
"sus kemana dokter wira?" tanyaku pada suster yang tadi di suruh wira untuk mengambil minum dan baliknya setelah satu tahun lamanya.
"dokter wira sedang menemui pasien yang berada di lantai tiga, mungkin sebentar lagi dokter wira akan kesini karena perginya juga suda sejak tadi," kata suster itu yang mukanya sengaja di manis-manisin.
"oh, ya suda sus anda boleh kerja lagi," ucap ku akhirnya setelah merasa tidak puas dengan jawab si suster.
Ku pandangi langit-langit kamar rumah sakit ini.
"kenapa semuanya serba putih ya,! apakah yang membangun rumah sakit ini buta warna,! Membosankan sekali berada di sini,"
Ku jatuhkan pandangan ku di kebawah,
"hem...sama aja,! Semuanya putih pucat seperti wajah suster yang tadi, aku yakin, jika dalam satu minggu aku di rawat di sini, pasti aku tidak akan sembuh dan justru akan menjadi gila,!"
"kamu bicara dengan siapa?" tanya seseorang yang ku pertanyakan sejak tadi.
"ngomong sendiri soalnya nggak punya temen, kamu dari mana sih kok lama banget nongol nya,?"
"habis periksa pasien yang lain, kamu kan tau kerjaan aku di rumah sakit,! Kenapa? Kamu kangen ya sama aku, baru juga di tinggal sebentar kamu udah kangen aja,"
"idih gr banget jadi orang, siapa juga yang kangen," sebisa mungkin ku sembunyikan wajah ku yang merona, bisa-bisanya aku di gombalin tanpa embel-embel.
"hahaha...! Sensi amat sih,! nggak papa kali kalau memang kangen sama aku, malahan aku seneng di kangenin sama calon istri aku,"
Ya allah kuatkan iman ku agar tidak tertawa, bisa-bisanya dia ngelawak sore-sore begini.
"udah ah aku mau sholat dulu,?" ucap ku akhirnya mengalihkan pembicaraan, entah sejak kapan wira belajar semua itu, aku bisa malu tingkat dewa kalau tetap beradu mulut dengan wira.
"ya suda aku akan menunggu di sini, kamu bisa kan ke kamar mandi,"
"ya bisa lah, yang sakit itu perutku bukan kaki ku tentu saja aku masih bisa jalan,"
Wira hanya mangguk-mangguk seperti irama dangdut, lalu rebahan di sofa dan berpose ala selebriti,
selesai berwudhu aku keluar lagi sambil menyeret cairan infus yang menggantung di besi kecil dan bergoyang kesana kemari seperti gunung kembar tanpa penyangga.
Sebelum sholat ku kenakan rok lebih dulu lalu naik ketempat tidur, setelah merasa cukup nyaman barulah mukenanya aku pakai.
__ADS_1
Sengaja aku sholat sambil duduk, karena selang infus dan cairan yang menggantung menghalangi pergerakan ku.
selesai sholat, ku rapikan Semuanya lalu beranjak dari tempat tidur dan menghampiri wira yang sedang menyelam ke alam mimpi sambil senyam senyum.
Apa yang kalian pikirkan, apa kalian pikir dia memimpikan aku,?
Tentu saja aku tidak tau,! Jika ada gambaran di atas kepalanya mungkin aku akan bisa tau apa yang dia impikan, ya semoga saja dia tidak bermimpi jorok itu akan merugikan mataku indah ku.
Aku berjalan dengan sangat pelan takut dia akan terganggu dengan ke hadiran ku.
Saat tepat di depannya ku tatap wajah teduh itu baik-baik , ternyata dia jauh lebih tampan kalau lagi tidur.
Tapi sumpah? Kalau dia bangun kenapa aku bawaannya kesel Mulu ya sama dia,
Ku sentuh wajahnya dengan tangan ku lalu menghapus keringatnya.
"kamu baik wir, kenapa malah milih aku sih, apa di luar sana tidak ada yang cocok sama kamu, maaf atas sikap ku yang suka marah-marah nggak jelas, kamu pasti lelah dengan sikap ku kan,"
Aku terus berbicara meski orang yang ku ajak bicara tidak merespon apa-apa.
Aku ingat betul bagaimana mas faiz mencampakkan aku lalau kemudian wira datang menjadi penolong, meski dengan sikapku yang keras kepala dan suka membantah. Tidak sekalipun wira membentak ku apa lagi sampai berteriak.
Terlalu lama meresapi hati, tak terasa cairan bening lolos begitu saja.
"aku..hiks..aku mencintaimu..hiks hiks..aku sangat mencintaimu, maaf atas sikap keras kepalaku yang sering kali mengabaikan perasaanmu, maaf! Aku terlalu naif untuk berkata jujur,"
Aku tidak tau bagaimana dengan wajah ku, tapi yang pasti rasanya suda sangat basah namun ku abaikan saja.
"niah! He..! Kenapa kamu menangis,!"
mendengar suaranya dengan cepat ku hapus air mata ku dengan punggung tangan.
"Apa kah ada yang sakit hem.., ayo kemari lah dan duduk di samping ku," tanyanya lagi memintaku duduk di sampingnya.
"katakan,! Apa ada yang mengganggu pikiranmu,hem..,! Jika merasa terbebani, kamu bisa berbagi denganku, Bukankah aku selalu di sampingmu jadi tak usah kamu simpan sendiri agar hati dan perasaanmu jauh lebih baik,"
Bukannya bercerita aku malah semakin menangis dan sesegukan.
__ADS_1
"hiks hiks..wiraaaa aaaa....,!"
tangis ku pecah seketika mendapat sambutan saat aku hendak memeluknya.
entah kenapa aku merasa rapuh, padahal saat proses perceraian ku dengan mas faiz aku sama sekali tidak bersedih.
tapi sekarang kenapa malah kaya gini sih, malu-maluin banget deh.
"maafkan aku ya, aku sering marah-marah sama kamu, sering teriak-teriak sama kamu, sering ngata-ngatain kamu, tapi kamu tetep baik sama aku, wwaaaaaa.....hiks,"
Aku terus berceloteh hingga ingus pun wira yang membersihkannya dengan sapu tangan miliknya.
"eh iya kamu nggak usah nangis, aku juga berbuat seperti itu karena aku sayang sama kamu,"
lagi-lagi ingus merembet keluar membentuk huruf sebelas lalu di bersihkan oleh wira.
"kamu ingat saat pertama kali kita ketemu di rumah sakit ini dan di ruangan ini, aku pernah bilang kalau aku juga ingin punya jodoh seperti kamu,"
Aku mengangguk cepat karena memang aku masih ingat dengan jelas.
"hari itu kak faiz sampai mendelik kepadaku, mungkin dia takut aku jatuh hati sama kamu karena kak faiz merasa kamu suda jadi milik dia, tapi siapa yang tau jika perasaan ini memang suda ada sejak pertama kali kita bertemu,"
mendengar penjelasan wira aku semakin terisak, hingga kerongkongan ku sampai tercekat.
"sejauh itu kah kamu memendam perasaanmu, tapi kenapa aku tidak pernah merasakan perhatian kamu,? Apa karena aku masih terbuai dengan mas faiz hingga cinta yang sebenarnya tidak dapat aku lihat" ucapku dengan suara yang tercekat.
Aku masih memeluknya, wira pun semakin erat memelukku hingga tubuh ku terasa hangat dan nyaman.
"tidak terlalu jauh juga, hanya beberapa bulan saja, aku harus melihatmu bahagia dengan kak faiz,"
"kenapa kamu tidak jujur sebelum aku menikah dengan si burung gagak itu, kenapa kamu biarin aku harus melalui semua ini, aku tersiksa wir, andaikan tidak ada kamu di sisiku bagaimana dengan anak ini, kenapa kamu tidak jujur dari awal, jika kamu jujur pasti aku tidak perlu mengandung benih dari dia,"
segala macam pertanyaan ku lontarkan pada wira namun tidak satupun yang terjawab.
"maafkan aku, tidak ada yang tau takdir yang di garis kan oleh allah, mungkin kamu memang harus melalui tahap itu baru aku bisa mendapatkan kamu,"
Ku tenggelamkan wajahku di dada bidangnya, lalu ku naikkan kakiku di atas sofa dan meringkuk di pangkuannya.
__ADS_1