Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran

Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran
Bab 86: gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran


__ADS_3

Hari ini rania sendirian di apartemen, sementara wira suda ke rumah sakit sejak tadi pagi.


Rania benat-benar merasa suntuk, bagaimana tidak? jika tidak seorangpun yang ada di apartemen selain dirinya.


"hhmm..bosen banget!..ke rumah sakit aja deh gangguin wira." pikir rania berlalu ke kamar lalu bersiap-siap.


Setelah memesan taksi. Rania langsung menuju rumah sakit.


"sus dokter wira dimana ya" tanya rania pada suster yang kebetulan lewat di depannya.


"oh dokter wira barusan masuk ke ruangannya"


"ya suda makasih sus."


"iya"


Setelah suster itu pergi rania langsung menuju ruangan wira.


Tok tok tok.


"masuk?" jawab wira mempersilahkan orang yang berada di luar ruangannya.


Dan ketika pintu terbuka.


"surpriseee..?"


"sayang kamu kok di sini, kenapa nggak nelfon aku, aku kan bisa jemput kamu." kata wira menghampiri rania lalu menuntunnya duduk di sofa.


"aku bosen di apartemen jadi aku nyusul kamu aja di sini,"


"maaf ya aku belum sempat ngajak kamu jalan-jalan makanya jadi bosen."


"tidak apa-apa! Oh iya kamu suda makan belum kebetulan aku bawa bekal buat kamu."


"oh ya? Wah kebetulan banget aku belum makan, kamu suapin aku ya?" kata wira dengan tampang tanpa dosa.


"haa? "


"suapin?"


"i-iya aku su-suapin." jawab rania gugup


'ya allah hati tetaplah di tempatmu,' batin rania mengatur ritme jantungnya.


"habis ini kamu jangan langsung pulang ya, kalau kamu capek kamu tidur saja di kamar aku, nanti sore kita jalan-jalan ok"

__ADS_1


"iya terserah kamu saja" jawab rania sibuk membenahi wadah bekalnya, karena wira suda selesai makan.


"bisa nggak kamu panggil mas saja!" pinta wira meraih kedua tangan rania lalu menggenggamnya.


"bisa kok, mulai hari ini aku akan panggil kamu mas, bagaimana? Apa masih ada yang perlu di rubah." tanya rania membalas tatapan wira yang seakan menghipnotis.


"kalau aku panggil kamu dek atau sayang gimana?" kali ini panggilan untuk rania yang di rubah.


"emm gimana yaaa...?" jawab rania sengaja menggoda wira.


"kok gimana sih? Aku kan cuma..!"


"iya iya mas terserah kamu mau panggil aku dek atau sayang, dua-duanya aku suka kok." jawab rania memotong ucapan wira.


"ok kalau gitu bole aku minta satu lagi"


"apa lagi mas"


"tapi janji kamu nggak bakal nolak ya."


"iya mau minta apaan sih mas?"


Sejenak wira terdiam takut rania akan marah atas kelancangannya.


"mas kok diem sih katanya mau minta sesuatu." tanya rania membuyarkan lamunan wira.


"eemm...bo-boleh kok mas tapi nanti kalau suda halal" setela berucap rania berlalu ke kamar mandi.


'ya allah kenapa engkau senang sekali melihat ku jantungan.' batin rania memijit pelipisnya.


Rania keluar kembali dari kamar mandi setelah mencuci wajahnya, namun naasnya keseimbangannya hilang membuat dia terjerembet, meski tidak terjatuh tapi kepala rania sempat terbentur gagang pintu hingga terlihat memar dan berdarah.


"maaasss..." pekik rania terduduk di lantai kamar mandi.


"iya dek ada apa?" secepat mungkin wira berlari menghampiri rania yang terduduk sambil memegang kepalanya yang terasa sakit akibat benturan yang cukup keras.


"sayang kamu kenapa, apa yang sakit, ayo keluar dulu biar aku periksa." todong wira dengan segala pertanyaan.


"kok bisa sih kamu jatuh, emang kamu mikirin apa sampai jatuh begitu. Untung saja kandungan kamu baik-baik saja, coba kalau kenapa-napa aku juga tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi." keluh wira setelah memeriksa seluruh tubuh rania.


"maaf tadi aku kurang hati-hati saat hendak berbalik."


Wira hanya mengelus kepala rania lalu men*ium keningnya.


"lain kali hati-hati ya, aku nggak mau kamu kenapa-napa."ujar wira dengan jarak yang begitu dekat.

__ADS_1


Entah keberanian dari mana rania mengangkat tangannya lalu menyentuh wajah wira dengan tersenyum.


Wira bukannya tidak menyadari, hanya saja dia ingin membiarkan rania terus menjelajahi seluruh wajahnya.


Kedua mata elang itu terpejam merasakan lembutnya tangan rania. Dengan perlahan wira semakin mengikis jarak tanpa rania sadar hingga semuanya terjadi begitu saja.


"mas aku mencintamu!" bisik rania hampir tidak terdengar.


Aksi mereja itu terus berlanjut karna posisi mereka memang di tempat tidur.


Wira terus melancarkan aksinya memporak-porandakan rania dengan penuh kasih sayang. Hingga pada akhirnya wira menyudahi kehangatannya.


"dek maaf ya aku tidak bisa meneruskannya, mas ingin kamu tetap merasa berharga saat kita suda menikah nanti." ucap wira kembali mengeratkan pelukannya pada rania.


"iya mas tidak apa-apa?"jawab rania singkat merasakan hangatnya dekapan tangan kokoh yang mendekapnya begitu erat.


"tidurlah aku akan menemanimu" ucap wira. Hingga rania semakin menenggelamkan wajahnya di pelukan wira.


"apa begini rasanya punya istri ya, kalau tidur ada yang di peluk seperti bantal guling." gumam wira semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh mungil rania.


Rania mengangkat kepalanya melihat wira memejamkan mata namun wajah itu masih saja tersenyum.


'masa aku di samain dengan guling sih,! empukkan juga badan aku dari pada guling.' pikir rania memperhatikan wajah tampan yang terlihat sangat meneduhkan itu.


"cepat tidur jangan lihatin aku terus. Nanti kalau aku terkam baru tau rasa kamu."


Mendengar hal itu rania melayangkan pukulan di lengan wira. Tapi dengan sigap wira menangkapnya lalu mencium kening rania lalu meloncat dari tempat tidur.


"jangan kangen! aku tinggal bentar ya, mas harus kontrol pasien dulu." ucap wira Setelah berdiri di ambang pintu dengan senyumnya yang terlihat sangat manis.


"dasarrrr...katanya mau nemenin? " gumam rania menatap pakaiannya yang berantakan hingga memperlihatkan sesuatu yang berharga.


"ya ampun apa wira melihat ku seperti ini sejak tadi!." dengan cepat rania menutup pakaiannya dengan selimut lalu membenarkannya.


"bodoh kau rania kenapa kau teledor sekali sih, kenapa bisa kelepasan coba."pikir rania terus mengacak-ngacak rambutnya.


"sebaiknya aku sholat dulu deh, habis itu baru tidur sambil nungguin pangeranku datang dari pertempuran hahaha.." crocos rania bermunolog dan berlalu ke kamar mandi.


Usah berwudhu rania kembali ke kamar mengambil mukena di lemari lalu menggelar sejadah sebagai pelengkapnya.


Usai melaksanakan sholat, rania merapikan mukena dan sejadah lalu menyimpannya di atas meja rias.


Rania melihat jam yang bergantung di dinding. Jam menujuk angka 91.40


"masih ada waktu untuk tidur sebentar, sebaiknya aku istirahat supaya nanti aku punya tenaga untuk jalan-jalan,"

__ADS_1


Tepat jam tiga sore wira kembali ke ruangannya lalu masuk ke dalam kamar di mana tadi dia meninggalkan rania.


"ya allah anak ini masih tidur juga!" gumam wira berkacak pinggang menatap rania masih terbungkus dengan selimut, padahal hari suda hampir magrib.


__ADS_2