
"jaga bicara mu, ada urusan apa hingga kamu mengganggu ketenangan kami," sungut mas faiz menunjuk tepat di wajah ku, ck dia cepat sekali tersulut emosi.
"hemm..habis adiknya, kakaknya lagi yang di incar, kamu pinter ya mas cari yang polos-polos, biar bisa di buang dengan mudah ya, tapi hati-hati, mba ranti tidak seperti aku, dia akan menerkam mu jika dia mendapatkan cela," ucap ku sedikit memicingkan mata melihat dua orang di depan ku saling melempar pandang dengan mimik wajah yang hampir membuat ku tertawa.
"bicara apa kamu, aku dengan dia tidak memiliki hubungan apa-apa, lagi pula apa urusannya dengan kamu jika aku berhubungan dengan ranti memang kamu siapanya ranti hingga kamu begitu terganggu dengan kebersamaan kami," terang mas faiz dengan rahang yang suda mulai mengeras.
"oh ya aku bahkan tidak bertanya kalian ada hubungan apa,? soal aku dan mba ranti,! apa kamu tau jika mba ranti yang ku pertanyakan keberadaannya saat kita ke kampung itu adalah dia, anak yang dengan teganya meninggalkan almarhum bibi yang bahkan belum genap 30 hari," ucap ku menunjuk wajah mba ranti hingga dia sedikit salah tingkah, ah cieeee yang lagi salting....
"he? Rania, sebenarnya apa mau kamu, apa kamu tidak senang jika aku dekat dengan mas faiz, kamu pasti iri kan karena tidak bisa dekat dengan pengusaha sukses seperti mas faiz ini,"
ohooo..sekarang cicitan burung beo mulai terdengar, ayo aku akan meladeninya, sampai kapan dia akan berkicau seperti burung yang hendak kawin.
"apa? Iri katamu,! kamu bahkan hanya mendapatkan bekas ku saja lalu buat apa aku iri," tandas ku semakin menikmati raut wajah mereka yang terlihat tambah kesal.
"apa maksudmu bicara seperti itu," todong mba ranti langsung mendorongku dan hampir terjatuh jika wira tidak segera menangkap ku.
"niah sebaiknya kita pulang saja, apa gunanya kita meladeni mereka, ayo biar aku bantu untuk berjalan," ku lirik mas faiz, lah kenapa dia terlihat kesal dengan wira? Apa dia cemburu buta.
Aku berdiri di hadapan mba ranti lagi tanpa mengindahkan ucapan wira.
"kamu pikir saja sendiri, karena dia lebih pantas menjelaskan siapa adik sepupumu ini, ucap ku lalu kemudian pergi dan menggandeng tangan wira.
"dasar wanita muraha, tidak tau malu, bisanya cuma gangguin hubungan orang," ucap mas faiz teriak histeris namun aku tetap melangka, wira sempat ingin berbalik tapi ku hentikan, aku tau hinaan itu untuk diriku, tapi tidak ada gunanya ku tanggapi, itu hanya akan membuat dia besar kepala karena berhasil membuat ku kesal.
"suda biarkan saja wir, seperti yang kamu katakan tidak ada gunanya meladeni mereka, ayo kita pulang," ajak ku pada wira karena hari juga semakin sore.
" iya ayo, kamu juga harus istirahat," jawabnya dan aku hanya mengangguk lalu masuk dalam mobil.
__ADS_1
Sesampainya di apartemen, aku langsung menuju kamar mandi karena badan ku rasanya suda lengket dan ingin segera di basuh dengan air.
Aku berdiri di bawa sower hingga bayangan mas faiz hinggap lagi di pikiran ku.
"sialan kenapa dia ada lagi sih, aku kan hanya ingin mandi kenapa pula dia mengganggu pikiranku,"
Ku ambil sabun lalu menggosok seluruh tubuh setelah itu kembali berdiri di bawa sower, ahh..segar sekali.
"mas kamu benar-benar berubah, kamu tidak seperti faiz yang ku kenal waktu di taman dulu, setelah mengetahui kamu bisa membaca pikiran ku, rasanya aku suda mulai paham jika kamu hanya ingin mempermainkan aku saja,"
Lagi,! aku kesal dengan alasan yang tidak jelas, mengingatnya saja suda membuat ku kesal, apa lagi jika berhadapan langsung, jika aku raksasa pasti suda ku telan dia hidup-hidup sangking gemesnya aku dengan sifat dia.
Aku terus ngedumel hingga tak terasa suda hampir satu jam aku berdiri di bawa sower tapi aku belum selesai juga jika bukan wira yang mengedor pintu kamar mandi.
"niah kamu mandi apa tidur sih kok lama banget," ucap wira di balik pintu.
"iya wir sebentar," jawabku sedikit berteriak, lalu ingin meraih handuk hingga pergerakan ku berhenti menyadari apa yang ku cari tidak ada di tempatnya.
Tenang aku tidak akan bersembunyi di balik pintu, tapi aku akan mengenakan kemeja putih yang tergantung di belakang pintu yang ku rasa adalah milik wira.
sebenarnya aku malu, tapi tidak ada pilihan lain selain memakai kemeja itu, dari pada harus meminta handuk sama wira pasti aku harus nongol di balik pintu dengan ke adaan bugil begini, atau keluar tanpa busana kan lebih memalukan lagi.
"niah cepat sedikit aku suda kebelet nih," rengek wira terdengar tidak sabar.
Setelah aku selesai baru aku keluar menampakkan wira dengan wajah yang bersemu merah, lah kenapa jadi dia yang malu, kan di sini korbannya aku.
"ayo masuk aku suda selesai kok, maaf aku lama," ucap ku berlalu di hadapan wira menyembunyikan rasa gugup ku.
__ADS_1
Memalukan sekali keluar kamar mandi menggunakan kemeja wira
"niah kok kamu pakai kemeja, handuk kamu mana kok tidak pakai handuk," tanyanya belum juga masuk ke kamar mandi, padahal tadi dia heboh menggedor-gedor pintu.
"aku lupa bawa handuk, jadi aku pakai kemeja kamu saja yang tertinggal di belakang pintu kamar mandi," jawab ku berdiri di depan lemari, tanpa menatap lawan bicaraku.
"kenapa tidak minta handuk sama aku, kan dari tadi aku disini,"
"Ya kali aku minta handuk sama kamu, kalau kamu sampai khilaf bagaimana" kilaku ku sibuk mencari pakaian yang sejak tadi tidak ku temukan.
"bajunya kemana sih, kok pada nggak ada" pada hal semuanya adalah tumpukan bajuku, tapi semuanya terlihat tidak ada sangking gugupnya aku di depan wira.
"cari apa sih, dari tadi ngobrak-ngabrik isi lemari tapi belum pakai baju juga,"
Wira berdiri tepat di sampingku hingga aku terperanjat dia sedekat itu.
"ih kamu kok di sini, bukannya tadi kamu kebelet ya," tanya ku mulai risih, karena baju yang ku pakai mulai basah, karena rambut ku belum di keringkan dan airnya pada meresap di kemeja yang ku pakai.
"nggak jadi melihat kamu seperti ini aku jadi batal ke kamar mandi," jawabnya tersenyum jail, tapi menurut ku terlihat menyeramkan.
aduh gawat nih, kayanya wira mulai korslet nih, mana kemeja ini teransparan banget karena kemejanya basah hingga sebagian dadaku mulai terlihat di balik kemeja.
"sana kamu ke kamar mandi dulu aku mau pakai baju," ku dorong wira yang masih cengar-cengir menuju kamar mandi, sampai di depan kamar mandi dia malah berbalik lalu memeluk ku.
Seeeeerrrrr.
Rasanya seperti hembusan angin ketika tangan itu melingkar di pinggang ku, aku hanya melotot menatap wira yang terlihat serius sekali.
__ADS_1
"lepasin nggak?" ucap ku sedikit kesal, masa iya di peluk dalam keadaan begini, kalau ada setan lewat gimana?.
"nggak mau, aku seneng peluk kamu seperti ini," jawabnya semakin mengeratkan pelukannya hingga aku merapat di dadanya, sangking rapatnya detak jantungnya bahkan dapat ku dengar, kalian bayangkan saja gimana rasanya jadi aku.