
Aku berlari kecil hingga mas faiz tertinggal di belakang, ku ambil beberapa baju yang terlihat bagus menurutku.
"wha...cantik sekali, mas? Coba sini deh, menurut mas mana yang lebih bagus," tanyaku sedikit berteriak namun tak kunjung dapat jawaban.
"ai? Kemana orang itu? Bukankah tadi di belakangku,"
Ku gantung kembali daster yang sempat ku pilih dan mencari kemana hilangnya si burung gagak.
"sayang lihat bagus nggak."
Langkahku terhenti mendengar suara mas faiz, tapi saat ku temukan dia di mana, mataku membulat sempurna, bagaimana tidak, jika ceo di perusahan Dirgantara sedang berdiri menenteng dua bikini wanita di tangannya.
"untuk siapa bikini ini," tanyaku saat sudah di depannya.
Sepertinya kejadian beberapa waktu lalu memberikan efek positif pada mas faiz, nyatanya sekarang dia tidak malu lagi menyentuh barang wanita di tempat terbuka seperti ini.
"untuk kamu, kamu bisa memakainya saat kita bulan madu, atau pakai nanti juga boleh" ucapnya mengangkat bikini itu setinggi badanku.
"beli ya beli aja mas,! Tapi nggak usah di angkat setinggi ini, niah malu tau,"
"hehe...maaf? Tapi ini bagus kan, mas akan beli banyak, agar kamu bisa pakai buat di rumah dan buat bulan madu juga."
"heemm..terserah mas deh, kalau sudah selesai bantuin niah milih baju buat bibi juga ya, dari tadi di panggilin mas malah di sini."
"iya iya, tapi mas bayar dulu, nanti di kirain maling lagi."
"mana ada maling seganteng kamu mas,?" gumamku pergi tanpa menunggu mas faiz masih memilih bikini untuk ku.
"ini mba belanjaan saya, tolong di hitung dulu ya, saya hubungi suami saya dulu,"
"iya mba?" jawab pelayan itu menghitung belanjaanku satu persatu.
"mas kamu di mana? Aku audah selesai, kamu kesini ya, bayarin belanjaannya,?" ucapku saat sambungan telpon terhubung.
"tunggu sebentar mas kesitu sekarang." jawab mas faiz lalu mematikan telpon.
"mba totalnya berapa" tanyaku pada pelayan itu.
__ADS_1
"total keseluruhan semuanya ada delapan juta tiga ratus delapan puluh ribu mba?" ucap pelayan itu menyerahkan total belanjaanku.
"tunggu sebentar ya mba, saya tunggu suami saya dulu."
"kalau enggak punya uang ya enggak usah belanja kali mba, malu sama orang udah belanja segini banyaknya eh malah enggak jadi belinya."
Ku letakan kembali belanjaanku, kesal juga di plototin pelayan tokoh ini.
"maaf mba, perasaan belum juga semenit sayang bilang tunggu suami saya, kenapa mbanya malah ngomong enggak enak gitu?" ucap ku menunjuk tetap di wajah pelayan itu, enak saja ngatain saya.
"ada apa sayang,?" aku berbalik saat ku dengar suara mas faiz.
Melihat dari tampangnya, sepertinya pelayan itu sudah tau siapa pria yang ku tunggu sejak tadi.
"ini loh mas,! Katanya kalau aku engga punya uang aku enggak di bolehin belanja sama dia, pada hal aku sudah bilang mau nungguin mas dulu baru aku bayar, belanjaan ku pun aku letakkan lagi karena dia sempat marah-marah."
Pelayan itu semakin menciut saat
Mas faiz menatap tak suka padanya, ku ambil belanjaan ku kembali setelah mas faiz sudah membayarnya.
"makanya mba,! Kalau kerja itu, jangan memandang orang dari segi penampilannya saja, kena mental jugakan jadinya."
"mas tadi aku juga membeli sesuatu untuk ibu, semoga saja ibu akan suka." ucapku saat sudah di dalam mobil.
"kamu beli apa buat ibu"tanya mas faiz masih tetap fokus ke jalan.
"bukan apa-apa mas,! Itu hanya alat pemijat kaki untuk usia lanjut seperti ibu," kataku melempar senyum pada suamiku.
"wah...ibu pasti suka itu, Ngomong-ngomong mas juga boleh coba Enggak?"
"ooh...bole kok mas, tapi izin dulu sama ibu,."
Mas faiz hanya nyengir kuda, memperlihatkan gigi putihnya yang rapih.
Setelah beberapa menit akhirnya sampai juga di rumah, aku turun lebih dulu saat mobil sudah di parkiran, ku mas faiz mengeluarkan belanjaanku lalu membawanya ruang tamu.
"niah kamu bawa apa?" tanya ibu melihat ku menenteng banyak belanjaan bersama mas faiz.
__ADS_1
"ini bu rencananya besok niah sama mas faiz mau ke kampung selama tiga hari, dan ini semua oleh-oleh yang akan niah bawa buat bibi, kami baru bilang soalnya baru tadi pagi kami berencana untuk berangkat." jelas ku panjang kali lebar lalu meletakkan barang belanjaanku di atas meja.
"berarti ibu sendiri dong,?" ucap ibu memajukan bibirnya beberapa senti kedepan.
"kayanya sih gitu bu, soalnya wira juga minta ikut sama kita." jawab mas faiz ikut nimbrung seperti ibu-ibu.
"kalian tidak mau ngajak ibu, ibu sendirian loh di rumah?" keluh ibu memasang wajah sedih."
"jika ibu ikut, ibu pasti capek di jalan, apa lagi perjalanan ke kampung tidak seperti perjalanan keluar negri bu," ucapku dan di angguki mas faiz.
"itu cuman masalah perjalanan kok ibu tidak boleh ikut, lagian ibu tidak akan minta gendong kalau ibu capek, pokoknya ibu mau ikut juga, udah lama juga nggak menghirup udara segar dari kampung."
Ku hela safasku, ibu tidak akan mau ngalah jika di ajak berdebat,
"mas? Bagaimana, ibu juga mau ikut," tanyaku pada mas faiz setengah berbisik.
"kalau kamu tidak keberatan, aku sih setuju saja ibu ikut, itung-itung ngajakin ibu jalan-jalan."
Ibu sama anak sama saja, mereka sama sekali tidak mengerti maksudku, bagaimana nanti jika ibu mendapatkan sambutan yang tidak baik dari pihak keluargaku, aku takut ibu akan membenciku.
"ya sudah ibu boleh ikut, ini? Tadi niah belikan ibu alat pemijit kaki semoga ibu suka ya, niah kekamar dulu mau mandi lalu istirahat sebentar,! Mas! Ayo aku juga ada perlu sama kamu," ajaku pada mas faiz,
Sampai di kamar ku letakan belanjaanku, lalu menyambar handuk dan berlari ke kamar mandi.
"eh mau kemana?" tanya mas faiz meski dia sudah tau aku mau ke kamar mandi.
"mau mandilah sayang emang mau ngapain lagi," ucapku bertender di daun pintu kamar mandi.
"aku ikut," katanya langsung menerobos masuk tanpa membawa handuk.
"mas handuknya ambil dulu," sentakku tapi mas faiz malah menutup pintu kamar mandi.
"biarkan saja nanti mas pakai punya kamu," jawabnya enteng sambil melepaskan bajunya dan memperlihatkan sobekan roti di perutnya.
"lah aku pakai apa jika handukku di pakai sama mas?" ucapku berkacak pinggang menatap ke arahnya.
"Nanti mas gendong kalau kamu malu bertelanjang bulat, udah ah ayo cepet ke sini katanya mau mandi, seru tau kalau mandi bareng."
__ADS_1
Ku gantung handukku lalu berjalan ke arahnya,
"bajunya kok tidak di lepas,?"