Fated To Love You

Fated To Love You
60


__ADS_3

Saat ini Angga dan Icha berada di Rumah Sakit. Mereka sedang memeriksa kehamilan Icha. Angga tampak antusias melihat di monitor ada Pangeran kecil walau masih sangat kecil. Angga lantas melambai ke layar monitor dan menyapa bayinya. “Halo Pangeran kecil. Ini ayah.”



Dokter berkata kalau bayi mereka sehat dan berkembang dengan baik. Angga tersenyum senang dan berkata kalau Pangeran kecil mirip dengannya. Icha tertawa membenarkan dan bersyukur karena bayinya mirip Angga.


Di ruangannya Dokter keluarga Budiman, Angga berkali-kali menatap foto janin bayinya dan tersenyum bersama Icha. Mereka malah tampak mengabaikan kehadiran Dokter Heri. Angga berkata pada Icha kalau bayi mereka sangat keren, padahal masih berupa janin.


Dr. Heri menyebut kalau senyum Angga lebar sekali. Angga lalu menatap Dr. Heri dan bertanya apa perkembangan bayinya sehat? Dr. Heri membenarkan hanya saja kepala bayinya agak sedikit besar.


Angga menyebut Dr. Heri berkata omong kosong, ukuran kepala di keluarganya normal semua. Angga melirik Icha dan Icha menampik kalau kepala pangeran kecil besar bukan karena dia. Kepalanya kecil dan kepala keluarganya juga kecil.


Dr. Heri tersenyum geli melihat tingkah mereka padahal itu adalah hal yang normal. Ia berkata kalau kepala Pangeran kecil sedikit besar bukan masalah. Jadi tidak perlu khawatir. Dr. Heri malah menyebut sikap Angga yang terlalu berlebihan.


Angga lalu bertanya kira-kira apa jenis kelamin bayinya? Dr. Heri pasti tahu karena ia sudah 35 tahun bekerja sebagai dokter. Jadi pasti sudah berpengalaman. Angga bertanya demikian karena dia akan membeli baju untuk Pangeran kecil, jadi dia harus tahu mau beli baju warna merah muda atau biru. Tapi Icha menjawab kalau mereka beli dua-duanya saja. Merah muda dan juga Biru. Itu tidak menjadi masalah. Dr. Heri mengiyakan apa yang Icha katakan tanpa memberitahu jenis kelamin bayi mereka. Itu lebih baik, anak perempuan atau laki-laki itu kan sama saja. Lagipula mereka tetap menyayanginya terlepas dari apapun jenis kelaminnya.


Kini mereka mengunjungi toko perlengkapan bayi setelah selesai menemui Dr. Heri. Karyawan toko menjelaskan tentang botol susu bayi pada mereka. Angga mendengarkan dengan cermat dan kemudian berkata kalau dia mau beli semua botol bayi itu. Dia akan memberikan semua yang terbaik untuk Pangeran kecil. Tapi Icha melarangnya dan bertanya kenapa harus semua? Satu saja. Itu sudah cukup. Bayi akan tumbuh dengan cepat dan mereka tidak butuh botol lagi setelah umur setahun.

__ADS_1


Tapi Angga tidak mau mendengar, dia terlalu bersemangat untuk membeli segala hal yang dibutuhkan Pangeran kecil, lagipula botol bayi ini punya fungsi yang beda-beda. Jadi dia mau semuanya, kalau diperlukan dia bisa membeli toko ini sekalian.


Setelah selesai berbelanja, mereka berniat pulang. Tapi tiba-tiba pandangan Icha beralih pada boneka beruang putih yang sedang dipajang disana. Dia berseru bahwa boneka ini lucu sekali. Icha juga bilang kalau Pangeran kecil pasti lucu bermain bersama boneka beruang putih ini.



Angga kemudian berkata kalau mereka ingin membeli boneka beruang putih itu kedua-duanya. Icha pun sangat senang dibuatnya karena Angga menuruti kemauannya. Setelah sebelumnya mereka membeli pakaian pasangan kini mereka membawa pulang boneka beruang pasangan.


Malam ini sebelum tidur, Angga dan Icha menghias ranjang tidur bayi mereka. Padahal kelahirannya masih sangat lama, tapi Angga tampak sangat antusias melakukan pekerjaan ini. Setelah mereka selesai mengurus ranjang bayi untuk Pangeran kecil, Angga kemudian duduk di pinggir ranjang dan mengulurkan kedua tangannya kearah Icha dan Icha masih berdiri menyambut uluran tangan itu sambil tersenyum manis.


Angga bertanya kapan Pangeran kecil akan mulai tinggal di kamar ini? Icha menjawab mungkin sekitar tanggal 14 Februari. Lalu keduanya senang karena bayi mereka memilih tanggal yang cantik untuk lahir ke dunia ini. 14 Februari kan hari Valentine. Hari kasih sayang.


Icha malah balik bertanya kenapa memangnya? Bukankah boneka ini lucu sekali? Angga bertanya apa karena lucu maka boleh tidur disini? Angga kemudian juga berkata dengan suara lirih kalau sebaiknya tadi mereka membeli satu saja, percuma beli dua dan juga boneka ini juga menghambatnya untuk memeluk Icha.



*****

__ADS_1


Anin sedang berada di apartemennya dan ia sedang kedatangan tamu. Temannya dari Paris datang menemuinya dan bertanya tentang kabarnya. Apakah ia berhasil menemui kekasihnya? Apakah dia akan segera menikah? Karena saat itu Anin terlihat terburu-buru untuk kembali sehingga tidak memikirkan tentang penampilan solonya. Itu artinya Anin pasti mendapatkan sesuatu yang lebih besar sehingga dia meninggalkan penampilan solo tersebut.


Bukannya memberikan jawaban yang menggembirakan. Wajah Anin malah terlihat murung. Fakta tentang Angga yang sudah menikah membuat depresi yang mendalam bagi dirinya. Kehilangan semangat, dan seolah tak memiliki tujuan hidup lagi. Dia telah kehilangan keduanya. Kehilangan hidup dan impiannya di waktu yang bersamaan.


Bahkan setiap malam Anin juga selalu minum obat tidur untuk meredakan kesedihan dan bahkan banyak yang bilang dia belakangan ini bertingkah aneh.


Anin berkata, “Kupikir seiring berjalannya waktu aku akan merasa lebih baik, tapi ternyata rasanya semakin berat. Aku semakin menderita dan itu juga sebabny orang memgataiku aneh” Anin tak menceritakan masalahnya. Ia tak memberitahu temannya bahwa kekasih yang ditanyakan itu sudah menikah dengan orang lain.


Anin tak kuasa menahan air matanya. Dia memegang dadanya yang terasa penuh sesak karena luka dan kembali melanjutkan kalimatnya kalau rasanya dia tak tahan lagi. “Jika saja aku bisa memutar waktu, jika aku bisa melakukan yang berbeda..” Anin pun terisak.



Di lain tempat Reza sedang menatap foto di layar ponselnya. Bukan fotonya ataupun foto Icha, tapi itu adalah foto adik kandungnya yang terpisah puluhan tahun darinya. Sampai sekarang dia masih belum mampu menemukan sang adik. Padahal sebenarnya adik yang ia cari sudah berada di dekatnya.



__ADS_1


Dia merindukan adiknya dan juga merasakan bahwa adiknya saat ini pasti tengah sendirian dan kesepian. Adiknya pasti sedih karena sudah ditinggalkan. Reza sangat merasa bersalah, jika seandainya dia bisa menemukan adiknya maka apapun akan ia lakukan untuk menebus kesalahan itu.


Dia selalu bertanya-tanya, bagaimana adiknya tumbuh? Apa kabarnya? Bagaimana kehidupannya kini? Apakah dia menjalani hidup dengan baik? Apakah adiknya juga memikirkannya sama seperti yang ia selalu lakukan? Apakah adiknya akan memaafkannya dan mau menerimanya saat ia berhasil menemukannya kelak?


__ADS_2