Fated To Love You

Fated To Love You
67


__ADS_3

Angga membawa lcha ke sebuah kafe dan mereka sudah duduk berhadapan. Angga bertanya apa Icha masih benar adalah sekretarisnya? Icha kembali menjawab dengan menyebut nama Angga, bukan Presdir. Sehingga dia terpaksa meralat kalimatnya tersebut dan Angga pun tertawa. Dia memotong kalimat Icha dan berkata kalau biasanya Icha pasti memanggilnya Angga. Bukan Presdir. Iya kan?


Icha bingung. Angga kembali memojokkannya dengan berkata kenapa Icha berbohong dengan mengaku sebagai sekretarisnya sementara ternyata Icha bukanlah sekretaris pribadinya? Icha hanya bisa meminta maaf karena sudah membohongi Angga.


Tiba-tiba Angga bertepuk tangan dan menyebut Icha luar biasa, tapi sepertinya itu seolah sindiran yang berarti sebaliknya.


“Angga, aku tidak melakukannya karena ingin membohongimu. Itu karena kau lupa ingatan dan karena kau lupa ingatan, kau tidak boleh terlalu syok. Dr Heri yang mengatakan itu.” Icha mencoba menjelaskan masalahnya.


“Syok yang kuterima pasti luar biasa karena kenyataan aku menikahi wanita sepertimu. Kau hamil setelah kita menghabiskan malam bersama. Semua orang berkata begitu. Apa itu benar?” tanya Angga mendelik


Kini Icha yang gantian syok. Dia hanya bisa mengangguk dan menjawab ya dengan singkat. Angga tertawa dan bertanya apa dia sudah gila melakukan semua itu? Bagaimana mungkin dia meninggalkan Anin dan malah menikahi perempuan seperti Icha? Benar-benar mustahil.


“Icha, apakah benar aku menikah denganmu berdasarkan kondisi bahwa kau menerima uang dariku, menyerahkan bayinya padaku, lalu kita bercerai?” Angga kembali bertanya sesuai dengan apa yang dia dapatkan dari berita yang membicarakan mereka di media massa.

__ADS_1


Icha terluka. Dia tak bisa menjawab apapun. Hatinya sakit, tapi itulah kenyataannya. Sebab Angga memang memberikannya kontrak perjanjian seperti itu. Icha heran kenapa Angga jadi seperti ini? Menghujamnya dengan pernyataan yang membuat hatinya sakit. Lalu dia ingat bahwa Angga hilang ingatan. Jika ingatan Angga pulih, Angga tidak mungkin berkata sekasar itu padanya.


“Angga, selama tiga bulan yang tak kau ingat ini banyak hal yang terjadi. Aku tidak bisa memberitahumu sekarang, tapi seperti itulah kenyataannya.” jawab Icha


“Kita hanya menikah secara kontrak, aku pasti tidak mencintaimu sedikitpun. Benarkan?” tanya Angga


Icha semakin tersentak. Dia tidak menjawab karena Angga sudah meyakini itu dengan bibirnya. Angga berkata, yang penting dia tidak mencintai Icha, jadi semua tidak akan jadi masalah jika dia tidak ingat dengan apa yang terjadi dengan tiga bulan itu. Selama tidak ada cinta diantara mereka, maka semua baik-baik saja.


Icha hanya bisa menundukkan wajahnya. Apa yang harus dia katakan? Tidak mungkin dia berkata ini dan itu agar Angga ingat. Memaksakan ingatan Angga kembali sama saja menyiksa diri Angga dan Icha tidak mau melakukan itu.


Icha menjawab mantap “Ya… Pangeran Kecil… adalah anakmu.” Setelah mendengar semua itu, Angga melangkah pergi. Dia meninggalkan Icha dan Icha hanya bisa menunduk tanpa menyanggah apapun yang dikatakan Angga.


Malam ini, Angga sudah ada di rumah. Neneknya langsung menyuruh dia menemui Icha dan membawa Icha ke rumah ini lagi. Angga dengan santai berkata kenapa dia harus menemui Icha?

__ADS_1


Saat itu Angga bersama Sekretarisnya. Sekretarisnya malah jadi salah tingkah dan bingung harus bagaimana. Dia kemudian menjelaskan pada Nenek Angga kalau belakangan ini Angga banyak mengerjakan pekerjaan kantor jadi memilih melupakan masalah Icha untuk sementara waktu.


Angga membenarkan pernyataan Sekretarisnya. Dia berkata pekerjaan adalah yang terpenting. Neneknya sebenarnya sangat ingin marah, tapi tubuhnya yang masih lemah sama sekali tidak memungkinkannya. Dia hanya berkata agar besok Angga datang dengan membawa Icha kembali. Bagaimanapun caranya, cucu menantunya harus ada di rumah ini. Jika tidak, maka dia tidak akan bicara lagi pada Angga. Kalaupun perlu dia tidak akan menganggap Angga sebagai cucunya.


Lalu Sekretarisnya mendorong Angga sampai ke kamar dan mengunci pintu dengan pelan. Sementara Angga masih mengomel kenapa neneknya mementingkan wanita norak seperti Icha?


Angga juga memarahi Sekretarisnya karena dengan berani memegang tubuhnya. Dia kan Presdir. Lalu Sekretarisnya menjelaskan kalau Angga harus memelankan suaranya, jangan sampai nenek Angga tahu kondisi Angga yang sebenarnya karena itu bisa bahaya. Neneknya bisa kembali sakit dan dirawat di Rumah Sakit. Tentu Angga tidak menginginkan hal itu. Dia kemudian duduk di sofa kamarnya dan bertanya kenapa Sekretarisnya berani membohonginya tentang status Icha yang ternyata adalah istrinya?


Sekretarisnya menjawab kalau dia hanya tidak ingin Angga bertambah pusing karena syok mengetahui semua yang sebenarnya. Makanya dia terpaksa mengakui Icha sebagai sekretaris pribadinya. Sekretarisnya juga berkata kalau Icha sangat mengkhawatirkannya. Dia bahkan memperingatkan Angga untuk tidak melakukan hal-hal yang nantinya akan Angga sesali. Dia berharap ingatan Angga segera kembali sehingga Icha tidak bersedih karena ia sudah banyak menderita. Tapi Angga tak terlalu menghiraukan perkataan Sekretarisnya. Apa yang akan ia sesali jika menyangkut perempuan seperti Icha? Malahan seharusnya ia menyesal sudah menikahi Icha. Dia benar-benar buruk sudah mengkhianati Anin demi perempuan seperti Icha. Apa yang merasukinya? Untung saja Anin bisa memahaminya dan tidak meninggalkannya. Untungnya itu hanyalah pernikahan kontrak. Setelah ia selesai, maka ia akan kembali lagi pada Anin. Dia akan menikahi Anin, perempuan yang ia cintai.


Kemudian Angga menyuruh Sekretarisnya pergi dan mulai masuk ke kamar tidurnya, dia sedikit heran karena sudah ada banyak perlengkapan bayi disana termasuk tempat tidur bayi dan sudah dihias pula. Ada mainan anak-anak juga, seperti terompet kecil yang kemudian Angga coba untuk meniupnya.


Sementara itu, saat ini Icha sedang makan dengan lahap di Restoran ibunya dan hal itu membuat ibu serta saudara-saudaranya heran. Ibunya menyuruh supaya makan pelan-pelan saja, nanti bisa sakit. Dia juga bertanya apa Icha baik-baik saja? Kok kayaknya aneh?

__ADS_1


Icha menjawab tentu saja dia baik, kenapa dia harus tidak baik? Ibunya lalu berkata kalau Icha masih mau hidup bersama Angga setelah semua ini terjadi, maka Icha adalah orang bodoh. Alia, kakaknya dengan santainya berkata kalau Angga dan Icha bercerai maka Icha pasti akan mendapat tunjangan yang cukup. Lalu ibunya marah dan membentak mereka semua. Dia meminta agar semua tak membicarakan tunjangan, jika nekat mengatakannya lagi maka dia akan mematahkan kaki mereka semua.


__ADS_2