Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran

Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran
Bab 39" gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran


__ADS_3

"tentu saja nak ibu mengerti maksud kamu, kalau begitu hubungi faiz lalu bersiaplah, ibu ke kamar dulu untuk bersiap juga,"


"iya bu? Jawab rania dan kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian.


Setelah selesai rania baru sadar jika dia tidak punya ponsel, dia bingung dan berlari ke kamar ibu mertuanya.


"tok..tok...tok? Bu..."


"apa itu rania? Kenapa dia kemari apa dia sudah selesai" ucap bu ranti berjalan ke arah pintu karena dia jiga selesai bersiap-siap.


"niah sayang cepat sekali kamu bersiap-siap," tanya bu ranti keluar dari kamarnya.


"bu niah belum menghubungi mas faiz, niah baru ingat jika niah tidak punya ponsel" jawab rania sedikit menundukkan kepalanya.


"sudahlah biar ibu yang menghubungi faiz," ucap bu ranti lagi lalu merogoh tasnya mencari ponselnya.


Setelah ketemu bu ranti menekan nomor yang tertera nama faiz.


Di kantor faiz sedang memeriksa berkas-berkas untuk keperluan miting, dering ponsel mengalihkan perhatiannya, dia meletakan berkas yang di tangannya dan mengambil benda yang berbunyi sejak tadi.


"siapa yang...,! Ibu? Ada apa ibu menelponku, apa terjadi sesuatu pada rania,"


Faiz segera menekan tombol hijau karena yang menelpon adalah ibu.


"Assalamu'alaikum bu ada apa? Apa semuanya baik-baik saja," jawab faiz saat sambungan telpon terhubung.


"Walaikumsalam? Faiz ibu sama rania mau ke mall,?" ucap bu ranti di sebrang telpon.


"lah ngapain ngomong sama aku, biasanya juga mama langsung pergi,?" jawab faiz membuat ibunya berdecak kesal padanya.


"ya biasanya memang seperti itu,! Tapi rania mau ijin dulu sama kamu, karena biar bagaimanapun dia sudah punya suami yang harus tau kemana dia akan pergi,"


Faiz mangguk-mangguk. Sambil memainkan pulpen di tangannya.

__ADS_1


"hemm bijak sekali istriku itu, baiklah bu, pergilah bersama rania, katakan aku mengizinkan dia pergi, nanti aku akan menyusul juga jika aku sudah selesai miting di kantor" ucap faiz sambil merapikan beberapa fael yang tersisa.


"baiklah ibu tutup dulu Assalamu'alaikum"


"Walaikumsalam bu" jawab faiz,


"bagaimana bu? Mas faiz bilang apa? Apa aku boleh pergi,!" tanya rania dengan penuh harap.


"tentu saja sayang, bahkan faiz bilang ingin menyusul juga jika urusan kantor sudah selesai,"


"sungguh bu?" rania masih tidak percaya karena sejak kemarin rania ada di rumah Dirgantara faiz selalu melarangnya melakukan ini dan itu, jika setiap hari faiz selalu memberi izin kemanapun dia akan pergi bukankah itu sangat menyenangkan.


"sudah? Yang pasti ibu sudah bertanya padanya jika kita akan pergi, nanti kamu juga beli ponsel agar kamu bisa menghubungi faiz kapanpun kamu mau, entah kenapa faiz tidak kepikiran membeli ponsel untukmu,"


"wajar saja bu,! Kita kan baru menikah, mungkin mas faiz akan beli nanti saat dia mau menghubungi ku tapi tidak bisa?" jawab rania sekenanya sambil terkekeh kecil membuat bu ranti juga ikut tertawa.


"hhhhh...dia pasti akan mengumpat dirinya sendiri"


Di tenga kehangatan rania dan ibu mertua, di rumah sakit wira memasuki pekarangan rumah sakit, setelah memarkirkan mobil wira keluar dan langsung menuju keruangan di mana renata sedang di rawat. pelan-pelan wira membuka pintu sambil mengembulkan kepalanya hanya sedikit saja, benar saja renata masih tertidur, entahlah dia tertidur apa memang dia belum sadar dari semalam, ya setidaknya itu yang di pikir wira.


"ada apa dengannya? Seharusnya dia sudah sadar dari semalam, karena ku lihat kondisinya sudah lebih baik saat aku tinggalkan" batin wira masih sibuk memeriksa denyut nadi dan jantung Renata.


"haam?..syukurlah masih baik-baik saja, kupikir...?"


"kamu pikir apa?" tanya Renata tiba-tiba membuat wira sedikit terkejut.


"hai...kamu sudah sadar rupanya, bagaimana,! Apa ada keluhan,? mungkin ada yang sakit atau lain sebagainya gitu," tanya wira menatap Renata dengan lekat.


"buruk sekali? Menyikirlah dari hadapan ku, wajahmu sama sekali tidak memberi efek apapun," ketus Renata sambil mencoba bangun dari tidurnya namun karena kondisinya yang masih sangat lemah dia terbaring kembali dan hampir terjatuh jika wira tidak cekatan menangkapnya.


"hati-hati jika bergerak, kau bisa berguling di bawah sana jika aku tidak menangkapmu"


"lepaskan? Aku tidak butuh bantuanmu, mau jatuh atau tidak itu bukan urusanmu?"

__ADS_1


Wira melotot tidak percaya jika Renata bisa berubah sesuka hatinya.


"bagaimana tidak jadi urusanku, jika kamu celaka bukankah aku yang harus mengurusmu,"


" kalau begitu aku akan pulang agar kamu tidak mengurusku,"


"arrrkgg? He gadis keras kepala? Apa kamu ingin semua orang mencapku sebagai dokter yang tidak bertanggung jawab karena membiarkanmu pulang dalam keadaan tidak sehat,"


"lihat dirimu, berdiri saja kamu tidak mampu,? tapi kenapa kamu tidak bisa berkompromi dengan keadaan kamu sendiri,! setidaknya biarkan tubuhmu sehat baru kamu marah-marah nggak jelas lagi."


Renata menahan nafasnya yang memburu, dia tidak tau harus bersikap seperti apa? Yang dia pikir bagaimana melalui hari ini tanpa ada rasa hawatir.


cuaca yang tadinya mencekam tiba-tiba berubah menjadi mendung, wira paham sebentar lagi akan turun hujan, dan benar saja pada akhirnya runtuh juga Pertahanan renata,


"hiks..hiks..hiks?" tangis Renata terdengar sangat memilukan di telinga wira, wira ingin memeluk Renata, tapi wira takut di depak oleh renata, jadi terpaksa dia hanya diam saja sambil menunggu Renata lebih tenang.


"sayang lihat apa yang...?" pak adi yang baru datang membawa buah-buahan terdiam saat melihat putrinya menangis, dia memindai menatap wira yang sama dengannya hanya terdiam saja.


"sayang ada apa? Kenapa kamu menangis,! Apa ada yang sakit hem" pak adi merengkuh tubuh putrinya hingga renata terguguh di pelikan sang ayah.


"ayah aku sangat lelah, bisakah ayah membawa semua beban ini ketempat yang lain," ucap Renata yang masih terus menangis.


Pak adi mengusap wajahnya dengan kasar, terlihat jelas kekawatiran di wajahnya,


"nak ayah akan berusaha sebaik mungkin memperbaiki semua apa yang telah hancur, tapi ayah minta maaf, karena ayah tidak bisa menjanjikan apapun, ayah hanya bisa berusaha sebisa dan semampu ayah,"


renata mendongakkan kepalanya menatap ayah yang selama ini dia benci, Renata kembali menangis setelah bayang-bayang kelakuannya pada ayahnya berputar kembali di otaknya.


"maaf..hiks...hiks..? Rena tidak bisa jaga diri yah, maaf rena melukai ayah,"


"sudahlah nak, biarlah semua berjalan dengan semestinya, berhentilah menangis nanti kepalamu sakit,!"


"nak wira bagaimana dengan keadaan anak saya, apa dia sudah bisa pulang" tanya pak adi pada wira,

__ADS_1


"hari ini renata juga sudah bisa pulang pak, saya akan memberi beberapa resep obat untuk renata agar dia cepat pulih," jawab wira dan tersenyum ramah pada pak adi.


__ADS_2