
"lupakan saja yah, aku sudah tidak perduli lagi, baik mereka di temukan atau tidak itu tidak akan merubah apapun,"
Apa yang dapat di lakukan, semuanya sudah terjadi, bagi renata sudah terlambat baginya untuk merubah keadaan, sekalipun para pelaku di temukan, keadaannya akan tetap sama
"ayah tau dengan menemukan mereka itu tidak akan banyak membantu, tapi setidaknya ayah bisa melakukan sesuatu untukmu,"
renata melepas pelukan ayahnya dan membenahi rambutnya, dia tau,! Dia hanya perlu terlihat baik-baik saja, dengan begitu ayahnya tidak akan merasa hawatir.
"lihatlah yah, putrimu baik-baik saja, lalu apa yang kamu hawatirkan" ucap renata dengan senyum yang mengembang, pak adi melihat itu, namun itu sama sekali tidak bisa membuatnya tertipu.
"bagai mana jika kamu sampai hamil? Apa yang akan kita lakukan?"
"deg"
"hamil? Ayah benar? Bagaimana jika aku sampai hamil, bagaimana aku akan menghadapi dunia ini,"
renata mulai panik hingga sekujur tubuhnya terasa menggigil, pak adi bisa merasakan kekhawatiran putrinya, tapi apa yang di katakannya memang tidak bisa di abaikan.
"ayah? bagaimana aku...? bagaimana jika aku...hiks...hiks...ayah bagaimana jika yang kamu katakan benar terjadi, a..apa yang harus ku...lakukan?, ayah hiks...hiks..."
Pertahanan renata runtuh seketika membayangkan jika dirinya benar-benar hamil.
"rena kendalikan dirimu, ayah di sini bersamamu, ayah tidak akan membiarkan hidupmu hancur begitu saja,"
renata merontah dan menjauh dari ayahnya, tatapannya sangat memilukan bagi seorang ayah seperti pak adi,
"buang semua omong kosongmu itu, tidak perlu ayah katakan bahwa semua akan baik-baik saja, rena tau yah, nasib buruk sedang berada di pihak ku,"
"sayang tenanglah, jangan sakiti dirimu," ucap pak melihat Renata pergi.
renata yang tidak bisa mengendalikan dirinya memutuskan pergi dari rumah, pak adi mengikuti putrinya dalam perjalan pak adi kehilangan jejak Renata.
"ya allah kemana putriku pergi, seharusnya aku tidak mengatakan hal itu, jika aku tidak ceroboh mungkin putriku masih di rumah, sekarang kemana aku harus mencarinya, semoga saja renata tidak bertindak gegabah," ucap pak adi kebingungan kemana arah yang akan di tujuh.
__ADS_1
Pov wira.
Hari ini sangat melelahkan, dari melangsungkan acara kakak sekarang harus berhadapan dengan tugasku sebagai dokter yang tidak ada batas waktunya, jika ada telpon maka aku harus siap, entah itu jam berapa? Yang pasti tidak ada kata tidak untuk bertugas,"
"saat waktunya pulang, di persimpangan tak sengaja aku melihat renata, penampilannya kali sangat berbeda, dia terlihat sangat menyedihkan, apa dia sedang bermasalah, sebaiknya ku hampir saja, siapa tau kali ini moodnya sedang baik," ucap wira keluar dari mobol dan menghampiri renata.
"sedang apa kamu disini,! Apa kami sedang mengikuti ku?" tanya renata membuat wira menertawakannya.
"hhhhhh....ya kali aku ngikuti kamu, ya
Seharusnya aku yang bertanya? Ngapain kamu malam-malam gini ada di persimpangan, apa kamu sedang menunggu seseorang?"
renata mendelik seakan bola matanya ingin melompat dari cangkangnya, dia sama sekali tidak terhibur dengan lelucon wira.
"baiklah nona aku tidak ingin merusak mood kamu, tapi tidak baik untukmu jika berada di tempat sepi seperti ini, masuklah ke mobil biar ku antar kamu pulang"
renata melihat wira lalu melihat mobil wira, renata berjalan di ikut wira di belakang, wira pikir renata akan masuk di mobil seperti yang dia pinta, tapi wira di buat tercengang karena Renata justru naik ke atap mobil dan berbaring seperti orang yang sedang kehilangan arah.
"hei? Turun dari sana kamu bisa merusak mobilku jika kamu di atas sana"
"jika rusak akan ku ganti dengan yang lebih bagus," jawab renata enteng.
"kau ini? Kenapa kamu bertingkah sangat aneh, cepat turun dari sana?" ucap wira tidak mau mengalah dan menarik kaki renata hingga renata merosot dan langsung berdiri di depan wira.
"renata sudah cukup kamu bertingkah, sekarang ayo aku antar pulang,"
"aku tidak mau pulang, aku mau di sini saja, kepalaku akan meledak jika aku berada di rumah,"
"meledak?" renata hanya mengangguk dengan mata yang sama sekali tidak fokus.
"lalu apa yang harus ku lakukan, aku tidak mungkin meninggalkanmu di sini,"
Bukannya memberi solusi, renata justru tertawa dan ambruk di pelukan wira, bukan karena renata sedang mabuk, tapi Renata sudah dua hari mengurung diri di kamar tanpa makan dan minum, hal itu membuat kondisinya jadi lemah.
__ADS_1
"renata? renata bangun? kenapa malah tidur sih," setelah memastikannya dengan benar ternyata renata tidak tidur melainkan dia pingsan.
"oh tidak dia pingsan? Harus ku apakan dia apa aku harus membuangnya, tidak? Aku tidak sekejam itu, biar bagaimanapun aku tetaplah orang baik," puji wira terhadap dirinya, yang jelas saja tidak ada orang yang bisa memeberinya penilaian.
"dokter...aku butuh dokter....?" teriak wira di tenga jalan dan membawa renata di gendongannya masuk ke dalam mobil.
"renata tenang ya kita akan segera ke rumah sakit," ucap wira masih sibuk mencari lubang kunci mobil.
"ya ampun...? kenapa saat genting seperti ini lubang kunci mobil malah menghilang?" ucap wira yang sama sekali tidak merasa aneh dengan ucapannya sendiri.
Setelah berhasil menyalakan mobil wira langsung tancap gas hingga mereka tiba di rumah sakit tempat wira mengabdi sebagai dokter,
karena terlalu terburu-buru wira langsung mendadak merem mobil, hingga renata yang berada di kursi sebelahnya tanpa sengaja kepalanya terbentur di depan, tadi wira terlalu panik hingga dia lupa memasang sabuk pengaman untuk renata.
"oh ****?...tamatlah riwayatku,! kenapa aku lupa dengan sabuk pengamannya," ucap wira mengumpati dirinya.
Wira segera turun dan membawa renata ke bansal, salah satu perawat yang menjaga sif malam membantu wira membuka pintu untuk renata.
"dok..bukankah wanita ini yang datang tempo hari? Tanya suster yang bernama suster mila.
"emmm..?" jawab wira singkat.
Jika di rumah sakit wira memang selalu menjaga jarak dengan semua wanita yang bertugas sebagai suster di rumah sakit ini, selain ingin menjaga nama baik rumah sakitnya dia juga tidak ingin tibul fitnah yang tidak di inginkan.
"tapi dok..kenapa dia pingsan? Apa dia sedang sakit," tanya suster itu lagi.
"jika kamu ingin tau kamu bisa langsung tanya padanya, dan jika kamu masih sayang dengan nyawamu ada baiknya jika kamu diam dan tidak banyak bertanya," ketus wira masih sibuk memeriksa renata.
"dok...akukan cuman bertanya, Lagipula dia di sini sebagai pasien jadi wajar jika aku menanyakan penyebab dia pingsan,"
"akukan baru memeriksanya lalu bagai mana aku tau kenapa dia pingsan? Keluarlah jangan membuatku semakin pusing dengan wajahmu itu,"
"ada apa dengan wajahku?" jawab suster mila dan pergi menyisahkan renata dan wira dalam ruangan itu
__ADS_1