
Aku turun dari mobil dan memperhatikan sekitar, tidak banyak yang berubah semuanya masih sama, aku berjalan ke arah pintu lalu mengetuknya.
Tok tok tok
Ku intip lewat jendela belum ada tanda-tanda orang yang keluar,
Tok tok tok
"Assalamu'alaikum..bii?" ucapku sedikit berteriak namun tetap tak ada yang membukakan pintu.
"bibi kemana ya kok rumahnya sepi banget" gumamku masih terus mengetuk pintu.
"bi Assalamu'alaikum..ini rania bi, niah pulang" ucapku lagi namun tetap nihil, tidak ada yang membuka pintu.
"eh neng rania ya?" tanya salah satu tetangga datang menghampiriku, mungkin dia terbangun karena aku membuat kebisingan.
Ibu wira dan mas faiz semua sudah berdiri di sampingku, sementara tetangga bibi itu terlihat berjalan tergesa-gesa menghampiriku.
"ya allah ini teh beneran neng niah, kenapa baru pulang atuh neng, kasian bibi neng, semenjak neng rania berangkat ke kota dan tidak memeberi kabar sama sekali bibi neng jadi jatuh sakit." jelas wanita tambun itu membuat kedua lututku bergetar.
"lalu apa bibi baik-baik saja bude, di mana bibi sekarang? Kenapa dia tidak membukakan pintu untukku." ucapku dengan suara yang sudah bergetar.
"yang sabar aja ya neng mungkin bukan jodoh neng lagi untuk bisa bertemu dengan almarhumah."
"deg?"
seperti tersambar petir tanpa adanya mendung, aku limbun seketika jika orang yang ingin ku temui sudah berpulang ke Rahmatullah.
Sekujur tubuhku bergetar namun tidak ada air mata di pelupuk mata ini, hanya ada rasa yang tak dapat mengimbangi keadaan.
Beberapa kali mas faiz atau ibu mencoba menopangku namun tetap aku tak mampu berdiri.
"pada hal aku pulang karena ingin bertemu dengan bibi, aku juga ingin mengenalkan suamiku pada bibi, Kenapa? Kenapa tidak memberiku kesempatan meski hanya sebentar saja."
__ADS_1
Ku pukul dadaku yang terasa sesak, sulit sekali aku ikhlas, tapi aku tetap harus melakukannya.
"maafkan aku?" ucapku dengan tangis yang tak dapat ku bendung lagi, ku tumpahkan segala sesak di pelukan pria yang ingin ku kenalkan pada bibi, tak peduli dengan wajah bingung dengan wanita di depanku, aku hanya ingin menangis tanpa bertanya lebih banyak lagi.
"istighfar atuh neng, eling?, semua terjadi atas kehendak gusti allah" ucap wanita itu mencoba menguatkanku.
"bude kapan wafatnya bibi?" tanyaku masih sesegukan.
"satu minggu yang lalu neng, beliau demam tinggi dan akhirnya meninggal." jelas bude fatma yang ku kenal cukup dekat dengan bibi.
"lalu di mana mba ranti, harusnya kan dia di rumah ini"
"sehari setelah ibunya meninggal neng ranti juga pergi entah kemana? Bahkan di tidak melakukan syukuran atas meninggalkannya orang tuanya."
"ya allah.."lirihku semakin pedih mendengar cerita bude fatma.
Ku pandang ibu mertuaku, seperti dia mengerti maksud tatapanku.
"jangan hawatir nak, sebelum kita kembali ke kota, kita akan melakukan syukuran lebih dulu baru pulang, berdirilah dan kuatkan imanmu, ibu akan mengurus semuanya dan kamu tidak perlu menangis lagi." ucap ibu menghapus air mataku.
"hei sayang sudah..masih ada ibu di sini, kamu tidak sendirian, bukankah kami keluargamu juga hem?" ucap ibu menoel hidungku dengan gemas, meski kulihat matanya juga berkaca-kaca.
"ini bu kunci rumah mba rida, Sengaja aku ambil satu secara diam-diam dari neng ranti, supaya kalau neng niah pulang bisa masuk." ucap bude fatma menyerahkan kunci pada ibu.
Mas faiz mengambil kunci itu lalu membuka pintu, aku dan yang lain menyusul saat pintu sudah terbuka.
Mataku kembali banjir melihat foto bibi bersamaku saat aku menang lomba puisi.
"bibi pasti menderita tidak ada yang mengurus waktu bibi sakit." gumamku pelan lagi-lagi merasakan sesak yang luar biasa sesaknya.
"sssshut...sudah sayang, doa kan saja agar bibi mendapat tempat yang terbaik, jangan menangisinya terus nanti kamu malah sakit." ucap mas faiz mendekap tubuhku yang terasa sangat lelah, ah lagi-lagi aku tertidur setelah terlalu banyak menangis.
"den sepertinya teh neng rania tertidur, biar saya bersihkan tempat tidurnya dulu agar neng niah teh bisa istirahat." ucap bude fatma bergegas membersihkan kamarku dan juga kamar mba ranti untuk kami tiduri.
__ADS_1
Jam 5 pagi aku terbangun, teringat kembali ucapan bude fatma, ya allah...perih sekali menyadari bibi sudah tidak ada.
Selama ini hanya bibi yang mau menganggapku keluarga, selain dia tidak ada lagi mau memandangku bagian dari mereka.
Aku memaksakan diri untuk bangun, mungkin dengan mandi dan membasuh wajah dengan air wudhu perasaanku akan jauh lebih baik.
Hanya butuh 15 menit aku sudah selesai melaksanakan sholat subuh, tak lupa juga ku panjatkan doa untuk bibi agar lebih tenang di alam sana.
Kulihat mas faiz, dia masih lelap dalam tidurnya, mungkin dia terlalu lelah di perjalanan kemarin, ku tutupi dia dengan selimut lalu berpindah pada koperku yang berisikan oleh-oleh untuk bibi.
Ku keluarkan semuanya dan meletakkannya di atas meja rias.
"bibi lihat? Ini semua untuk bibi, bibi tau aku mencari semua ini selama 3 jam lamanya hingga kakiku terasa keram,"
Aku duduk di depan meja rias memandangi semua oleh-oleh itu, "harus ku apakan semua ini" gumamku menghapus air mata dengan punggung tangan.
"hiks...hiks...ini semua untuk mu bi?, kenapa bibi malah pergi? Apa bibi tidak mau melihatku pulang,! Hiks..hiks..! Niah kan sudah bilang niah akan baik-baik saja, kenapa bibi sulit untuk percaya?"
Ku dengar ada pergerakan di belakangku, namun tidak ku pedulikan, paling juga mas faiz yang sudah bangun.
"sayaaang.." rengeknya padaku dan memelukku dari belakang dengan posisi menunduk.
"ada apa mas?" tanyaku dengan suaraku yang sumbang akibat menangis terlalu lama.
"ayo tidur lagi, mas masih ngantuk, kamu temenin mas yah?"
"mas niah mau bantu ibu masak untuk acara pengajian nanti sore?" kataku berdiri menghadapnya.
"temenin mas tidur dulu, nanti kalau mas sudah tidur kamu boleh keluar deh?" katanya lagi menyandarkan kepalanya di bahuku.
"ya sudah ayo biar ku temani," kataku mengajaknya, jika di tolak pun mas faiz akan terus merengek,
Mas faiz langsung meloncat ketempat tidur dan menepuk ruang yang dia sisakan, aku pun berbaring di sampingnya dengan tangannya di bawah kepalaku.
__ADS_1
"aku nggak boleh tidur juga,!bisa malu aku sama ibu? Bukannya masak ini malah masih berpelukan dengan si doi." batinku pengap karena mas faiz memelukku sangat erat.
"mas nggak akan biarin kamu lelah dalam keadaan seperti ini, jadi tidak akan ku biarkan kamu keluar untuk memasak." batin mas faiz semakin mengeratkan pelukannya, hemm..rasanya aku kekurangan oksigen.