
"hemm...jika niah tidak setuju kira-kira apa yang akan terjadi pada bu ranti kak," jawab niah sedikit terlihat hawatir.
"kakak juga tidak tau niah, tapi besar kemungkinan, jika kita menolak untuk menikah, ibu pasti drop lagi, kamu lihat sendiri tadi pagi, saat ibu tau aku yang membuatmu celaka, penyakit ibu kambuh lagi, yang artinya?, ibu tidak boleh merasakan tekanan,"
Faiz sedikit gusar, dia tidak ingin memaksa raniah, tapi dia tidak punya pilihan menuruti keinginan ibunya,
"niah, apa kamu mau membantu kakak,"
"apa kak?"
"Menikahlah dengan kakak niah."
"deg."
Raniah diam dan tidak berkata apa apa, dia sendiri bingung, harus menjawab apa?, di satu sisi, raniah sebenarnya setuju untuk menikah, tapi di sisi lain, dia tidak ingin menikah tanpa adanya cinta.
raniah terus meremas kedua jari jarinya, dia takut akan mengambil keputusan yang salah, berkali-kali niah menghembuskan nafasnya dengan kasar guna menetralkan perasaannya.
"niah jawab kakak, kau tau ibu menunggu keputusan kita, tolong kakak niah, bantu kakak menjaga kesehatan ibu," faiz bingung dengan cara apa dia membujuk raniah.
"baiklah kak, ini demi ibu ya, jadi kita akan menikah, walaupun tanpa cinta." raniah tidak bisa melihat faiz terus memohon padanya, dan pada akhirnya, raniah setuju menikah dengan faiz.
"Sungguh?, kamu benar menerima kita untuk menikah." jelas faiz masih tidak percaya.
"iya, niah setuju dengan keinginan ibu kak, tapii..."
"tapi apa?"
"pernikahan kita akan di langsungkan saat niah sudah bisa jalan lagi, bagai manapun, niah tetap ingin terlihat cantik tanpa kursi roda di hari pernikahan kita."
" baiklah, otu bisa di atur, nanti kakak bicara sama ibu, ayo, lanjutkan lagi makanannya."
Setelah cukup lama mereka berbincang, akhirnya mereka selesai makan juga, sebelumnya faiz sudah membayar pesanannya tadi, jadi mereka langsung pergi saja.
Di dalam mobil, faiz tak henti-hentinya untuk tersenyum, dia terlihat begitu bahagia, sesekali faiz melihat raniah yang juga tersenyum padanya.
__ADS_1
"niah apa kamu bahagia, sebentar lagi kita akan menikah, dan tolong jangan sesali apapun ya, insya allah, kedepannya, kakak akan brusaha memberi yang terbaik untukmu."
"tentu saja niah bahagia, dan sebenarnya, niah sudah mengagumi kak faiz sejak awal, dan jika hari ini kita memutuskan untuk menikah, kenapa niah harus bersedih,"
Faiz semakin bahagia, meski .mereka di jodohkan, tapi sebenarnya mereka sudah saling suka, hanya saja sang ibu menyatukannya lebih dulu, sebelum faiz mengatakan perasaannya pada raniah.
" ibu juga pasti bahagia, mendengar berita ini, setelah sampai rumah, kakak akan langsung menemui ibu, itu juga kalau ibu tidak tidur."
"iya, tidak usah buru buru, kakak lagi nyetir," raniah mengingatkan faiz karena melajukan mobil dengan sangat kencang.
"apa kau takut?" goda faiz menaikkan satu alisnya, seolah mengejek raniah.
"bukan takut?, tapi raniah masih mau hidup," jelas raniah yang tiba-tiba berbalik memukul kening faiz.
"Memangnya siapa yang mau mati,"
"kalau begitu, pelankan mobilnya, dan tidk usah ngebut."
"baiklah tuan putri, akan ku kurangi kecepatannya, apa kau puas sekarang?"
"sepertinya hariku telah di mulai," gerutu faiz yang tidak terdengar jelas oleh raniah.
"kak? Apa kau mengatakan sesuatu."
"tidak? Memangnya kau mendengar kakak mengatakan sesuatu."
"tidak, mungkin niah hanya salah dengar saja,"
"oh....baiklah, sekarang kita sampai, tunggulah sebentar, kakak ambil kursinya dulu?" Faiz turun dari mobil, lalu mengambil kursi dan membantu raniah untuk turun.
Di rumah sang ibu sudah menunggu sejak tadi, dan bolak-balik layaknya setrikaan,
"kemana mereka, kenapa perginya lama sekali, aku harus menyuruh wirah mencari mereka," bari saja bu ranti mengambil telpon genggam faiz sudah tiba tepat waktunya.
"untung saja kalian pulang, ibu baru saja ingin meminta wirah untu mencari kalian, kalian kemana saja seharian, dan kamu faiz, kau tau raniah masih sakit dan butuh istirahat, kenapa malah pergi dalam waktu yang lama." jelas bu ranti sedikit emosi.
__ADS_1
"bu, kami hanya perlu bicara, karena apa yang ibu minta bukanlah hal yang kecil, semuanya perlu di pertimbangkan, tapi ibu tidak perlu hawatir, karena kami sudah setuju untuk menikah di bulan depan,"
"Sungguh ?"
bu ranti masih belum percaya, karena pagi tadi faiz masih bersikeras untuk menolak, jika sekarang faiz mengatakan akan menikah dengan raniah, tentu saja sang ibu tidak akan percaya begitu saja, dia butuh pembuktian, tapi dengan cara apa?.
"ibu akan percaya, tapi ingin kamu melakukan satu hal lagi, jika kamu mau melakukannya, maka ibu baru bisa percaya," ucap bu ranti berlalu pergi.
"ya ampun ibu ini, benar-benar keterlaluan jika meminta sesuatu," kesal faiz mendorong raniah masuk dalam kamarnya.
"skip di kantor,"
Sudah dua hari faiz tidak datang ke kantor, semua pekerjaan sementara di percayakan oleh asisten yang bernama farel, dalam urusan kantor, dia cukup bisa di andalkan, tapi begitulah, karena bos sudah dua hari tidak kekantor, dia harus menghadapi, kuntilanak di siang bolong, renata?, wanita yang suka membuat keributan jika tidak melihat faiz ada di kantor.
Selain cerewet, dia juga sangat kasar, sehingga hampir semua staf tidak suka padanya, apa lagi dengan sikapnya yang seperti emak emak komplek, membuat citranya semakin memburuk.
"farel, di mana faiz, saya ingin menemuinya," tanya renata yang tiba-tiba berdiri di belakang farel.
"astaghfirullah hal azim....bu renata, ngucap salam ngapa sih kalau dateng, jangan kaya dedemit gitu dong, datang tak di undang pulang pun tak di antar, kalau saya jantungan gimana bu, ibu mau tanggung jawab?"
"bodoh amat ya, gue nggak peduli, cepat bilang di mana faiz, gerah aku lama lama di sini."
"pak faiz belum kekantor, jadi sekarang dia tidak ada di sini,
"apa faiz tidak memberi tahu mu berapa hari dia tidak akan kekantor,"
Tentu saja aku tau, aku kan asistennya pak faiz,"
"berraaaak."
Jika kamu tau?, lalau kenapa faiz tidak memberi tahu ku juga, dengan begitu aku kan bisa kerumahnya." ucap renata dengan sangat marah.
"entah, aku pun tidak tau, lagipula, kenapa pak faiz harus memberi tahu bu renata, Memangnya bu renata siapanya pak faiz, sehingga bu renata harus tau, kemana dan di mana pak faiz sekarang," jawab farel dengan gayanya yang sok kull, pada hal kakinya sendiri sejak tadi sudah gemetar, melihat wanita jadi-jadian yang di depannya akan segera mengamuk menghancurkan seluruh isi kantor termasuk penghuninya juga.
Mendengar perkataan itu, renata menatap asisten farel dengan penuh amarah, farel benar-benar dibuat mati rasa, jika dia ingin selamat, dia harus menjinakkan bom waktu yang ada di hadapannya.
__ADS_1