
"bu renata, untuk sekarang pak faiz sedang sulit di temui, tapi kalau ibu tetap memaksa, ibu bisa bertanya pada dokter wirah, dia pasti tau di mana pak faiz sekarang," jelas farel mencoba membujuk renata, agar pergi meninggalkan kantor.
"kemarin saya sudah menemui wirah, tapi tetap saja, wirah pun tidak tau di mana faiz berada, ingat ya? Jika saya sampai tau kalian semua berusaha menyembunyikan faiz, saya akan buat perhitungan untuk kalian," ancam renata dengan penuh penekanan.
"Berraaak..." suara pintu keluar di banting renata, hingga menimbulkan suara gaduh.
"Astaghfirullah,,,ada ya orang kaya gitu," kata salah satu pegawai mengelus dadanya karena terkejut.
Di rumah, wira sudah pulang dari rumah sakit, kini mereka berkumpul di ruang makan untuk makan malam, faiz, wirah, bu ranti, termasuk renata juga, mereka makan tanpa bersuara, hanya suara dentingan sendok yang saling beraduh di piring masing-masing.
Selesai makan, mereka beralih ke ruang tamu, faiz pembantu raniah, sementara wirah, masih sibuk dengan makanannya.
Di ruang tamu faiz dan bu ranti membahas pernikahan, ya pernikahan faiz dan raniah.
"niah sebulan lagi kamu akan menikah, ibu ingin kamu memilih gaun pengantin yang kamu suka, tadi ibu sudah memesan beberapa sketsa baju pengantin, kamu lihat dulu ya,"
bu ranti meletakkan beberapa lembar sketsa baju pengantin, raniah mengambil dan mulai memilih, dari belakang tiba-tiba wirah datang.
"siapa yang akan menikah," wirah duduk di samping raniah, tapi faiz justru jail mencubit bokong wirah hingga wirah berdiri kembali dengan wajah yang sangat kesal atas perlakuan kakaknya.
"kakak, kenapa kenapa sih, wirah kan cuman mau duduk,"
"duduk di sana, jangan di samping raniah," titah faiz menunjuk sofa yang masih kosong.
"apa yang salah aku duduk di samping raniah,"gerutu Wirah masih cemberut.
"tentu saja salah? Karena niah calon istri kakak,"
"baru juga calon dan belum nikahkan,?" sesaat kemudian.
"Haaaa...caloooon istriii...kakak mau nikah sama niah, kok wirah nggak tau sih bu,"
"itu karena kamu juga jarang di rumah, dan baru tadi siang kami berencana untuk menikah," jelas faiz menjelaskan pada sang adik yang sok heboh sendiri.
"tapi kenapa tiba-tiba sekali, Bukankah kalian baru kenal,"
"buugg."
__ADS_1
"aduh ibu kenapa sih." kesal wirah mengelus keningnya yang terasa sakit, karena sang ibu melemparnya dengan buku,
"jaga bicaramu itu, kau tau sedang bicara dengan siapa ha?, belajarlah untuk memanggilnya kakak ipar, bukan dengan menyebut namanya, karena sebentar lagi mereka berdua akan menikah, memangnya apa yang salah jika mereka baru kenal, mereka saja tidak masalah ibu nikahkan, lalu kenapa kamu yang protes," ketus sang ibu karena merasa tidak enak pada raniah atas perkataan putra bungsunya.
"jadi ini rencana ibu,?"
"iya?...kenapa? Ada yang salah kalau ini rencana ibu,?, meskipun ini rencana ibu, tapi tetap saja mereka yang putuskan,"
"lalu? Di mana kak faiz akan melangsungkan pernikahan, apa kah di hotel atau di rumah ini," wirah sedikit hawatir, karena pasti akan ada masalah.
"kami akan mengadakan acara di rumah ini saja, agar ibu juga bisa ikut andil melihat meriahnya pernikahan kami
"tapi kak bagai mana dengan si ratu drama, jangan sampai dia berbuat nekat lagi, kakak taukan dia seperti apa?" wira takut, jika renata akan mengacaukan pernikahan kakaknya,
"siapa yang kak wirah maksud? Kenapa kalian begitu hawatir dengan kedatangan orang yang kalian maksud itu," ucap renata menengahi mereka berdua.
"dia hanya wanita yang kurang waras, jadi tidak perlu kau pikirkan, soal wanita gila itu, biar wirah yang tangani,"
"aku..?." wirah menunjuk dirinya sendiri. " kenapa harus aku sih kak, kan masih banyak bodyguard di sini, yang bisa mengawasi kedatangan si ulat bulu itu" lagi-lagi renata berganti nama, itu semua akibat dari tindakannya sendiri.
"jika kamu yang mengawasinya, itu akan jauh lebih aman, jangan membantah?, karena aku tidak suka penolakan," jelas faiz berusaha untuk tidak tertawa, melihat kekesalan adiknya.
"kenapa kakak malah seperti ibu sih, menyebalkan sekali kakak ini,"
"ibuuu...apa kau dengar apa yang di katakan putra keduamu ini," teriak faiz membuat wirah berdiri dan menutup mulut kakaknya.
"baiklah, akan ku turuti apa yang kakak minta, tapi dengan satu syarat," faiz menautkan kedua alisnya.
"apa syaratnya?" jawab faiz dengan tatapan yang sulit di artikan.
"setelah acara kak faiz selesai, mobil sport kakak jadi milik aku?" jelas wirah menyilang kaki di depan faiz.
"hanya itu?, kakak bisa berikan apa saja, asalkan kamu mau menjaga keamanan pernikahan kakak nanti," bukannya menolak, faiz justru menawarkan banyak pilihan untuk wirah.
"heheh terima kasih kak, tapi adikmu ini bukanlah orang yang serakah, cukup berikan mobil mewah mu itu, maka masalahmu selesai,"
"baiklah, jika pilihanmu jatuh pada mobil sport itu."
__ADS_1
"ada apa faiz, apa lagi yang di katakan adikmu itu?,"
jelas bu ranti yang keluar dari ruang pribadinya, tadi dia dan raniah masuk ke sana, untuk melihat beberapa warna desain, untuk acara pernikahan nanti.
" ini bu,, tadi wirah mengatakan, kalau dia juga ingin menikah."
"apa...?"
" Tidak bu, jangan dengarkan kakak, dia hanya salah makan obat saja, makanya jadi ngomong nggak Jelas,"
wirah berusaha membungkam mulut faiz dengan berbagai cara.
"apanya yang salah makan obat? Jelas-jelas tadi kau mengatakan itu pada kakak, dan meminta kakak untuk menjelaskannya itu pada ibu,"
"heeey aku tidak bilang apa apa tauuu...kenapa kakak malah ngomong sembarang sih, apa karena mobil sport kakak itu," ucap wirah yang kesal dengan ke usilan kakaknya.
"tidak ada hubungannya dengan mobil itu, Jelas-jelas tadi kamu bilang sendiri, bahkan kamu ingin meminta ibu untuk mencarikan mu calon istri," ucap faiz menambahi ceritanya.
"kakakaaaaaa.....?"
"buuggg..?"
kini giliran faiz yang kena hantaman buku dari wirah, membuat tawa bu ranti dan raniah pecah seketika, dan terjadilah aksi kejar kejaran, mereka bertengkar seperti tom dan jery, dimana ada faiz dan wirah, maka di situlah ada keributan.
"ting tong."
suara bel berbunyi, faiz dan wira menghentikan aksi kejar-kejarannya.
"wirah coba lihat siapa yang datang?"
" iya kak,!"
semuanya sudah normal lagi, dan wira segera membuka pintu, guna memastikan siapa yang datang malam malam begini.
Ketika pintunya terbuka, yang di takutkan kini sudah di depan mata, sontak wirah membulatkan matanya, seakan bola matanya ingin meloncat dari wadahnya.
"eh..renata, kamu pasti nyari kak faiz kan?" wirah sengaja mengeraskan suaranya, agar faiz mengetahui siapa orang yang bertamu di luar itu.
__ADS_1
"bu itu renata?, cepat bawah raniah ke kamar ibu sebelum ranata masuk, faiz akan temui dia," titah faiz pada ibunya.