Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran

Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran
Bab 32: gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran


__ADS_3

"faiz, bisa tante bertemu raniah," tanya bu mirna berjalan lebih dulu.


"tentu saja tante, niah ada di atas," ucap faiz meninggalkan ruangan yang tinggal hanya pak ramos saja.


"jika bukan karena tante mirna tak sudi aku membiarkan siapapun menemui raniah," batin faiz tak kalah kesalnya dengan pak ramos.


"raniah ada di dalam tante, jika raniah mencariku, katakan aku di ruang kerjaku," ucap faiz menunjuk ke arah kamarnya dan raniah.


"Terimakasih nak,! Aku akan menemuinya dulu, kamu bisa lakukan pekerjaanmu," jawab bu mirna berlalu di hadapan faiz.


"tok..tok..tok?"


"raniah boleh tante masuk" ucap bu mirna masih berdiri di depan pintu.


"siapa?! Teriak raniah di dalam kamar, raniah baru saja selesai mandi dan belum berpakaian, jadi penting baginya mengetahui siapa yang datang.


"ini tante mirna,! Bolehkah tante bertemu denganmu sebelum tante pulang," ucap bu mirna di balik pintu.


"baiklah dia hanya seorang wanita, tidak masalah jika dia melihatku seperti ini," batin raniah berjalan ke arah pintu.


Ketika pintu terbuka, bu mirna melihat pemandangan yang sangat indah, meski dia juga seorang wanita, dia juga bisa mengagumi cantiknya paras raniah.


"cantik sekali,! Pantas saja jika faiz begitu menjaganya," batin bu mirna tersenyum seraya masuk ke kamar raniah.


tepat saat bu ranti masuk, saat itu pula raniah menyadari jika pak ramos sedang melihatnya dengan selembar handuk yang masih menutupi tubuh polosnya.


Raniah yang terkejut segera menutup pintu, namun pak ramos sudah lebih dulu menahan pintu hingga pintupun terbuka dengan sempurna.


Gebrak?


Suara pintu yang terbuka dengan keras terdengar hingga ke ruangan Faiz, bu mirna yang melihat suaminya tak kalah terkejutnya, pasalnya raniah sedang tidak pakai baju,

__ADS_1


"mas? apa yang kamu lakukan," ucap bu mirna namun pak ramos tidak menghiraukannya, justru pak ramos menarik istrinya keluar dan mengunci pintu dari dalam.


Raniah yang sejak tadi terdiam kini semakin panik, karena di dalam kamar tinggal mereka berdua,


"mas? Buka pintunya, kenapa kamu mengunci pintu, apa yang ingin kamu lakukan terhadap raniah mas,"


"hhhh...ternyata ini wanita yang di nikahi faiz, cantik juga?" ucap oak ramos seraya berjalan mendekati raniah,


Raniah semakin ketakutan, dan berniat berlari ke arah pintu, namun dia kalah cepat dengan tangan pak ramos yang sudah lebih dulu meraih pinggangnya dan menghempaskannya di tempat tidur hingga sebagian handuknya tersingkap memperlihatkan paha mulus raniah yang masih terlihat segar di mata pak ramos.


"wah...? Beruntung sekali faiz menikahimu, aku harap dia belum menyentuhmu, karena aku ingin bermain-main denganmu lebih dulu,


Raniah yang mendengar perkataan pak ramos semakin takut, Sementara dia luar bu mirna baru saja menemui faiz di ruang kerjanya, kini faiz sudah berdiri di depan kamar dan berusaha membuka pintu.


"mas? Kamu kemana, tolong aku mas faiz, jauhkan pria ini dariku sebelum dia bertindak lebih kurang ajar lagi," batin raniah meneteskan air matanya dan terus saja melihat kearah pintu.


Sementara di luar faiz mendengar apa yang di katakan raniah dalam hatinya, mendengar hal itu faiz semakin membabibuta hingga dengan berbagai cara pintu akhirnya terbuka walaupun harus merusaknya dengan menendangnya.


Faiz melihat raniah ketakutan, langsung saja melayangkan tinjunya pada pak ramos hingga pak ramos terjatuh dan faiz kembali melayangkan tendangan di pinggangnya, tak hanya itu! bahkan faiz menginjak tangan pak ramos hingga terdengar suara tulang yang patah.


"faiz? kau menyakitiku hanya untuk wanita itu, apa kamu ingin membunuhku Karena menyentuh barang murahan seperti itu," ucap pak ramos menujuk ke arah raniah.


"jika kamu harus mati,! maka aku siap melenyapkan mu sekarang juga?" ucap faiz membuat pak ramos bergetar ketakutan.


"aku hanya ingin memberi wanita itu pelajaran, karena dia,! Kamu jadi kurang ajar padaku, mungkin jika aku memberinya peringatan kamu juga akan berpikir ribuan kali jika ingin bersikap kasar terhadapku,"


Bukannya minta maaf, pak ramos justru semakin tidak tau diri membuat bu ranti yang baru datang langsung saja menamparnya.


"hei? Ranti berani sekali kamu menamparku," kesal pak ramos yang tidak terima di permalukan seperti itu, bahkan istrinya saja tidak membelanya samasekali.


"kenapa? Apa itu masih kurang, jika aku mau, sekarang juga? akan ku kirim kamu ke penjara atas tindakanmu ini," balas bu ranti menunjuk wajah pak ramos.

__ADS_1


"apa kamu mengancamku,? dengan bukti apa kamu ingin melaporkanku ke penjara, " tanya pak ramos yang masih memegang pipinya yang memerah.


"ramos..ramos apa kamu lupa sekarang kamu ada di mana?" tanya faiz menarik rambut pak ramos hingga pak ramos mendongakkan kepalanya dan menunjuk ke atas pintu.


"cctv?" ucap pak ramos menyembunyikan ketakutannya pada semua orang.


"bagus jika matamu masih bekerja dengan baik, jadi pikirkan saja apa yang bisa ku perbuat padamu karena telah berani menyentuh milikku," bisik faiz tepat di telinga pak ramos.


Bu ranti mendekati raniah yang sejak tadi terdiam dan menangis sesegukan, sementara bu mirna mengambil baju dan memberikannya pada raniah untuk di pakainya, tapi raniah justru menolak memakainya.


"nak maaf atas tindakan om ramos, seharusnya dia tidak memperlakukanmu seperti ini," ucap bu mirna juga ikut menangis atas perbuatan suaminya.


"om? Siapa yang tante sebut om? Apakah dia orangnya," tunjuk raniah ke arah pak ramos.


"iya nak,! Dia kakak ibu," ucap bu ranti membuang pandangannya karena tidak sanggup menatap raniah.


"Bukankah dia baru sajah berusaha memperkosaku,? Jika dia adalah om mas faiz,! Lalu kenapa dia ingin menaruh kotoran di wajah suamiku,"


Tak ada yang berani berbicara mendengar suara raniah yang bergetar menahan tangisnya.


"jawab aku? sebenarnya apa yang tidak aku ketahui di keluarga ini? kenapa dia yang di sebut om samapi nekat memperkosa istri ponakannya sendiri," tanya raniah, namun lagi-lagi tidak ada yang menjawabnya.


Faiz yang sedari tadi mendengar jeritan istri menyeret ramos keluar dan meminta yabg lainnya juga ikut keluar, jika sudah seperti itu, tidak akan ada orang yang berani melawan atau membantah perintahnya.


Setelah memastikan semua irang pergi, faiz masih terdiam dengan membelakangi raniah.


"mas? Apa kamu tidak ingin menjelaskan sesuatu," tanya raniah di selah-selah isak tangisnya.


"maaf atas kejadian tadi?" Ucap faiz singkat dan berbalik memeluk raniah.


Raniah yang di peluk tiba-tiba sangat terkejut dengan sikap faiz, cukup lama faiz memeluk raniah, dan raniah pun membiarkan faiz melakukan itu,

__ADS_1


Setelah merasa puas barulah faiz melepas raniah.


__ADS_2