
"Enggak mau,! nanti enggak jadi mandi kalau lepas baju." ucapku masuk ke bak mandi sementara mas faiz mandi di bawa shower.
Mas faiz menyengrit heran, mungkin terasa aneh dengan ucapanku.
"tidak jadi mandi? Memangnya kita bakalan ngapain kalau kamu lepas baju." tanyanya lagi menghampiriku.
"sudah ah sana mandi nanti keburu lapar lagi."ucapku mendorong tubuhnya agar menjauh,
"hem baiklah, tapi nanti kamu sabunin ya."
Aku melotot padanya, ku rasa acara mandi ini akan lebih lama,
"mas udah deh kamu man?"
"tok..tok..tok"
Ucapanku berhenti mendengar suara ketukan pintu.
"siapa?" teriakku di balik kamar mandi.
"wira kak, ibu nyuruh kak faiz dan kak niah untuk makan malam."
"iya sebentar kakak lagi mandi." ucapku setengah berteriak.
"kak faiz mana kak?" tanya wira lagi, sepertinya dia cukup betah berdiri di depan pintu kamar.
sementara mas faiz hanya menahan tawa melihat wajahku menahan malu.
"lagi tidur, tadi kecapan habis belanja, nanti aku saja yang bangunin, kamu duluan aja nanti mba nyusul."
"tumben mas faiz kecapean, biasanya juga kerja seharian kerja sampai lembur di enggak pernah tuh ketiduran karena capek."
"ya ampun kenapa adik tampanku yang satu itu masih banyak tanya." gumam ku merasa frustasi, aku takut jika wira menerobos masuk dan melihat tidak ada mas faiz di tempat tidur tapi melainkan di kamar mandi bersama ku.
"mas bagai mana ini, wira masih betah di luar." tanyaku pada mas faiz yang terlihat santai saja.
Mas faiz hanya mengedikan bahunya tanpa memberi solusi, adik sama kakak sama saja,
"wira kamu kebawa saja mba lagi mandi."
"ok deh mba jangan lama-lama ya wira udah lapar loh."
"iya wir, sana cepetan."
Terdengar suara langkah kaki, itu artinya wira sudah kebawa,
"pletakk?"
__ADS_1
"aooww...sayang kok kdrt si, mas salah apa sama kamu?"
"masih tanya salah apa ha? Ha?ini rasain nih, kamu tuh nyeselin banget tau engga, bagaimana jika tadi wira sampai masuk, mau di taruh di mana muka aku mas." ucapku terus melakukan serangan kepiting di perutnya, mas faiz hanya melengga-lenggo seperti biduan di kampungku.
"ya mukanya di taro depan dong sayang, emang muka kamu bisa pidah tempat apa."
"oh gitu nih rasain nih....tuh enakkan..hhhhhh..."
"eh..lo..loh..sayang udah...ampun dah...plis udah ya...yeaaaa....hhhhhh...ok..ok kamu menang mas akan mandi dengan tenang, janji tidak usil lagi."
Perutku juga sakit karena tertawa melihat mas faiz meliuk-liuk seperti ulat bulu
"dari tadi kek antengnya," kataku lalu kembali ke bak mandi.
Mas faiz selesai lebih dulu dan keluar menggunakan handukku.
"maaaas...handuknya mana?" ucapku setengah berteriak.
Sedetik dua detik, belum ada tanda-tanda mas faiz mengambilkan handuk bahkan tadi tidak ada sahutan darinya.
"kemana mas faiz? Apa dia sudah turun lebih dulu,! Tapi kenapa aku tidak mendengar langkah kakinya."
Ku buka sedikit pintu, lalu sedikit mengeluarkan kepalaku untuk mengintip seperti kura-kura.
"mas faiz sudah kebawa, ih..kenapa nggak ngambilin handuk dulu sih, masa iya keluar kamar mandi telanjang bulat begini."
Aku mondar-mandir di kamar mandi tanpa menggunakan apapun,
Setelah cukup lama di kamar mandi, kuputuskan untuk keluar,
Aku berjalan mengendap-ngendap, hingga suara yang begitu aku kenal mengagetkanku."
"sayang kamu kok tidak pakai handuk, kamu sengaja ya menggodku."
"oh ya ampun sepertinya mas faiz butuh obat ya." ucapku menepuk jidat.
Ku tarik handuk yang melilit di pinggangnya hingga memperlihatkan burung gagaknya yang asli, handuknya pun aku pakai Sementara mas faiz berdiri dengan santai tanpa merasa malu, hu dasar laki-laki.
"hhh...sekarang lihat siapa yang sedang menggoda, aku atau mas, Ngomong-ngomong burung gagaknya lucuh deh kalau lagi tidur."
"oh....burung gagak ye, bagai mana kalau kita bangunkan burung gagaknya."
Aku bergridik ngeri, saat mas faiz terlihat menyeringai licik,
"hei..mas mau ngapain," aku beringsut mundur saat tangan kekar mas faiz ingin menggapai tanganku.
"mau itu?"jawabnya masih terus mengikis jarak.
__ADS_1
"mas jangan macam-macam ya, ibu lagi nungguin di bawa loh." ucapku terus mundur namun sialnya bokongku sudah mentok di meja rias.
"hhhh....coba lihat wajahmu merah seperti kepiting rebus, padahal di godain suami sendiri."
"ih..enggak lucu tau? Minggir aku mau pakai baju,"
"kamu enggak mau ambilkan handuk untuk suamimu."
Aku mendelik dia masih saja menggodaku, ku ambil handuk di samping lemari lalu berjalan ke arahnya dan melilitkan handuk di pingganya,
"nih sudah sekarang apa lagi," tanyaku berkacak pinggang di depannya.
"bajunya sekalian ya." ku gelengkan kepalaku, tak habis pikir bisa-bisanya pria yang terkenal dingin dan jutek bisa semanja ini.
"tetap di sini aku ambil bajunya dulu" mas faiz mengangguk patuh dan tetap di tempat tanpa bergerak sama sekali, hemm..benar-benar penurut menurutku.
"tundukkan kepalanya."
"bukannya dari tadi kepalanya sudah nunduk ya," tunjuknya pada burung gagaknya
Hadee...suamiku ini benar-benar engkres.
"bukan ke kepala yang itu mas, tapi kepala yang di atas." ucapku menjewer kupingnya hingga mas faiz meringis.
"haduu...yang? kamu kok seneng banget hajar suami sendiri, padahal aku udah baik loh?"
"lagian mas juga pecicilan, mas enggak denger apa bunyi cacing di perutku, dari tadi aku sudah lapar tau?"
Dia hanya mengusap kepalaku, lalu mengambil alih bajunya dan memakainya sendiri.
"celananya mana? Masa iya enggak pakai celana, nanti ya burung gagaknya joget?"
Ku pijit pelipisku, aku tidak habis pikir dengan suamiku, ada saja yang melintas di otaknya.
"dasar pecicilan, sekalian aja tuh suruh nyanyi biar mas ikutan nyawer." kesal juga lama-lama ladeni mas faiz.
"nih buruan pakai," ku serahkan celana padanya dan langsung di pakai, tak butuh waktu yang lama diapun sudah rapih, aku pun sudah siap karena hanya memakai baku tidur dengan rambut yang di sanggul.
"ayo, katanya sudah lapar, kok masih bengong lihatin aku, udah mas tau kok kalau mas itu super ganteng sedunia, jadi enggak usah berlebihan gitu lihatnya."
"hemmm...mulai lagi dah tuh,?"
Dia hanya terkekeh geli, sambil merangkul pundakku.
"hemmm...bahagia punya istri,?" ucap nya masih terus merangkul ku, aku hanya tersenyum menggenggam tangannya.
"emangnya mas tidak bahagia pas belum punya istri" tanyaku menuruni tangga.
__ADS_1
"bahagia si,! Tapi tidak sebahagia saat memiliki kamu, karena adanya kamu, saat pagi ada yang bangunin, pulang ada yang nungguin, di waktu senggang ada pula yang di gangguin,"
lagi-lagi aku tertawa mendengar ke jujuran mas faiz, Sementara di meja sudah ada ibu dan wira yang memasang wajah kesal, mungkin dia terlalu lama menunggu, karena tadi dia sempat bilang kalau sudah sangat lapar.