja menyelesaikan operasi pemasangan ring di jantungnya.
"Saya sudah lebih baik. Tapi bagaimana, dengan persiapan pernikahannya? Apa tanggal pilihan saya terlalu cepat?" tanya Papa Floryn yang tiba-tiba tak yakin dengan jika dalam delapan hari persiapan acara pernikahan putrinya bisa selesai.
"Untuk hal itu anda tidak perlu khawatir." Kali ini yang menjawab bukan Papa Jo, melainkan Mom Lisa. "Saya dan para Mama Mike akan mempersiapkan pernikahan anak-anak kita dengan baik. Dan sesempurna mungkin walaupun hanya mempunyai waktu delapan hari."
"Apa anda yakin?"
"Tentu saja," jawab Mom Lisa mantap dan penuh keyakinan.
"Baiklah kalau begitu kita sepakat ya, hari pernikahan Floryn dan Mike akan di adakan tanggal dua bulan depan," ujar Papa Floryn. "Untuk tempat dan bagaimana acara pernikahannya nanti, saya serahkan semua pada pihak keluarga Mike. Bukan karena saya tak mau ikut membantu, namun kondisi kesehatan saya yang seperti ini tak memungkinkan untuk ikut membantu. Dan lagi pula, Mama Floryn juga sudah tidak ada, jadi kami....."
"It's okay Pa, ada Floryn disini."
Keluarga besar Mike akhirnya berpamitan pulang setelah kesepakatan keluarga terjalin. Mike begitu senang. Delapan hari, iya delapan hari lagi Floryn akan menjadi istrinya. Tak ada lagi yang bisa mengambil Floryn darinya karena gadis cantik itu akan menjadi miliknya, iya miliknya.
__ADS_1
"Mom, Ma makasih ya." Mike memeluk Mom Lisa dan Mama Rani bersamaan. Rasanya rasa terimakasih tak akan cukup untuk membalas semua hal yang kedua ibunya itu berikan.
Tapi sal hal yang harus mereka tahu, Mike begitu menyayangi mereka. Sama seperti Mike menyayangi Mama Sita.
"Iya sama-sama sayang," jawab Mom Lisa sembari mengusap puncak kepala Mike.
"Berjanjilah mulai sekarang kamu harus selalu bahagia," ujar Mama Rani menimpali.
Mike hanya menganggukan kepala seraya mempererat pelukannya. Dia bersyukur bisa berteman dengan Ello dan Alex hingga dirinya juga bisa ikut merasakan di sayangi oleh ibu sahabatnya itu.
"Sudah ke toiletnya?" tanya Papa Jo pada Mama Sita yang baru saja bergabung.
Namun bukannya menjawab, Mama Sita justru diam mematung dengan kedua mata mulai berkaca-kaca saat melihat pandangan di depannya. Dimana sang anak tengah memeluk dua orang wanita yang sudah dia anggap seperti ibunya sendiri.
Mama Sita bahagia saat melihat Mike begitu di sayangi. Namun dirinya juga tak bisa berbohong, jika di sudut kecil hatinya, ia merasa iri. Andai dirinya ada di posisi itu, ia yakin akan merasakan bahagia yang tak terkira.
__ADS_1
"Mama kenapa diam disitu?" tanya Mike saat melihat ibunya justru diam mematung. "Mama gak mau peluk Mike juga?"
Senyum itu muncup dengan sendirinya. Dan dengan langkah cepatnya, Mama Sita langsung ikut memeluk Mike. Sekarang pria tampan itu tak terlihat karena berada di tengah-tengah pelukan ketiga ibunya.