
"aku bilang matiin nggak?"
"kalau aku nggak mau kakak mau ngapain?" tanya wira malah menantang ku, lama-lama nyeselin juga nih anak.
"dengar? ini sudah tengah malam,! tolong jangan mengajak aku ribut gara-gara sebatang rokok, lagian kamu itu dokter kan, kamu juga pasti sudah tau jika asap rokok tidak baik untuk ibu hamil, apa lagi aku tidak suka bau rokok, jadi tolong buang saja ketempat sampah." ucapku berjalan ke arahnya dan mengambil benda menyebalkan itu lalu memasukannya di tong sampah.
Wira hanya cemberut dengan melipat kedua tangannya di depan dada.
Ku tinggalkan wira yang sedang merengut dan kembali ketempat tidur,
"tidurlah dan jangan berulah, jika kamu merokok lagi akan ku pastikan besok aku tidak akan di sini lagi." ucapku lalu berbaring membelakanginya yang ikut berbaring di atas sofa.
Pagi ini aku bangun agak siang setelah bangun sholat subuh, mungkin karena aku tidur kemalaman jadi bangun kesiangan.
Wira sudah tidak ada di sofa, ah...mungkin anak itu sudah berangkat ke rumah sakit tanpa membangunkan ku.
Aku bangkit dari pembaringan dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri karena subuh tadi aku sudah mandi, lalu keluar lagi dan merapikan tempat tidur dan juga selimut yang di gunakan wira semalam.
"Kasihan juga wira? gara-gara ada aku dia jadi tidur di sofa, tapi biarlah? Toh dia sendiri yang bawa aku kesini." gumam ku berbicara sendiri.
"pagi kak?" sapa wira yang tiba-tiba muncul di pintu dan menenteng sesuatu di tangannya.
"loh wira kamu nggak ke rumah sakit?" tanya ku berjalan menghampirinya.
"hari ini aku cuti, aku pengen nemenin kakak di sini"
Ah manis sekali adik ipar ku ini, andai dia mas faiz betapa bahagianya aku bisa bercanda gurau dengannya,
Ya allah kenapa baru sekarang aku merasakan sakitnya, kemarin-kemarin ku rasa aku baik-baik saja.
Mas faiz dan wira jika di rumah mereka mempunyai keperibadian yang sama, sementara jika di luar rumah wirah akan tetap sama sedangkan mas faiz berubah menjadi gunung es yang sangat membeku.
__ADS_1
Wira masuk menuju meja makan meletakkan kresek itu dan mengambil piring lalu menuangnya kedalam piring.
"ini apa wir? Tanya ku menunjuk ke arah makanan yang di letakkan wira di atas meja.
"itu makanan kak?" jawab wira enteng, entah kenapa wira senang sekali membuat ku kesal.
"memang siapa yang bilang itu kotoran" kesal ku meninggalkan Wira di meja maka, Menuju sofa yang tidak jauh dari tempat tidur.
Aku heran semenjak aku kembali dari kampung, aku lebih sering bertengkar dengan wira, yang lebih parahnya lagi aku sama sekali tidak teringat dengan masalah ku dengan mas faiz.
Ku amati wira yang berjalan ke arahku, aku baru sadar jika dia juga ganteng seperti mas faiz.
"Kenapa baru sekarang aku tau jika pria bengek ini tak kalah gantengnya dengan mas faiz." gumam ku menelen kan kepala ku.
"eh? Ngapain kaya gitu kak? Serius banget kakak lihatin aku, tenang? aku tau kok kalau aku ganteng tapi nggak usah lihatin aku seperti itu juga, kalau suka bagaimana? Aku nggak mau loh di sangka nikung kakak sendiri "
Ku layangkan batal kecil di sofa hingga mengenai wajahnya.
"aduh...? bu mil kok galak banget si,! Aku kan cuman sekedar mengingatkan, kenapa justru mala ngamuk."
"sudah jangan marah lagi, aku minta maaf jika aku terus mengganggu dan membuat kakak kesal selama kakak tinggal dengan ku di apartemen ini." ucap wira meletakkan sepiring spageti ke sukaan ku.
"tidak wira? Justru aku sangat berterimakasih atas bantuan kamu, dengan adanya kamu aku tidak perlu takut lagi dan bingung bagaimana caranya aku memulai hidup baru,"
"kak? Apa kak niah akan benar-benar pisah dengan kak faiz, apa kak niah tidak ingin berjuang demi anak yang kak niah kandung,"
Mataku hanya mampu berkaca-kaca mendengar ucapan wira, rasanya miris sekali ke adaan ku ini, bagaimana aku mengejar mas faiz, jika mas faiz sendiri tidak menginginkan hubungan apapun dengan ku, jadi apa salah jika aku lebih memilih untuk mundur.
Sejak dari awal mas faiz tidak menginginkan kehadiran aku yang otomatis dia secara tidak langsung menolak anak ini,"
"ya sudah makanlah, tadi sengaja aku beli untuk kak niah supaya bisa istirahat lagi"
__ADS_1
"Terimakasih sudah memanjakan ku tapi jika boleh aku mau jalan-jalan sebentar mumpung masih pagi,"
"baiklah akan aku temani, tapi hanya sebentar saja ya soalnya kak niah masih dalam pemulihan." jelas wira mengijinkan ku, lalu menggandeng tanganku untuk keluar apartemen setelah aku menghabis kan spagety yang dia beli tadi.
Setelah sampai di lantai bawah aku langsung berlari ke arah mobil,
"kita ke pantai yuk wir? Kakak kangen dengan suara debur ombak." kata ku duduk dan menunggu pria ganteng itu masuk ke dalam mobil.
"ingat ya kak jangan jauh-jauh kalau kita sampai di pantai nanti" ucap wira mengingatkan.
Hanya butuh beberapa menit mobil pun sudah terparkir di di pinggir pantai.
"ayo turun, kak niah pasti akan senang sebab kebetulan hari ini hari minggu jadi banyak pengujung yang masih berdatangan."
Baru saja turun dari mobil aku sudah berlari ke pesisiran pantai.
"haaaaa!......?" jeritku sambil berlarian seperti anak kecil.
"eh kak ngapain si teriak-teriak kaya gitu nanti masuk angin loh." ucap wira lalu melepaskn jaket putihnya dan memakaikannya pada ku.
Beruntung banget punya adik ipar seperti wira, selain sangat menajaga kesehatan ku, dia juga tau caranya untuk menjaga ku.
Aku kembali berlarian meninggal kan wira yang terdengar memanggil ku, hingga aku menjerit kesakitan karena kaki ku yang tergores pecahan beling.
"aaakkkgg.." jerit ku tertahan saat aku melihat darah merebes di kaki ku.
"kak niah? Tenang lah, ayo kita ke mobil dulu,"
Sesampainya di mobil wira langsung mencabut sisah beling di kaki ku lalu membersihkan dengan alkohol, setelah itu memasang perban hingga tertutup rapat.
Wira menatap ku penuh dengan intimidasi, aku tau aku salah dan aku pasrah jika harus kena marah oleh wira.
__ADS_1
"lihat? Ini hasilnya jika kak niah tidak mendengar ku, sekarang siapa yang sakit? Kak niah kan,! Dan siapa yang ngerasain, ya kak niah juga, jadi lain kali jangan keras kepala jika di beritahu biar kak niah tidak rugi dan tidak cederah seperti ini,"
Aku hanya diam seribu bahasa dan tidak mau mendebat wira, baru kali ini juga aku melihat wira terlihat sangat kesal sekaligus hawatir.