
"niah coba lihat di sana? Sepertinya baju itu cocok untuk kamu, ayo kita coba lihat kamu pasti tambah cantik jika memakai itu,!" kata bu ranti menarik tangan rania dan rania juga hanya ikut saja tanpa banyak membantah.
"lihat bukankah ini sangat cantik" bu ranti menempelkan dress berwarna tosca pada tubuh rania sambil memperhatikan ukuran bajunya.
"bu apa ini tidak terlalu terbuka, niah takut jika mas faiz tidak akan suka bu," keluh rania pada sang ibu.
"nak kamu memang sudah menikah, tapi untuk mempertahankan pernikahan itu perlu perjuangan, sana pakai bajunya jika faiz marah ibu yang akan bertanggung jawab?"
Dengan perasaan terpaksa rania mencoba beberapa baju yang cocok untuknya,
Saat rania keluar dari ruang ganti, ada pelayan yang sepertinya kurang suka dengan rania, pelayan itu bahkan sengaja membuat rania terjatuh hingga semua baju dan beberapa pakaian dalam seperti beha dan ****** ***** semuanya berterbangan entah kemana.
Tapi ada satu yang membuat tawa pengunjung seketika pecah, ya salah satu pakaian dalam yang dipilih raniah mendarat tepat di bahu seorang pria,
Wajah yang merah padam dengan gigi yang bergeletuk seperti sudah siap akan menerkam mangsanya. Rania dengan susah paya menelan ludahnya, karena pria itu tak lain ada faiz.
Tadi faiz memang berkata akan menyusul, namun siapa yang menyangka jika dia muncul di waktu yang salah menurut rania.
Dengan hati-hati rania berdiri dan mengambil beha serta ****** ***** yang menggantung di leher suaminya,
Meski tangannya bergetar dia tetap harus mengambil benda yang memalukan itu? Rania tidak mungkin membiarkan suaminya jadi bahan tertawahan orang-orang yang melihat kejadian itu.
Sejak tadi faiz tidak bergerak sama sekali dia seperti patung yang di poles dengan sedemikian sempurna, dengan pahatan wajah yang tampan mampu membuat para wanita berebut ingin mengait hatinya,
Pelayan yang tadi membuat rania terjatuh, berjalan mendekati faiz, dia tidak tau jika rania sedang terbakar api cemburu.
"pak saya minta maaf atas ketidak nyamanan bapak," ucap pelayan itu pura-pura menyesal.
"aku harus memanfaatkan situasi ini, siapa yang tau jika pria tampan ini bisa terpikat olehku, hhhhh"
"dasar wanita edan, tidak tau apa jika wanita yang dia jatuhkan dengan sengaja adalah istriku, lihat saja akan ku buat dia panas dingin atas perlakuannya pada rania,! "
Faiz mendekati rania lalu memeluknya hingga pelayan itu beberapa kali mengucek matanya berharap dia hanya salah lihat saja.
"sayang apa kamu baik-baik saja? Apa ada yang sakit hem, duduklah biar mas ambil barang-barang kamu dulu," ucap faiz membuat rania sedikit tercengang.
__ADS_1
"sa...sayang?"
"ada apa? Apa kamu keberatan jika suamiku memanggilku sayang,!" ucap rania bersidekap tangan pada pelayan itu.
"su...suami?" ucap pelayan itu lagi dengan gelagapan.
"sialan rupanya wanita kampungan ini istrinya pak faiz, sayang ya, pangeran malah menikah dengan sih buruk rupa,"
"apa yang dia maksud si buruk rupa itu adalah istriku," batin faiz melihat pelayan itu dengan tatapan tidak suka
"sepertinya sih buruk rupa perlu di poles agar dia terlihat seperti putri tidur yang cantik dan aku akan memberikan ciuman yang manis untuk membangunkannya hem, bagai mana menurut kamu sayang apa kamu setuju?"
"mas? Apa yang kamu maksud? Si buruk rupa,! Putri tidur,! Apa semua itu? Pegang ini aku masih harus mencari pakaian untukmu" ucap rania pura-pura tidak mengerti maksud dari ucapan suaminya.
"pakaian untukku?"
"apa dia tidak tau jika aku sedang menggodanya dan membuat pelayanan itu sadar siapa dia untuku?" batin faiz mengekor di belakang rania dengan menenteng belenjaan dengan sekian banyaknya.
"apa mas tidak ingin bulan madu? Kitakan baru menikah, aku tidak mau yah mas, baru menikah tapi mas sudah kembali berkutat dengan tumpukan kertas di kantor,"
"iya? Mas tidak mau ya,!"
"tentu saja aku mau, lagi pula mana bisa aku menolak permintaanmu,"
Pelayan yang tadi masih terus mengikuti rania, sesekali dia mencuri pandang kepada faiz, untung faiz tidak perduli membuat pelayan itu semakin kesal karena merasa di abaikan.
"memang kamu mau bulan madu di mana,? Apa kamu sudah memikirkannya,!" tanya faiz terlihat sangat senang karena rania mengajaknya bulan madu.
"mas,! Kita bicarakan di rumah saja ya, soalnya aku masih mau belanja,"
"rania ayo kita cari makan dulu ibu sudah sangat lapar" bu ranti yang sudah selesai menghampiri rania dan mengajaknya untuk makan siang.
"ibu beli apa saja?" tanya faiz mengintip ke kantong belanjaan ibunya.
"bukan apa-apa,! Ayo cepat sedikit nanti ibu pingsan di sini"
__ADS_1
setelah cukup lama mereka berkeliling akhirnya usai juga Acara belanjanya, setelah mereka makan siang, faiz meminta ibunya pulang bersama dengan sopir, sementara rania akan pulang dengan faiz.
"ok gadis-gadisku waktunya kita pulang, tapi ibu pulang sendiri dengan sopir ya, aku akan pulang bersama menantu ibu yang sangat cantik ini,"
"ai? Kenapa ibu mala pulang sendirian, memangnya kalian mau kemana?" tanya bu ranti sedikit bingung.
"ibu aku hanya ingin jalan-jalan sebentar dengan rania, ibu pulanglah lebih dulu dan jangan lupa minum obatnya,"
"ya sudah kalian hati-hati saja ibu pulang dulu"
setelah mobil yang membawa bu ranti hilang di keramaian kendaraan , faiz mengajak rania kembali ke mall.
"ayo?"
"kemana mas?" tanya rania mengekori suaminya.
"kembali mall, mas ingin membeli sesuatu?"
"Kenapa tidak beli dari tadi mas,? bukankah tadi kita cukup lama di dalam sana" ucap rania menunjuk pusat belanjaan itu yang baru beberapa menit yang lalu baru saja dia tinggalkan.
Rania merasa sangat lelah dan ingin segera pulang namun. Baru saja keluar dari pusat perbelanjaan kini dia harus kembali lagi mengikuti keinginan suaminya.
"tadi ibu yang mengajak, sekarang gantian mas faiz, hemmm kakiku rasanya mau patah,! apa karena aku tidak terbiasa berkeliling di gedung sebesar ini ya? Ibu saja yang sudah tua tidak mengeluh sama sekali, itu pasti karena ibu sudah terbiasa, berbeda denganku, baru jalan sebentar saja, tapi badan serasa remuk semua, mas faiz tidak bisakah kamu berinisiatif menggendong ku, aku sangt lelah tau?"
Setelah bergelayut manja dengan pikirannya, raniah di kagetkan faiz yang tiba-tiba jongkok di depannya, rania menggaruk tengkuknya yang tidak gatal berpikir apa yang akan di lakukan suaminya.
"ayo naik?"
"aku?" tunjuk rania pada dirinya.
"siapa lagi,! Ayo cepat naik,"
Dengan perasaan bingung, rania naik di punggu faiz, sebenarnya rania malu jadi pusat perhatian orang, tapi kakinya memang sudah terasa keram karena berjalan terlalu lama, faiz maniki tangga eskalator sambil menggendong rania di belakangnya,
Sungguh? pemandangan itu benar-benar membuat para wanita merasa iri, mana ada pria romantis mau menggendong wanita di tenga keramaian seperti itu jika itu bukan faiz Dirgantara.
__ADS_1