Fated To Love You

Fated To Love You
51


__ADS_3

Tiba- tiba Angga dapat telepon dari Anin, “Halo Ga, tenang dan dengarkan aku. Lusa aku akan kembali pada hari ulang tahunmu.”


“Apa? Benarkah?” Angga terkejut mendengar Anin akan pulang saat ulang tahunnya.


“Ya. Sebenarnya aku di Australia sekarang.”


“Australia?”


“Ya. Kami mulai tampil di Sydney mulai pekan depan. Ini mungkin akan menjadi perjalanan satu hari tapi aku akan pulang dan menemuimu”


“Apa tidak apa apa jika kamu pergi sebelum pertunjukkan besar itu?”


“Tidak apa apa karena ini pertunjukkan penting, aku lebih butuh dukungan mental darimu sebelumnya.”


“Anin….” Ucapan Angga tersendat, Ia ingin memberitahu Anin yang sebenarnya telah terjadi.


“Maaf, Ga. Aku harus kembali berlatih. Aku akan meneleponmu lagi.” Tapi Anin malah menutup panggilannya sebelum Angga memberitahunya. Setelahnya Angga jadi galau.


Angga masuk ke kamarnya. Ia ingin berbicara pada Icha. Ia ingin membatalkan janjinya merayakan ulang tahunnya bersama Icha, tapi kemudian Ia terlihat ragu mengatakannya. Ia tidak ingin Icha kecewa dan salahpaham padanya.


Pagi pagi sekali Icha terlihat riang ceria. Ia akan merayakan ulang tahunnya bersama Angga. Ia bahkan telah menyiapkan hadiah untuk Angga yang dimasukkan ke dalam tasnya.


Angga sudah bersiap untuk pergi. Lalu Icha bertanya mau ke mana pagi pagi sekali? Tapi Angga tidak menjawab dan malah meminta maaf padanya. Ia tidak bisa merayakan ulang tahun bersamanya hari ini karena sebenarnya Anin di Sydney sekarang dan dia akan segera pulang ke Indonesia. Mereka akan pergi ke Restoran yang dahulu pernah mereka kunjungi.


Icha mendengarkan dan tetap tersenyum dengan tabah Ia berkata ”Begitu rupanya. Kamu akan merayakan ulang tahunmu dengan Anin, itu bagus.”


Angga tampak tak enak hati, "kamu pasti sudah menantikan hari ini, maafkan aku.”


“Tidak perlu merasa bersalah padaku. Ini bukan masalah besar. Bersenang-senanglah dengan Anin.” Icha menerimanya dengan tersenyum.


Lalu Angga melangkah maju ke hadapan Icha. “ini kartumu. Pergi dan beli apapun yang kamu inginkan" Angga memberikan kartu kredit pada Icha.


“Terimakasih banyak, aku sangat senang. Jangan cemberut seperti itu. Cepatlah pergi.” Icha menyadari ekspresi tidak enak dari Angga.


“Kamu mau ke mana? Aku bisa mengantarmu.” jawab Angga


“Tidak apa apa. Aku akan berjalan-jalan dengan pangeran kecil. Pergilah lebih dulu.” Icha menerima kartunya dan menyuruh Angga pergi.


“Aku serius saat bilang kamu boleh membeli apapun.”


“Baiklah, aku tidak akan menahan diri.” Icha tertawa senang. Ia melihat sampai punggung Angga menghilang dari pintu. Tapi setelahnya Icha tampak kecewa dan sedih.


Saat Icha tengah berjalan-jalan. Reza melihatnya sedang mengamati sesuatu dengan gembira dan segera mendekatinya.


"Icha!" panggilnya.


Icha menoleh dan senang mendapati bertemu dengan Reza. Lalu Reza bertanya apa yang Icha lakukan. Icha berkata Ia hanya berjalan-jalan dan kembali membagi masalahnya dengan Reza. Dia benar-benar sudah nyaman bersama Reza.


“Begitu rupanya. Kamu tidak keberatan?” tanya Reza setelah Icha memberitahu masalahnya.


“Tentu tidak. Dia bisa merayakan ulang tahunnya dengan Anin. Menurutku itu lebih bagus.” Tutur Icha dengan raut wajah bahagia.


“Dia selalu membuatmu menderita.” Reza menatap Icha kasihan.


“Itu tidak benar. Dia sebenarnya sangat perhatian padaku.” Icha membela Angga


“Sebenarnya apa yang kamu pikirkan? Kamu ingin menghabiskan hari bersamanya, bukan?” Reza dapat melihat dengan jelas Icha berusaha menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya.

__ADS_1


“Ya. Tapi sepertinya aku tidak mendapat kesempatan. Setidaknya kuharap aku bisa memberinya hadiah ulang tahun. Sebenarnya aku membelikannya hadiah.” ujar Icha dan memperlihatkan hadiah itu.


“Kamu sudah berusaha keras. Begitu rupanya.” ujar Reza


“Aku menjual warisan keluarga yang diberikan ibuku dan membeli ini.”


“Kamu menjual benda sepenting itu?” Reza terkejut tapi Icha tak peduli dan kembali tersenyum.


“Apa kamu tahu dia pergi ke mana?” tanya Reza


“Apa?” Icha mencoba mengingatnya.


Saat ini Icha ditemani Reza mengendap-endap mengintai Angga dari luar Restoran.


“Aneh seharusnya dia sudah datang sekarang. Apa terjadi sesuatu kepada Anin” Icha bertanya-tanya karena Ia hanya melihat Angga tengah menunggu sendirian.


“Mungkin pertemuan mereka dibatalkan." jawab Reza


"Itu mustahil.” Icha berbalik badan dan mengahadap pada Reza.


“Icha ini kesempatanmu.” Reza menunjuk hadiah yang Icha persiapkan untuk Angga.


“Hah.” Icha malah kaget dan kemudian Ia sadar maksud dari Reza.


Icha menulis di sebuah kertas kecil "Selamat ulang tahun dari Anin"


Reza terheran-heran membaca tulisan Icha dan bertanya, Kenapa Icha tidak menulis namanya? Tapi Icha berkata Angga akan senang sekali jika menerima hadiah dari Anin. Ia melakukan itu untuk membuat Angga bahagia.


“Sampai sejauh mana kamu akan bersikap tanpa pamrih seperti ini?” Reza mengeluh tapi Icha tak peduli.


Angga di dalam restoran mencoba menghubungi Anin tapi nomornya tidak aktif. Angga mulai cemas karena Anin belum membaca pesannya.


“Apa aku ditinggalkan lagi?” pikirnya


Angga beranjak dari duduknya setelah menunggu cukup lama. Tapi saat mau pergi, Ia malah di kagetkan oleh kedatangan badut panda.


Badut panda itu menari nari di depannya dan memberi sebuah hadiah dan mengira itu adalah kejutan yang disiapkan oleh Anin.


“Apa ini kejutan dari Anin?” Angga tampak senang.


Badut itu adalah Icha. Lalu Icha memberikan catatan bertuliskan “Maaf ada urusan mendadak. Selamat ulang tahun dari Anin”


Angga kembali duduk, Ia terlihat tidak suka dengan kejutan ini. Menerima hadiah juga tidak ada gunanya jika orang yang ingin di temuinya tidak datang.


Lalu Angga teringat pada Icha “Sungguh memalukan. Hanya saat hal itu terjadi kepadamu. Kamu akan sepenuhnya mengerti. Kupikir uang bisa menyelesaikannya, tapi bukan itu yang dia inginkan. Mungkin sebaiknya aku minta maaf dan menemuinya.” Angga berkata pada dirinya sendiri. Ia merasa bersalah pada Icha.


Angga mencoba menelpon Icha. Tapi badut yang di depannya tampak gugup, tapi Angga tidak peduli.


Lalu Angga mencurigai badut di depannya yang bertingkah sangat aneh dan kemudian dia mendengar ponsel badut itu berbunyi saat Ia mencoba menghubungi Icha. Ia merogoh saku badut panda dan menemukan ponsel Icha di sana. Lalu Ia mengangkat kepala Panda dan terlihatlah sosok Icha.


“Sedang apa di sini?” Angga terkejut tak menduga bahwa badut ini adalah Icha.


“Aku ingin melihatmu bersenang-senang.” jawab Icha lemah


“Sayang sekali, aku ditinggalkan. Apa ini menyenangkan?” Angga tampak sedikit kesal dan kecewa.


“Aku yakin tidak seperti itu. Pasti telah terjadi sesuatu. Kamu menerima hadiah darinya. Bukalah cepat.” ujar Icha

__ADS_1


“Baiklah. Jangan cerewet." Angga membuka hadiahnya.


"Luar biasa. Kamu membutuhkan pena baru bukan? Ini seharusnya menjadi telepati antar kekasih. Selamat ulang tahun.” Icha bertepuk tangan dan heboh sendiri.


Angga menghentikannya “Baiklah aku mengerti. Terima kasih Icha"


Icha terlihat bahagia melihat Angga menerima hadiahnya dan tiba-tiba perutnya berbunyi.


“suara apa itu?” tanya Angga


“Itu perutku.” jawab Icha


“Hei apa kamu belum makan? pangeran kecil pasti kelaparan. Baiklah. Ayo makan makanan kesukaanmu"


“Tapi jika kita pergi sekarang, tidak ada kapal yang akan menyeberang”


“Tidak ada yang mustahil bagiku.”


Angga sepertinya memberi Icha kejutan. Dia menyuruh Icha menutup mata di depan pelabuhan. Icha membuka mata dan melihat kapal.


Tapi Icha benar, tidak ada kapal yang tersisa untuk membawa mereka menyeberang. Akhirnya mereka memutuskan untuk merayakan ulang tahun di restoran kecil dekat pelabuhan.


Di hadapan mereka sudah ada kue ulang tahun dan Angga menyalakan lilinnya.


“Sebelum meniup lilin ucapkan permohonan" ucap Icha dan Angga mengikutinya sambil mengatupkan kedua telapak tangan mengangkatnya ke atas dan memejamkan mata.


“Semoga Angga akan memaafkan Anin dan tidak pernah menghabiskan hari ulang tahunnya sendirian lagi.” Icha mengucapkan permohonannya.


“Jangan permohonanku. Permohonanmu sendiri.” Angga terdengar kesal saat mendengar permohonan Icha


“Semoga Angga dan orang orang-orang di sekitarnya selalu dipenuhi kebahagiaan.” Icha menggantinya tapi masih terdengar seperti permohonan Angga.


Angga makin kesal "sudah kubilang kamu harus membuat permohonanmu sendiri.”


“Itulah permohonanku. Apa itu aneh?” jawab Icha dan mereka saling menatap sebentar.


Kemudian Angga yang berdoa mengucapkan permohonannya mewakili Icha “Semoga Icha bisa menghabiskan ulang tahunnya dengan orang-orang tercinta. Semoga dia tidak akan dirundung lagi. Dan…”  Angga membuka mata untuk melihat Icha.


“semoga dia akan bertemu orang yang tulus mencintainya.” Angga melanjutkan permohonannya


Icha tersenyum mendengar doa Angga itu untuknya "Permohonanmu terlalu banyak.”


“Tidak apa apa. Kamu setidaknya pantas menerima permohonan itu. Semoga kamu selalu bahagia." ujar Angga


Icha memalingkan wajahnya dan meneteskan air mata haru. “Apa aku terlalu bahagia?”


“Dasar konyol! Kamu seharusnya tersenyum saat merasa bahagia" Angga memarahinya.


Icha meniup lilinnya dan berkata "Aku tidak pernah terpikir akan menemukan kebahagiaan selama aku berusaha. Entah bagaimana aku bisa menjadi gadis catatan tempel.”


“Perusahaan yang membuat catatan tempel menghasilkan banyak uang. Catatan tempel menjadi tak tergantikan. Berhentilah merendah.” Angga kembali mengomelinya


Tiba tiba neneknya datang menelepon. Neneknya menanyakan keberadaan Icha dan Angga berkata bahwa Icha bersamanya.


"Nenek khawatir. Kita harus pulang.” Angga mengajak Icha pulang.


”Aku menjadi tuan putri untuk hari ini. Itu sudah cukup bagiku. Tidak ada yang boleh tahu tentang perasaanku kepada Angga" Icha menyembunyikan perasaannya dan mengikuti Angga pulang.

__ADS_1


__ADS_2