
Setelah menempuh perjalanan yang tidak terlalu jauh dari restoran, akhirnya mereka sampai ke tempat yang mereka tujuh, ya itu toko baju dan perlengkapan wanita.
"tunggu sebentar."
"eemmm."
Faiz segera turun dan mengambil kursi roda untuk raniah, faiz membuka pintu mobil lalu membopong raniah dan meletakkannya di kursi roda.
Faiz mendorong kursi raniah dan masuk ke dalam toko, untuk membeli beberapa kebutuhan raniah.
Setelah sampai, salah satu pelayan toko menyambut mereka.
"Permisi pak buk, apa ada yang bisa saya bantu," ucap pelayan itu.
Faiz tersenyum rama kepada pelayan itu.
"Tolong bantu dia mencari barang yang dia butuhkan, dan tolong berikan kualitas yang terbaik ya."
Raniah mendongakkan kepalanya dan menatap faiz, dan faiz menyadari itu.
"ada apa!, kenapa kamu melihat kakak seperti itu?"
"Kak, niah beli yang biasa saja ya,"
"Kamu bisa membeli yang terbaik, pelayan itu akan membantumu, jangan takut, kakak d sini nungguin kamu ok?"
"ok!"
"mari mba saya temani untuk melihat apa yang ada di toko kami."
pelayan toko mendorong kursi raniah, tapi raniah merasa takut dan berbalik menatap faiz di belakang.
"ada apa?, apa kau takut."
"emm."
"Tidak usah takut, kakak di sini akan menjagamu dari jauh." faiz mencoba memberi pengertian pada raniah, agar raniah tidak merasa takut lagi.
__ADS_1
"bagai mana caranya, niah kan jauh di sana, sementara kakak di sini, bagai mana kakak menjagaku dengan jarak yang cukup jauh."ucap raniah menimpali.
"jangan hawatir bu, bapak bisa memantau ibu dari jauh dengan menggunakan ipad, yang sudah terhubung dengan cctv yang ada di setiap ruangan, jadi anda tidak perlu risau." ucap pelayan itu pada raniah.
"Jika setiap ruangan ada sisi tv, apa itu artinya di ruang ganti juga ada sisi tv, jika benar begitu bagai mana aku mengganti pakaian dan mencoba apa yang ku beli nanti, sementara kak faiz akan mantau apa yang ku lakukan." sambung raniah dalam hati nya.
"Mari silahkan bu lewat sini," pelayan itu kembali mendorong raniah.
"Tunggu?"
tiba-tiba faiz menghentikan pelayan itu, dia tau apa yang pikirkan raniah, karena faiz mendengar apa yang di katakan raniah.
"ada apa pak?, apa ada yang bisa saya bantu, saya akan memanggil rekan saya untuk membantu bapak."ucap pelayan toko dengan sangat ramah.
"ah tidak usah, saya hanya ingin tau, apa di ruang ganti ada sisi tv juga,"
"emm maksud bapak apa?, tentu saja di ruang ganti tidak mengunakan cctv, kalau kami memasang cctv di ruang ganti, bagai mana pengunjung akan mengganti pakainya,?"
"bapak tidak perlu hawatir,meskipun toko kami tidaklah terlalu besar, tapi kami akan selalu menjaga privasi pengunjung agar tetap nyaman berada di toko kami, apa lagi jika pengunjung kami adalah bapak, tentu saja kami tidak akan gegabah melakukan tindakan,insyaallah kami akan memberikan yang terbaik," jelas pemilik toko yang entah sejak kapan berada di belakang faiz.
"tentu saja pak faiz, saya bisa mengerti, jika bapak menghawatirkan wanita bapak, dan sepertinya dia wanita yang sangat baik buat bapak, saya doa kan semoga kedepannya bapak bisa cepat mempunyai momongan, jika bapak belum menikah dengannya, semoga bapak segera melamar dan menikahinya, sebelum ada yang mendahului bapak."
"hhhh....bapak bisa aja, kalau begitu saya permisi dulu,"
Faiz pamit dan meninggal pemilik tokoh, faiz mencari di mana keberadaan raniah, faiz lupa jika pelayan tadi suda memberikan dia ipad, agar dia bisa melihat di mana keberadaan raniah, tanpa harus kelelahan mencari niah di seluruh tokoh,
"di mana anak itu berbelanja, kenapa aku tidak bisa menemukannya,."
Saat sedang sibuk mencari raniah, salah satu pelayan toko lewat di sampingnya.
"hey...tunggu"
Pelayan itu berbalik dan melihat siapa yang memanggilnya.
"iya pak, apa anda butuh sesuatu.?"
"Apa kau melihat gadis yang menggunakan kursi roda, sejak tadi aku mencarinya tapi aku belum menemukanya."
__ADS_1
"jika bapak mencarinya, anda bisa melihatnya dengan menggunakan ipad yang ada di tangan bapak, Bukankah pelayan di toko ini yang memberikannya, supaya bapak tidak kelelahan mencari orang yang bapak cari."
"benar juga kenapa aku tidak kepikiran dari tadi, ya suda, Terimakasih ya, saya akan memeriksanya."
"baik pak silahkan, kalau begitu saya permisi dulu."
"iya.."
"baiklah niah, sekarang aku mau lihat kamu ada di mana? meskipun kau pergi dengan kursi roda, tapi tetap saja kau begitu sulit ku temukan, nah ini dia, eh tunggu? Siapa orang yang mengawasi raniah? Aku harus segera ke sana, jangan sampai orang itu punya niat buruk pada niah."
"mba saya mau yang ini saja, dan juga barang-barang yang suda saya pilih tadi,"
"iya bu, tunggu sebentar ya, saya lihat dulu barangnya."
Setelah selesai raniah membawa semua barang belanjaannya di kasir untuk melakukan pembayaran, tapi dia baru sadar, jika faiz tidak bersama dengannya, di lain tempat seseorang sejak tadi mengawasi raniah, dan raniah sama sekali tidak tau.
"Kak faiz kemana ya, kenapa dia tidak menyusul ku, bukan tadi dia mengawasi ku."
"Bu, totalnya tiga puluh empat juta tiga ratus ribu bu, ibu mau membayar kes atau mau menggunakan kartu debit."
"emm...,mba saya tunggu teman saya dulu ya, sebentar lagi dia kesini,."
"kak faiz kemana sih, kenapa dia tidak menyusul ku, atau jangan-jangan kak faiz pergi, aaahhhhh....aku harus gimana? Mau kabur, kursi roda ini akan menyulitkan ku, jika aku tetap di sini yang ada aku malu sendiri, tapi kalau aku nggak pergi, aku mau bayar pake apa, eeeehhhhh...kak faiz kamu di mana siiihhhhh...."
Rania merasa kesal karena faiz belum datang juga, sebenarnya dari tadi faiz tidak jauh dari tempat raniah menunggu,hanya saja faiz masih mengawasi orang yang menguntit raniah.
"sebenarnya apa motif orang itu mengikuti niah, apa orang itu suruhan renata, tapi mana mungkin, selain aku, hanya wira yang Tau tentang niah, apa jangan-jangan orang ini sedang mencari tau siapa niah sebenarnya,
Sebaiknya aku ke sana saja, sebelum orang itu bertindak lebih jauh lagi, lagi pula, sepertinya niah suda selesai,"
Faiz menghampiri raniah, faiz tau jika raniah sedang kesal, mungkin karena sudah menunggu terlalu lama.
"niah..!"
"kak faiz, kakak dari mana saja, sejak tadi aku menunggu kakak di sini, kenapa kakak baru datang, atau jangan-jangan kakak berencana ninggalin aku ya, awas ya kalau sampai kabur, aku nggak akan maafin kakak."
Raniah memarahi faiz habis habisan, bahkan faiz tidak di beri kesempatan untuk berbicara, Bukannya marah, faiz justru tertawa,
__ADS_1