Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran

Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran
Bab 31: gadis desa ceo ganteng


__ADS_3

"mas? Apa kamu masih marah, sebenarnya apa yang membuatmu kesal hingga kamu uring-uringan seperti ini, ucap raniah memperbaiki posisi duduknya.


"bukan apa-apa? Maaf,! Tadi aku bicara kasar,"


"Tidak apa-apa mas, aku juga tidak terlalu memikirkannya," ucap raniah berdiri dari duduknya.


"sayang kamu mau ke mana?"


"aku mau ke kamar mandi, apa kamu mau ikut juga?" tanya raniah melihat faiz dengan mata yang membulat sempurna.


"tidak? Aku masih harus kebawa," ucap faiz segera mengambil langkah seribu.


"tunggu mas? Kenapa kami buruh-buruh sekali, apa kamu takut aku menggodamu hem..?"


"Tunggu saja aku pasti menerkammu jika keadaan sudah sepi," batin faiz menyembunyikan senyum jailnya.


"sayaaang....jika kamu sudah tidak sabar kita bisa segera memulainya," ucap faiz mengedipkan sebelah matanya.


"sial, aku terjebak?," batin raniah berkeringat dingin.


"maksud mas apa? Aku tidak mengerti,!"


"Sungguh? Kamu bener-bener tidak mengerti,! Bukankah tadi kamu bilang aku takut tergoda, jika sekarang aku bilang sudah tergoda bagaimana? Apa kamu akan bertanggung jawab atas tawaranmu yang menggiurkan itu,? Jangan lupa sayang,! Suamimu ini tetaplah pria normal, jika tidak percaya kamu bisa mencobanya sendiri,?"


"deg?...mencoba apa,? Memang dia makanan harus di coba dulu,!


kenapa aku terjebak dengan ucapan ku sendiri,! Sekarang alasan apa yang harus kukatakan,!"


"sayang kenapa diam saja, katakan sesuat?"

__ADS_1


"tok...tok...tok..kak, ibu memintamu turun kebawa,"


belum saja faiz menyelesaikan ucapannya, terdengar suara wira memanggilnya untuk turun ke bawa.


"syukurlah untung ada wira, jika tidak pasti aku suda jadi santapan suamiku," batin raniah merasa lega, namun berbeda dengan faiz, dia justru terlihat mengintimidasi atas apa yang ada di pikiran istrinya.


"ada apa? sepertinya kamu terlihat senang, apa karena wira menyelamat mu,!" raniah diam saja, tapi,! entah apa yang terlintas di pikirannya tiba-tiba saja faiz mendapatkan pelukan hangat dari istrinya.


"mas kenapa kamu mempersulit ku, aku hanya ingin ke kamar mandi dan memberimu penawaran apa kamu mau ikut atau tidak tapi kamu menjawab begitu banyak,"


Faiz melerai pelukan raniah dan menatapnya, rasa kesal tadi entah pergi kemana?, hanya dengan menatap istrinya semua terasa baik-baik saja.


"bisakah kamu menunggu, mas harus kebawa menemani keluarga yang masih belum pulang, jika kamu lelah istirahatlah, saat kembali nanti akan mas bangunkan,"


"apa maksud dia akan membangunkan? Apa mas faiz akan meminta haknya, ya ampun matilah aku,! Sepertinya aku memang tidak bisa menghindarinya," batin niah berpikir keras.


sementara di bawa bu ranti masih asik bercengkraman dengan anggota keluarga lainnya, jika wira dia lebih asyik dengan pekerjaan dari rumah sakitnya. Faiz tiba menghampiri ibunya.


"om ramos! Terimakasih sudah mau datang ke pernikahanku, kami semua sangat senang dengan kehadiran kalian," kata faiz sekedar basa-basi.


"tentu saja ponakan ku, bagai mana bisa kami melewatkan hari bahagia mu, meski kami berada jauh di perhujung dunia, tapi itu bukanlah alasan untuk kami tidak hadir,"


"*hadeee...dasar penjilat,? Aku tau om tidak mau datang, kamu ada di sini pasti atas paksaan dari tante mirna, sejak ka*pan kamu begitu peduli dengan keluargaku,?" batin faiz pura-pura ramah pada pak ramos karena menghormati bu mirna istri pak dari ramos.


Sejak dulu pak ramos dan bu ranti memang tidak terlalu dekat, itu di sebabkan karena orang tua mendiang keluarga Dirgantara yang memberi sebagian kekayaan lebih banyak untuk bu ranti dari pada untuk pak ramos,


Hal itupun membuat pak ramos semakin membenci bu ranti, namun dia tidak pernah menunjukkannya secara langsung.


"well..karena semuanya sudah selesai bisakah kita sudahi acaranya, saya sangat lelah dan butuh istirahat, tidakkah kalian merasa lelah juga, sebaiknya kalian istirahat dulu sebelum pulang,"

__ADS_1


Faiz sengaja melakukan hal itu sebab faiz bukanlah ratu drama yang akan menciptakan kebohongan lainnya,


"faiz kenapa berkata seperti itu, bagaimanapun om ramos tetaplah om kamu, tolong jaga sikap kamu, ibu tidak pernah mengajarimu untuk kurang ajar terhadap orang tua,"


Faiz menatap ibunya, lalu berganti menatap pak ramos dengan senyum yang sulit di artikan.


"apa kamu dengar apa yang barusan ibu ku katakan,! Dia ingin aku menghormatimu, tapi sayang? Aku sama sekali tidak tertarik," pak ramos mengepalkan tangan ingin segera melayangkan tinjunya pada faiz tapi dia masih berusaha menahan dirinya.


"ranti inikah yang kamu ajarkan pada anak-anakmu, tidakkah kamu ingin mengatakan sesuatu,?" tanya ramos pada adiknya.


"faiz sudah dewasa dan juga sudah menikah, apa yang kamu lakukan di masa lalu aku tidak perlu mengajarinya bagaimana caranya mereka berdua harus bersikap," jawab bu ranti dengan sikap yang jauh lebih mencekam.


"ranti aku datang kesini bukan untuk kamu hina,? lagi pula jika bukan permintaan mirna saya juga tidak akan hadir dan membuang-buang waktu saya,"


Pak ramos semakin naik pitam dengan sikap adiknya hingga dia berniat menampar adiknya namun di hentikan oleh mirna istrinya.


"mas sudah,! Kenapa kalian harus bertengkar, ini hari bahagia kita semua akan tidak pantas jika kita seperti ini," ucap bu mirna istri pak ramos menengahi pertengkaran adik kakak itu.


"ini semua karena kamu yang memaksa aku untuk datang, Sekarang lihat sikap anak itu, dia sama sekali tidak menghormati ku sebagai kakak laki-laki dari ibunya," ucap apk ramos berbalik murka pada istrinya.


"ya sudah mas,! Lupakan saja, apa gunanya memperbesarkan masalah, duduklah dan redakan amarahmu," titah bu mirna dan pak ramos hanya menurut saja meskipun dia masih marah.


"kakak ipar maaf atas sikap putraku,," ucap bu ranti tidak enak hati pada kakak iparnya, biar bagaimanapun bu mirna adalah wanita yang sangat baik, selama dia menjadi bagian keluarga Dirgantara, dialah satu-satunya keluarga yang mau menyatukan persaudaraan bu ranti dan pak ramos.


"tidak apa-apa ranti, saya juga tidak terlalu memikirkannya, Ngomong-ngomong di mana menantu, sebentar lagi kami harus pulang karena mas ramos mengejar penerbangan malam, jika bisa saya ingin bertemu dengan menantu sebelum saya pulang,"


Ucap bu mirna pada adik iparnya.


"untuk apa kamu menemuinya dia juga tidak penting untuk kita temui," ketus pak ramos menarik tangan istrinya agar duduk di sampingnya.

__ADS_1


"mas bagaimanapun istri faiz tidak tau apa-apa dengan permasalahan keluarga kita, jadi tidak baik jika mas juga bersikap tidak sopan seperti ini,"


__ADS_2