
setelah beberapa menit mereka bercengkraman di dalam mobil akhirnya wira sampai juga di rumah sakit, wira turun dari mobil tak lupa mengambil tas hitam yang selalu dia bawa ke rumah sakit, entah apa isinya yang pasti benda itu tidak pernah ketinggalan jika pergi ke rumah sakit.
"ingat ya kak beritahu ibu juga jika besok aku juga akan ikut denganmu," ucap wira setengah berteriak, faiz tidak menjawab dan hanya mengacungkan jempol pertanda dia mendengar apa yang dia katakan.
"mas?"
"iya sayang ada apa hem?" jawab faiz terasa sejuk di pendengaran rania,
"niah boleh beli sesuatu untuk?"
"bibi?" potong faiz hingga rania mengatupkan bibirnya.
"emm?" jawab rania merasa tidak enak, dia takut jika faiz berpikir dia sudah berani meminta sesuatu untuk keluarganya di kampung.
"Nanti ya? Mas harus miting dulu jika sudah selesai nanti mas temani kamu belanja,"
"Terimakasih ya mas, aku jadi Enggak enak sama kamu," ucap rania memilin ujung bajunya.
Tersirat kekehawatiran di mata rania, faiz tau jika pikiran rania berada di tempat lain,
Faiz meraih tangan kecil dan mulus itu lalu di genggamnya dan meletakkannya di pakuan faiz,
Rania menatap penuh tanda tanya di matanya, jika dia mengatakan sesuatu di hatinya, pasti faiz bisa tau apa yang ada di benak istrinya.
"katakan apa yang mengganggu pikiran istriku, kenapa kamu terlihat sedih," ucap faiz menyelipkan anakan rambut di wajah istrinya.
"apa salah jika aku pergi mas?" tanya rania lagi-lagi memilin ujung bajunya, faiz menggenggam tangan rania agar berhenti bertingkah aneh.
"mas belum bisa menjawab karena kamu sendiri belum cerita,? Dan jika itu mengganggu pikiranmu, mas siap jadi tempat kamu untuk berbagi kelu kesahmu,"
rania kembali menatap keluar jendela, dia sendiri bingung dari mana dia bisa memulai untuk bercerita,
"ya allah haruskah aku membebani mas faiz atas apa yang ku terima sebelum datang ke jakarta? Bisakah mas faiz menerima kurang dan lebihnya sifat anggota keluargaku,"
Rania menghembuskan nafas dengan perlahan dan melihat faiz masih fokus menyetir mobil.
__ADS_1
"dia suami yang baik, beruntung aku mendapatkan cinta di hatinya, jika mba mirna melihat suamiku, pasti dia bakalan julid lagi padaku, jika bukan karena bibi, aku sudah tidak ingin lagi kembali ke rumah itu"
lagi-lagi rania terlihat gusar, beberapa kali rania membuang nafas dengan kasar hingga faiz terlihat hawatir padanya.
"apa yang terjadi di sana? Hingga kamu merasa berat untuk kembali, dan kenapa mbak mu yang bernama mirna itu suka julid padamu, apa karena dia alasan kamu datang ke jakarta? Apa dia yang memintamu untuk pergi?"
"sayang bicaralah,! Mas tidak suka melihatmu hawatir seperti ini,!" faiz memarkirkan mobil namun tidak langsung keluar, faiz melepas sabuk pengaman dan duduk menghadap istrinya.
Tangan mulus itu menyentu pipi dan mengelusnya dengan lembut,! benar-benar lembut hingga faiz memejamkan mata menikmati sentuhan tangan istrinya.
"mas? Aku mencintaimu, Terimakasih atas semua kasih sayang dari keluargamu, aku ingin tanya apa mas juga mencintaiku? pasalnya kita menikah atas ke inginan ibu,!" tanya rania masih memberanikan diri menatap mata suaminya.
"sangat sayang? Aku sangat-sangat Mencintai kamu,! Jauh sebelum ibu berencana untuk menikahkan kita, bahkan mas tau,? Kamu mencintai mas saat pertama kali kita ketemu di taman itu, dan pada saat itu mas juga punya perasaan padamu"
Rania tersenyum bahagia namun ada bendungan kecil yang mengalir membasahi wajah itu,
Rasa sakit dapat dia rasakan kala melihat wanita yang di cintainya menangis sesegukan.
Faiz merengkuh dan memeluknya dengan erat berharap dapat mengurangi kesedihan itu.
Setelah beberapa menit rania merasa lebih baik, faiz menangis wajah rania dan menghapus sisa-sisa air mata yang meninggalkan bengkak akibat menangis tadi.
"lihat matamu jadi bengkak gini kan,! kamu si pakai nangis segala, mas kan tidak lakuin apa-apa?"
Rania mengerucutkan bibirnya dan kembali memeluk faiz? Faiz pun dengan senang hati merengkuh tubuh istrinya, hingga beberapa menit baru mereka saling melepaskan pelukan.
"ayo kita masuk,? 15 belas menit lagi mas harus miting, kamu tunggu di ruangan mas saja ya, nanti mas suruh karyawan mengantar makan untukmu hem" ucap faiz mencolek hidung rania yang sedikit mancung
"iya mas Terimakasih ya,!" jawab rania lalu keluar bersama faiz.
"eh..eh? Pak faiz sama istrinya datang,! Cepat berbaris ini hari pertama istrinya pak faiz datang ke kantor?"
padahal yang datang hanya rania dan si bos? kenapa semuanya jadi pada ribut?
"pagi pak,! Pagi bu,!" sapa para karyawan yang sudah berbaris dengan sangat rapi serapi penampilan si bos?
__ADS_1
"pagi semuanya,!" jawab rania sementara faiz cukup menganggukan kepalanya.
"istri pak faiz cantik juga ya?"
"ya iya lah cantik? Secara diakan nikah sama si bos? Kalau Enggak nikah sama si bos,! Palingan juga tampilannya kaya pembantu?" ucap salah satu karyawan yang terlihat tidak suka dengan rania.
"bubar kalian? Pak faiz menggaji kalian bukan untuk mengurusi urusan pribadinya ataupun untuk bergosip,"
Suara bariton dari luar terdengar sangat lantang, hingga para karyawan menunduk dan kembali ke meja masing-masing.
Tubuh tinggi besar itu melangkah masuk dan memperhatikan sekitarnya, Dia akza pria yang selama ini menjadi asisten faiz, akza sama sekali tidak suka jika ada yang suka julid kepada sesama pegawai, apa lagi jika yang mereka jelek-jelekan adalah istri atasan meraka sendiri.
tatapan itu terlihat sangat tidak bersahabat, bahkan beberapa karyawan tak berani beradu tatap dengan akza,
Akza memiliki kepribadian seperti faiz selain menyeramkan dengan wajahnya yang tampan, mereka berdua sama-sama di juluki manusia ess,
Pasalnya di kantor mereka jarang sekali tersenyum, sekalipun orang lompat kodok atau berjingkrak-jingkrak, mereka tetap akan terlihat dingin dan biasa saja.
Akza kembali melanjutkan langkahnya menuju ruangan atasannya, karena hari ini ada miting maka dia perlu memastikan segalanya karena memang itu pekerjaannya.
Akza berdiri di depan ruangan bosnya dengan beberapa map di tangan besarnya, dia tidak akan masuk sebelum mendapat perintah dari bosnya,
Dalam ruangan sudah ada faiz dan rania sesaat kemudian terdengar ketukan pintu yang mengalihkan pandangan mereka ke arah pintu.
"tok...tok..tok"
"mas? Ada yang datang"
"masuk?" jawab faiz berjalan ke meja kerjanya.
Akza masuk tanpa melihat ada rania yang duduk si sofa.
"ada apa?" tanya faiz terlihat dingin.
"saya sudah menyiapkan keperluan miting, jika masih ada ke kurangan tolong segera beritahu saya sebelum para surfaiser datang" jawab akza tak kalah dinginnya dengan faiz.
__ADS_1