Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran

Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran
Bab 10: gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran


__ADS_3

"eemmmm."


hanya itu, dan tidak ada kata lain lagi, tapi itu sudah cukup membuat faiz bernafas sangat lega.


Seperti orang yang baru mendapatkan hadiah, faiz langsung saja memeluk niah tanpa permisi.


"terima kasih banyak niah, kakak seneng banget." ucap faiz kegirangan, seperti anak yang baru mendapatkan hadiah dari ibunya.


"katakan, apa kamu butuh sesuatu, kakak akan sediakan untukmu." lagi, niah hanya tersenyum,


"niah katakanlah sesuatu, jangan diam saja." faiz sedikit hawatir, karena niah sejak tadi hanya diam saja.


"kak?, niah lapar, apa sekarang niah boleh makan," ucap niah dengan polosnya.


"haaaaa?, makan."


Niah mengangguk, dan memasang senyum semanis mungkin.


"emmm."


"tadi kakak sudah menyuruh pelayan mengantar makanan, Seharusnya sih mereka sudah datang, tunggulah di sini kakak akan melihat apa saja yang mereka lakukan, sehingga mereka begitu lama,"


Baru saja faiz membuka pintu, dua orang pelayan sudah berdiri di depan pintu dan bersiap ingin mengetuk pintu, untung saja mereka belum melakukannya, kalau tidak, pasti kedua pelayan itu suda mengetuk dada faiz, dan tentunya mereka pasti akan mendapatkan masalah.


"kalian dari mana saja, kenapa begitu lama kalian mengantar makanan!,"


"Tuan saya tadi baru di beritahu pak madi jika bapak menyuruh kami mengantar makanan," jelas salah satu pelayan itu sambil membungkukkan badannya.


"baru di beritahu?,"


" iya tuan."


"apa yang di lakukan pak madi, sehingga dia mengabaikan tugas yang saya berikan, apa dia sudah bosan bekerja disini, sehingga dia tidak perduli dengan perintah saya,"


Faiz begitu kesal, karena salah satu anak buahnya mengabaikan perintahnya, niah yang hanya diam sejak tadi mencoba untuk berdiri, tapi Bukannya berdiri, niah justru terjatuh dan membuat kegaduhan di dalam kamar.


Faiz berbalik dan melihat niah sudah berada di lantai, faiz berlari menghampiri niah dan mengangkatnya naik di atas tempat tidur, kedua pelayan itu pun saling pandang, karena, tuan yang selama ini mereka kenal, tidak pernah memperdulikan orang lain.


jangankan orang lain, pada keluarganya sendiri saja, tuan mereka jarang perduli, apa lagi kepada orang yang bekerja di rumah ini, tentu tuan mereka tidak pernah perduli, tapi, untuk orang asing,yang datangnya entah darimana, bisa membuat tuan mereka merasa hawatir.


"niah apa yang kamu lakukan, kenapa tidak memanggil kakak, jika kamu membutuhkan sesuatu, tunggu sebentar, kakak periksa dulu." nada bicara faiz sangat lembut, membuat kedua pelayan itu melongok.


Jelas saja, karena tuan mereka tidak pernah bersikap manis kepada siapapun, tuan yang mereka kenal hanya bisa memberi perintah, marah-marah nggak jelas, dan tidak suka di bantah, bahkan nyonya besarpun tidak bisa menangani sikap putra sulungnya jika sedang kumat.


Tapi di depan niah, tuan mereka seperti seekor kucing yang menurut dengan majikannya, itu terlihat jelas dari cara tuan mereka yang merasa hawatir saat niah terjatuh.


"syukurlah tidak ada yang luka, duduk di sini biar kakak yang ambilkan makanan untukmu,"

__ADS_1


"eemm."


Faiz berbalik dan mendapati kedua pelayannya yang melihatnya tanpa berkedip.


"kenapa diam saja, letakkan makanannya di atas meja, jika suda kalian bisa pergi,"


"baik tuan."


Sebelum pelayan itu menutup pintu, faiz memanggilnya.


"tunggu."


Pelayan itu kembali melongok kan kepalanya dan menghadap tuannya.


"iya ada apa tuan."ucap pelayan itu sedikit takut.


"katakan pada semua penjaga dan pelayan, jika ingin masuk ke kamar saya, ataupun kamar ini, ketuk pintunya dulu, jika kalian sampai lupa mengetuk pintu, saya akan potong gaji kalian selama tiga bulan."


"hhhaaaaa."


"ada apa, apa masih kurang, kalau gitu saya potong selama setahun." jelas faiz sedikit menahan tawanya karena melihat ekspresi kedua pelayan.


"ti...tidak tidak tuan, tiga bulan saja potong gajinya kalau kami sampai lupa mengetuk pintu."


"bagus, kalau begitu kalian bisa pergi."jelas faiz sambil berlalu pergi mengambil makanan untuk niah.


Faiz kembali dan duduk di tepi tempat tidur, dengan sepiring nasi dan lauk pauk.


"niah sekarang kamu makan dulu, biar kamu cepat sembuh."


"kak faiz tidak makan,? Temenin niah makan ya, nggak enak makan sambil di liatin gitu," niah mengambil satu piring lagi untuk faiz. Lalu mengisinya dengan nasi dan lauk pauk, seperti yang di lakukan faiz.


"baiklah, kakak akan makan." kata faiz menerima sepiring nasi dari niah.


"oh iya kak, belanjaan niah di mana?,"


"oh itu ada di kamar kakak, nanti kakak ambilkan, kamu makan saja dulu."


"iya kak, kalau bisa tolong bawakan baju serta daleman, karena niah mau mandi." niah sedikit malu, karena barang yang dia minta adalah perlengkapan wanita.


"ya allah kenapa niah harus lumpuh sih, niah kan jadi malu meminta kak faiz mengambil barang yang niah butuhkan, apa lagi barang itu merupakan barang pribadi wanita, benar-benar sangat memalukan." batin raniah.


Faiz sedikit tersenyum mendengar apa yang di pikirkan niah, tapi dia tetap berusaha untuk tidak tertawa, faiz tau jika niah sedang menahan malu.


Faiz sudah selesai, dan meletakkan sendok nya, dan membersihkan sisa makanan di bibirnya dengan tisu, tak lupa dia meminum segelas air putih, dan beranjak untuk berdiri.


"tunggulah di sini, lima menit lagi kakak akan kembali,"

__ADS_1


"eemmm."


"ingat!, jangan kemana-mana, kakak perginya cuman sebentar, pastikan kamu tetap di sini ya."


"iya kak faiz, niah akan tetap di sini, lagian niah mau kemana dalam keadaan seperti ini,"


"heemmm...benar juga, ya suda, tunggu sebentar ya."


"iya,"


Faiz keluar menuju kamarnya untuk mengambil barang niah, setelah menemukan apa yang dia cari, faiz kembali ke kamar niah.


"ini barang yang kamu minta,"


niah mengambil sepasang baju ganti, dan meletakkan di pangkuannya, faiz hanya diam saja melihat apa yang di lakukan niah, niah kemudian mendorong kursi rodanya, tapi malah di hentikan oleh faiz.


niah melihat dan menautkan kedua alisnya.


"ada apa kak.?"


"mau kemana kamu.?"


"niah mau mandilah kak, kakak tidak lihat, niah mau ke kamar mandi."


"kakak tau kamu nau mandi, tapi niah,! bagaimana kamu bisa mandi jika kamu tidak bisa berdiri "


"lalu niah harus gimana,?" niah sedikit murung dan faiz tidak suka itu.


"biar kakak membantumu untuk mandi."jelas faiz tanpa melihat niah yang terkejut.


"hhhaaaa....mana bisa seperti itu kak, kita kan bukan suami istri, biar niah mandi sendiri saja ya." mohon raniah pada faiz, agar tidak ikut ke dalan kamar mandi.


"kalau kamu terjatuh bagai mana,?"


"niah akan hati-hati,!"


"niah jangan keras kepala, kakak itu hanya menghawatirkan mu, jadi berhentilah berpikir yang aneh aneh." faiz sedikit berteriak, agar niah mau di bantu faiz untuk mandi.


Faiz sadar, dia sudah sedikit kasar pada niah, faiz kembali mengatur emosinya, dan menyentuh kepala niah.


"biar kakak bantu ya, kakak janji, akan bantu seperlunya saja," jelas faiz sedikit lembut.


Faiz lalu mendorong kursi niah masuk ke kamar mandi, niah tidak menolak ataupun marah, tapi tidak apa, setidaknya niah tidak harus mandi sendiri.


Di kamar mandi, faiz mengisi bak mandi dengan air dingin, lalu menghangatkannya dengan tombol otomatis yang sudah tersedia.


Setelah cukup hangat, tombol di matikan, lalu faiz menggendong niah dan meletakkannya ke dalan bak mandi yang berisi dengan air hangat.

__ADS_1


"mandilah, jika sudah selesai, buka penutup lobang bak mandinya, agar semua airnya terbuang, jika airnya sudah habis, keringkan badanmu lalu pakai bajumu, jika kamu sudah selesai, panggil kakak saja, kakak akan menunggumu di luar, ok?, ingat!, jangan mencoba untuk berdiri, apa lagi duduk di kursi roda tanpa ada yang membantu, mengerti?"


__ADS_2