
Sementara di kediaman pak adi Wijaya, renata masih enggan untuk keluar kamar, selepas kejadian itu, renata lebih banyak melamun dan tidak melakukan apapun.
Pak adi baru saja kembali dari kediaman Dirgantara, seperti biasa mbok darmi pasti sudah menyiapkan kopi di atas meja, semenjak ibu renata meninggal pak adi memang memutuskan untuk tidak menikah lagi, dan selama ini mbok darmi yang selalu menyiapkan segala sesuatu keperluan pak adi ataupun keperluan renata.
"mbok? Apa renata sudah makan," tanya pak adi melepas jas dan dasi di lehernya.
"belum tuan, non renata mengunci pintu, dia juga berkata tidak ingin di ganggu," ucap mbok darmi mengambil jas dan dasi yang di letakan di letakkan di atas meja.
"baiklah,! Beri aku sepiring nasi, aku akan mencoba membujuknya, semoga saja dia makan,"
"baik tuan tunggulah sebentar akan saya siapkan," ucap mbok darmi berlalu ke dapur mengambil makanan.
Pak adi bersandar dan terus menerawang apa yang sebenarnya terjadi pada renata
Sudah lebih dua hari renata terus mengurung diri, hal itupun membuat pria tua itu semakin gusar dan hawatir.
"ini tuan,?" ucap mbok darmi mengagetkan pak adi yang sedang memikirkan putrinya.
"ah iya mbok berikan padaku?"
Mbok darmi bisa melihat kekehawatiran di wajah majikannya yang penuh dengan keriput itu, mbok darmi juga tidak bisa berbuat banyak, hanya doa yang bisa dia panjatkan semoga keluarga pak adi selalu dalam lindungan allah.
Pak adi berdiri tepat di depan kamar putrinya, tapi dia tidak langsung mengetuk pintu, dia mendengar ada suara tangis di dalam kamar renata membuat pak adi semakin merapatkan daun telinganya agar dapat mendengar lebih jelas lagi.
"apakah renata sedang menangis, apa yang membuatnya begitu sedih?, apa renata sudah jika faiz sudah menikah?, tapi mana mungkin,! Siapa yang memberi tahunya, Bukankah renata tidak pernah keluar kamar, tidak mungkin mbok darmi yang memberi tahunya karena mbok darmi juga tidak tahu jika faiz akan menikah, lalu putriku menangis karena apa? Apa ada hal yang lain yang tidak aku ketahui?"
Pak adi tidak tahan lagi dan ingin segera tau mengapa renata terus menangis.
"tok..tok..tok..? rena buka pintunya, ayah perlu bicara denganmu,!"
renata tersentak mendengar suara ayahnya yang berada tepat di depan kamarnya.
"aku tidak ingin bicara? Dan aku jga tidak ingin di ganggu, pergilah yah jangan mengusik ketenanganku,!" ucap renata terdengar sangat lemas.
"kamu ingin mebuka pintu,! Atau ayah dobrak pintunya?" ancam pak adi tidak menghiraukan ucapan putrinya.
__ADS_1
"oh ****?" batin renata mengumpat pada dirinya sendiri.
"ada apa?" ketus renata saat sudah membuka pintu.
Pak adi tidak menjawab dan langsung masuk ke dalam kamar putrinya.
"duduklah?" pinta pak adi walaupun renata hanya memandangnya dengan malas.
"ayah bilang duduk renata?" teriak pak adi hingga membuat renata tersentak.
renata masih memandangi ayahnya, karena baru kali ini pak berteriak padanya, sejak dulu sebesar apapun kesalahan renata, pak adi tidak pernah mempermasalahkannya,
karena masih terkejut, renata menurut saja saat ayahnya menuntunnya duduk di sofa.
"maafkan ayah,! Ayah tidak bermaksud berteriak padamu, ayah hanya menghawatirkan mu, renata? sebenarnya ada apa nak? Apa yang membuatmu mengurung diri di kamar, apa kamu tidak ingin bercerita pada ayahmu,"
renata melihat ayahnya dengan tatapan yang sulit di artikan, pak adi bisa melihat ada kehancuran di mata putrinya, hingga tanapa renata menjawab pertanyaannya pak adi sudah memeluk putrinya dengan sangat erat.
"rena,! apapun yang terjadi jangan pernah takut memberitahu ayah, ayah di sini untukmu nak, berhentilah berpikir bahwa ayah tidak perduli denganmu, ayah hanya tidak tau bagaimana caranya menunjukan kasih sayang sebagai orang tua,"
"ayah? Bagaimana pernikahan faix,! Apakah acaranya sangat meriah,"
Pak kaget dan berpikir dari mana renata tau.
"siapa yang memberitahumu nak?," tanya pak adi pura-pura tidak tau apa-apa.
"siapapun pasti akan tau yah, jika acaranya ada di sosial media,?"
Pak adi meraup wajahnya dengar kasar, namun bukan hal itu yang membuat renata menangis, bahkan apa yang terjadi pada renata Jauh lebih buruk dari kabar pernikahan faiz, hanya saja pak adi belum tau, karena renata sendiri belum menjelaskan apa-apa.
"apa hal itu yang melukaimu, jika memang iyah, apa yang bisa ayah lakukan untuk,"
renata tertawa sambil menangis, namun itu hanya berlangsung sebentar saja.
"faiz sudah menikah yah, jika ayah ingin membantuku, seharusnya sejak kemarin ayah melakukan itu,"
__ADS_1
"hari ini keadaanku jauh lebih hancur dari pada mengetahui pernikahan faiz,"
Pak adi mengerutkan keningnya mencerna ucapan putrinya.
"jika bukan karena faiz, lalu apa yang membuatmu seperti ini?"
"aku?" renata menatap ayahnya dengan mata yang berkaca-kaca, dia tau ayahnya pasti hancur bila dia berkata jujur, tapi tidak ada pilihan lain selain menjelaskan yang sebenarnya.
"ada apa nak Ceritakanla,?
"renata di perkosa yah,? Hanya itu yang keluar di bibir renata, dan itu suda cukup memporak-porandakan hati ayahnya.
"si...siapa? Yang berbuat itu padamu," kini pandangan pak adi terlihat sangat mencekam, bahkan membuat nyali renata menciut, dia tidak pernah melihat ayahnya semarah itu.
"re...rena tidak tau yah, se...semuanya terjad...di begitu sajah," jawab renata terbata-bata.
"apa maksudmu terjadi begitu saja, aoa kamu tidak mengenal pelakunya?," tanya pak adi membuat renata semakin tertekan hingga sekujur tubuhnya menggigil Karena merasa takut.
"ya allah...Cobaan apa lagi ini,!" batin pak adi memeluk putrinya, karena bagaimana pun renata tidak harus dia salahkan.
"maafkan ayah yang tidak bisa menjagamu dengan baik, ibumu pasti sangat kecewa akan keadaan ini," ucap pak adi ikut menangis memeluk putrinya.
"apa ibu akan marah padaku?, tanya renata di sela-sela isak tangisnya.
"kamu tau dia sangat sayang padamu, dan apapun yang terjadi kami selalu sayang padamu, maafkan ayah selama ini ayah terlalu sibuk dengan pekerjaan hingga ayah lupa bahwa sudah mempunyai seorang putri, dan jika ada yang harus di salah maka ayahlah orangnya"
"ini bukan salahmu yah, rena patut mendapat kan ini,? Ucap renata kembali menangis.
"sayang apa kamu masih ingat di mana terakhir kali kamu berada sebelum kejadian,?" renata mengangguk pertanda dia masih ingat saat dia belum mabuk.
"baik? Tetaplah di rumah, ayah akan menggerakkan orang-orang ayah untuk mencari pelakunya, ayah akan mulai di tempat terakhir kamu tuju,"
"untuk apa ayah mencarinya?"
"untuk apa? Rena,! Apa yang kamu dapat jika kamu mendiamkannya? Sebagai ayahmu,! aku sama sekali tidak setuju jika kamu lebih memilih bungkam dari pada memberi hukuman untuk para pria bejat itu"
__ADS_1