Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran

Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran
Bab 67: gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran


__ADS_3

Pov faiz.


Hari aku bangun kesiangan karena semalam aku tidak bisa tidur sama sekali.


Aku celingukan mencari sosok yang sangat ku rindukan, karena biasanya rania akan terus menggangguku jika aku belum bangun juga.


Ku pijit pelipis ku yang terasa pening, aku baru ingat jika semalam aku sudah mengusirnya.


Aku bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi,


"sial kenapa aku bisa lupa dengan hal itu?" umpatku mengingat harus ke pengadilan dan mengurus surat cerai seperti yang ku katakan semalam.


Aku segera masuk ke kamar mandi, dan segera mengguyur tubuh ku di bawa sower.


sebenarnya aku sendiri ragu dengan keputusan ku, tapi aku benar-benar tidak bisa membiarkan rania terus-terusan bersama ku, bagaimana bisa aku memaafkannya begitu saja setelah dia Membuat ibu ku meninggal.


Ya? Itulah yang ada di pikiran ku meski aku belum punya cukup bukti atas tuduhan ku pada rania tapi tetap saja bagi ku dialah penyebab ibu ku meninggal.


Setelah ku rasa cukup, ka sambar handuk dan melilit kan di pinggang ku lalu berjalan keluar dari kamar mandi.


"sayang baju ku mana?" tanyaku sedikit berteriak pada wanita yang sudah menemaniku selama hampir dua bulan.


"ah? kenapa aku seperti ini,! Seharusnya aku ingat jika dia sudah tidak di sini," gumam ku mengacak rambut ku yang masih basah.


Ku buka lemari hanya ada pakaian ku yang tersusun rapi tanpa ada sehelai pun pakaian milik dari rania.


Ku ambil kemeja putih di padukan dengan celana warna hitam, aku suka dengan stail itu karena itu memang warna kesukaan ku.

__ADS_1


Selesai dengan tampilan ku, ku raih kunci mobil juga hp dan juga dompet di atas meja, tak lupa surat-surat penting yang harus ku bawa ke pengadilan dan termasuk buku nikah.


Jujur aku masih mencintai rania, apa lagi pernikahan kami yang baru menginjak hampir dua bulan tentu lagi sayang-sayangnya.


Tapi mengingat apa yang terjadi dengan ibu benar-benar tidak bisa membuat ku memberikan toleransi pada rania.


Aku segera turun menuju meja makan, Hug?....rasanya hambar sekali jika harus makan sendiri, biasanya ada wira juga ibu yang akan menemani ku sarapan pagi, namun kali ini, jangankan rania dan juga ibu bahkan wira pun sudah tidak terlihat lagi.


Semalam wira mengantar rania mencari tempat tinggal setelah itu dia belum pulang juga hingga pagi ini.


Aku segera berlalu ke luar tanpa menyentuh makanan di atas meja, biarlah? Aku akan makan di luar saja, aku masuk ke mobil dan menancap pedal gas dan meninggalkan halaman rumah.


Saat di perjalanan aku melihat mobil wira di pinggir jalan yang tidak jauh dari bibir pantai.


Ku tepikan mobil ku dan mengamati apa yang di lakukan wira di tempat seperti ini, tidak biasanya juga wira pergi ketempat seperti ini, namun ketika melihat dia bersama dengan wanita, hatiku benar-benar bergemuruh melihat kedekatan mereka.


Ku hampir dua orang itu, aku benar-benar butuh penjelasan kenapa mereka ada di sini, bisa-bisanya mereka berduaan di tempat terbuka seperti ini sedang aku tidak bisa tidur karena memikirkan nasip rumah tangga ku yang masih seumuran jagung.


"wah,? enak ya sepagi ini sudah Mesra-Mesraan dengan istri kakak sendiri,? Dan kamu?" ucapku langsung menyembur wira lalu beralih menunjuk rania yang seperti sedang menahan sakit, ah? Masa bodoh,! Memang apa peduliku, itu juga belum seberapa di bandingkan aku yang harus kehilangan ibu.


"belum selesai masa idha saja kamu sudah asyik dengan laki-laki lain, chi?..dasar murahan bisa-bisanya aku beristrikan wanita seperti kamu,"


"kak ini tidak seperti yang kamu pikirkan, kami hanya?"


"cukup wira? Kakak bukan anak kecil yang bisa kamu kibuli dengan kata-kata manis mu itu," ucapku sinis memotong ucapan wira, aku tidak perduli dia adik ku yang pasti aku sangat kecewa melihat mereka berduaan.


"hahaha...tenang saja sebentar lagi dia juga ada akan menjadi janda, jika kamu suka bekas kakak, dengan senang hati kakak akan menyerahkan dia pada kamu," kini aku berali pada rania dan tertawa sinis ke arah rania yang terlihat tengah menahan kesal.

__ADS_1


"plllakk?"


Aku tersentak tiba-tiba rania menampar ku hingga kuping ku sedikit berdenging.


"apa sehina itu aku di mata mu mas? Hiks...tidak kah kamu merasa malu berkata seperti itu,! Aku ini masih istri Kamu, dan apa yang wira lakukan di sini dengan aku seharusnya kamulah yang melakukan semua ini," sentak rania, kini wajahnya yang putih bersih telah basah oleh air mata.


"kamu pikir aku senang seperti ini,! Tidak mas? Hiks...hiks... Aku hanya berusaha menenangkan diri dengan datang ketempat seperti ini hiks..!, dan seharusnya kamu berterima kasih pada adikmu berkata dia aku masih baik-baik saja." ungkapnya semakin menangis hingga sesegukan, aku sendiri jadi bingung, ingin ku tenangkan tapi tak dapat ku lakukan, membiarkannya pun membuat hatiku teriris dengan tangisannya.


"mas jika ingin berpisah insya allah. Aku sudah ridho dan ikhlas? Tapi tolong? Kedepannya siapa pun yang mendampingi ku jangan pernah mencampuri kehidupan ku lagi."


Aku mendengkus kesal bisa-bisanya dia berkata seperti itu,


"tidak? Apa kamu pikir setelah berpisah semuanya akan selesai begitu saja,? Hug? jangan harap hidup mu akan tenang setelah kita berpisah, karena setelah kita bercerai penderitaan kamu akan segera di mulai"


"pllaakk?"


lagi-lagi tangan mulus itu menampar ku meninggalkan bekas tangan rania di kedua pipi ku, sementara wira hanya diam saja membiarkan rania melampiaskan amarahnya.


"apa lagi yang kurang mas? Apa belum cukup kamu ingin menceraikan aku dengan cara sepihak,?" ucap rania di selingi amarah yang ku tau di tujukan oleh ku.


"hahahaha...jangan naif rania, aku tau kamu senang jika kita berpisah dengan begitu kamu bisa leluasa bersama dengan wira."


Rania hanya diam saja dan tidak membalas lagi, ha? Mungkin dia sudah ke habisan kata makanya dia hanya membuang muka.


"aku tau mas apa pun yang ku katakan tidak akan mampu menyentuh hati hatimu, kini aku pasrah apapun yang di gariskan allah Dan aku sudah siap hidup tanpa kamu meski aku masih berat melepas kamu, aku yakin allah lebih tau mana yang terbaik untuk aku jalani"


Mendengar kata hati rania membuat hatiku sakit, sedikit terbesit ingin meminta maaf tapi segera ku enyahkan dari pikiran ku.

__ADS_1


"ayo wir kita pulang" ajak rania pada wira, entah apa maksudnya itu, apa dia tinggal satu rumah, ha? benar-benar menyebalkan, tapi apa perduli ku, lebih baik aku segera ke pengadilan agar bisa mengurus surat cerai sesegera mungkin.


__ADS_2