
Malam yang panjang itu penuh dengan pertengkaran dengan wira, lagian nggak bisa minum, tapi sok-sokan minum, ujung-ujungnya mabuk dan tidak sadarkan diri, dasar aneh.
"wir ayo bangun, kamu nggak ke rumah sakit ya," ku bangun kan wira saat aku suda selesai sholat subuh, barangkali dia mau berangkat lebih pagi.
"nanti saja aku masih ngantuk," ucap wira terdengar ngedumel.
"biasain bangun lebih pagi supaya rezeki dan jodoh mu juga datang lebih awal," selorohku berceramah seperti mama dedeh.
"kan jodoh ku suda di sini, rezeki pun Alhamdulillah tidak berkurang," jawab wira dengan mata masih terpejam, hemm..ternyata dia tidak tidur.
"kamu tuh kalau di bilangin tuh dengerin?" aku berdiri lalu menjepit hidung mancungnya hingga dia kesulitan bernafas.
"astagfirullah raniaaaaa....tangan kamu ada apanya sih, kok ringan banget buat nyakitin aku," aku hanya tertawa melihat wajahnya yang kesal karena ulah ku.
"lagian kamu di bilangin malah ngeyel, sana cepetan mandi bau mu tidak enak sekali," memang benar baunya tidak enak, mungkin itu sisa bau minuman.
"iya iya aku mandi bu eeee.." aku hanya menggeleng dengan sikap wira, makin hari makin aneh saja, ku rasa dia juga perlu di periksa.
Selesai merapikan sajadah dan mukena aku berlalu ke dapur, barangkali ada yang bisa aku sulap jadi serapan pagi.
Ku buka kulkas, hem..hanya ada dua telur dan nasi di pemanas cukup dua piring saja, ya terpaksa menunya jadi nasi goreng dan telur ceplok, tidak apa,! nanti siang aku akan belanja.
Selesai menggoreng nasi, datanglah si bunglon dengan balutan kemeja hijau sesuai dengan julukannya, bunglond?, bukankah itu warna favoritnya.
"masak apa," tanyanya saat berdiri di dekat meja, padahal nasi goreng dan telur ceplok masih terlihat mengepul kenapa dia masih bertanya,! apa menu itu tidak terlihat di meja makan.
"aku nggak masak?" jawab ku asal, pertanyaan macam apa itu.
"kalau nggak masak, terus nasi goreng ini siapa yang bikin, masa hantu yang yang masak" tanyanya lagi membuatku gregetan sendiri sambil mengepalkan tangan di belakangnya.
"enak saja bilang hantu yang masak, kamu nggak lihat aku keringetan begini, jelas aku yang masaklah, masa di samain hantu, kalau hantu yang masak, pasti piringnya isinya belatung semua,"
Wira hanya bergridik ngeri dengan ucapan ku, ah cemen kamu wir masa siang bolong begini takut sama hantu.
__ADS_1
"kok cuman di lihatin, ayo makan,?" ku tarik tangannya agar dia duduk di depan nasi goreng itu.
"ayo monggo di nikmati jangan cuman di lihatin doang nanti keburu dingin atau keburu jadi ulat," ucap ku setengah berbisik hingga wira mendelik padaku dengan jarak yang begitu dekat, aku sampai mundur beberapa langkah sangking kagetnya dengan ekspresi wira.
"wir muka kamu serem banget kalau kaya gitu, sumpah?"
"boleh aku makan,!" tanyanya tanpa ekspresi.
"bo...boleh," jawabku singkat,
kenapa malah aku yang takut dengan sikap wira, kemana mental ku tadi.
Setelah wira makan, aku juga duduk di depan wira, tidak ada percakapan sampai kami selesai makan, dan suasana seperti ini aku benar-benar tidak suka, mungkin wira sedang meresaoi nasi goreng dan telur ceploknya, atau dia malah menahan halusinasi agar nasi goreng tidak jadi ulat dan telurnya jadi bangkai ayam.
"aku berangkat dulu ya, kamu di rumah saja, nanti jam makan siang aku akan pulang nemenin kamu untuk belanja isi kulkas," ucap wira setelah menyelesaikan makannya, kupikir dia akan diam terus.
"dari mana kamu tau kalau aku mau belanja kan aku belum bilang,"
"nyatanya kamu cuman bikin nasi goreng dan telur ceplok, itu artinya isi kulkas lagi kosong, benarkan?" aku hanya menggaruk kepala yang tidak gatal.
"ya suda aku pamit ya, Assalamu'alaikum," tubuh ku sampai menegang wira mencium kening ku, sesuatu yang jarang di lakukan mas faiz selama aku menjadi istrinya, bahkan saat berangkat kerja dia juga tidak pernah mencium keningku.
"iya hati-hati?" jawabku lemah seakan kehilangan tenaga.
Setelah wira menghilang di balik lift baru aku bisa bernafas dengan lega, ruangan ini tiba-tiba terasa pengap dalam situasi yang tadi.
Sambil menunggu jam makan siang, aku membersihkan apartemen lebih dulu agar saat ku tinggal nanti semuanya suda bersih saat aku kembali dari belanja.
Tak terasa waktu terus berputar menunjukan setengah 12 siang, aku gegas ke kamar mandi untuk membersihkan diriku sebelum wira datang, nanti sepulang dari belanja baru aku mandi karena sekarang masih terlalu siang untuk mandi.
selesai bersih-bersih dan bersiap-siap, aku menunggu wira sambil menonton acara tv.
"lagi nonton apa?" tanya seseorang hingga tangan ku reflek mengibas kebelakang mengenai pipi orang itu.
__ADS_1
"wira? Ya ampun kamu ngapain sih ngagetin aku, kebiasaan deh kalau masuk nggak mau ngucap salam jadi kena sendiri kan jadinya," ucap ku hawatir melihat wira kesakitan.
"sini duduk dulu, lagian kamu kapan datangnya sih, kok aku nggak dengar suara lift terbuka," tanyaku lagi sambil memindahi wajah wira, barangkali ada yang luka, karena pukulan tangan ku tadi mengenai wajahnya.
"aku baru datang belum juga lima menit, lagian kamu juga serius banget Nonton tvnya sampai nggak nyadar ada orang yang masuk, kalau orang jahat yang masuk dan nyakitin kamu gimana?"
Aku tertegun dengan penjelasan wira, memang tidak ada yang salah apa yang di katakan wira, jika yang datang orang jahat pasti yang terjadi malah sebaliknya.
"aku minta maaf, ?" hanya itu yang mampu aku katakan karena memang aku salah dalam hal ini.
"kamu cantik begini mau kemana?" tanyanya,! aku tau wira hanya ingin mencairkan suasana hatiku.
"sebenarnya aku nungguin kamu pulang,?"
"nungguin aku,! Buat apa?"
Ih..dasar pelupa, belum juga sehari masa suda lupa apa yang dia katakan tadi pagi.
"kamu lupa mau ngajak aku belanja, Bukannya kamu sendiri yang bilang akan pulang dan nemenin aku belanja" dia hanya tertawa kecil, ih dasar aneh, ke sambet setan apaan sih sampai aneh gitu, senyam senyum nggak jelas bikin ngeri aja deh.
"ya sudah, ayo berangkat, nanti habis belanja kamu temenin aku makan dulu ya soalnya aku belum makan siang," aku hanya mengangguk patuh dan mengekor di belakangnya.
Sampai di supermarket aku turun lebih dulu meninggalkan wira yang mengikuti ku dari belakang, dia terlihat lebih gagah jika berada di belakangku seperti bodyguard yang tahan banting.
Sampai di dalam, aku mengambil troli lalu di ambil oleh wira, aku diam saja dengan menyunggikan senyum termanis ku.
"wir? Kita mau belanja apaan,?" tanyaku sambil memilih tumpukan barang yang tertata rapih dari sisi kanan dan kiriku sementara wira mendorong troli di belakang ku sesekali memasukan belanjaan yang menurutku tidak terlalu penting.
Aku tidak tau kenapa semua barang seperti hanya kebutuhan ku saja,
"belanja apa saja yang bisa kamu masak dan cocok untukmu, kamu sedang hamil jadi pililh bahan yang mempunya banyak vitamin,"
Ucap wira panjang kali lebar sepanjang tali jemuran tetangga yang putus.
__ADS_1
"baik dokter, kau pilih saja yang mana kualitasnya bagus, aku mau duduk capek aku jalan terus," keluh ku akhirnya duduk di lantai lalu selonjoran. Lucukan ke supermarket cuman buat leha-leha di lantai, ah bodo amat yang pasti aku mau istirahat.