
Setelah selesai mandi, raniah melakukan seperti apa yang di katakan faiz, raniah lalu membungkus rambutnya dengan handuk, karena masih sedikit basah, raniah kemudian berteriak memanggil orang yang sejak tadi berdiri di depan kamar mandi seperti seorang bodyguard.
"kak...apa kakak di luar, tolong bantu niah sebentar," teriak ranaih dari dalam kamar mandi.
Faiz pelan pelan membuka pintu dan melongok kan sedikit kepalanya, dan melihat situasi di dalam, apa raniah sudah selesai atau belum.
"niah, apa kamu sudah selesai, apa kakak boleh masuk sekarang."
"iya kak masuklah,."
Faiz masuk dan melihat raniah sudah lengkap dengan bajunya, tanpa bertanya faiz langsung menggendong raniah, tubuh raniah yang kecil, memudahkan faiz memindahkan raniah, layaknya memindahkan barang.
Faiz menurunkan raniah di depan meja rias, lalu faiz mengambil alat make up yang di beli raniah tadi, faiz meletakkannya di depan raniah, lalu berlalu pergi dan duduk di sofa.
Setelah lima belas menit raniah selesai dengan riasannya, raniah berbalik dan melihat faiz.
"kenapa dia diam saja, apa dia sedang tidur?, jika aku bangunkan, dia marah tidak ya!, tapi jika tidak di bangunkan, bagai mana aku ketempat tidur,"
Raniah bingung, karena faiz malah tertidur, raniah mencoba memanggilnya, tapi faiz begitu terlelap dalam tidur, raniah turun dari kursi meja rias lalu menghampiri faiz yang tertidur.
Raniah menyeret kakinya, hingga menimbulkan rasa sakit karena terkena gesekan lantai.
"eessss ya allah kakiku sakit sekali," raniah mencoba menyentuh kakinya, tapi justru kepalanya yang terbentur meja karena kurangnya pertahanannya."
"aduuuhh...!" raniah mengadu kesakitan, dan membuat faiz terbangun, faiz melihatnya dan langsung bergegas menghampiri raniah.
"raniaaaah..." secepat kilat faiz mendekat dan mengangkat raniah lalu membawanya ketempat tidur.
"kau mau kemana, kenapa tidak membangunkan kakak, jika kamu membutuhkan sesuatu, Bukankah tadi kakak sudah bilang, jangan melakukan sesuatu tanpa kakak jika itu bisa membahayakan diri kamu, sekarang lihatlah!, kakimu tambah sakit, dan kamu sendiri yang rasain."
Raniah hanya terdiam, Bukannya takut, tapi dia hanya berusaha menahan sakit di kakinya.
__ADS_1
"diam di sini, kakak ambil obat dan perbannya dulu, sepertinya kakak belum membawanya kesini," faiz berlalu pergi untuk mengambil obat, lima menit dia sudah kembali lagi dengan obat di tangannya."
Seperti tidak mengenal lelah, faiz langsung meluruskan kaki raniah yang sakit, membuka perban dan mengoles obat di bagian yang sakit, selesai dengan obat, faiz kembali menutupnya dengan perban.
"istirahatlah, kakak akan menemanimu,"
"apa kakak tidak lelah, seharian hanya menemaniku saja, kembalilah ke kamar untuk beristirahat, niah nggak papa kok di tinggal sendirian,"
"kenapa? Apa kamu tidak suka jika ada kakak di sini hemm.."
"bukan begitu kak, tapi...kalau ada kakak, yang ada niah nggak bisa tidur, di temenin cowok yang gantengnya limited edition banget," batin raniah .
"ya ampun niah, ada ada saja kamu, kamu pikir kakak ini barang apa." faiz sedikit tersenyum melihat tingkah raniah.
"Tidurlah, lagipula, kakak tidak akan menggigit mu jika kamu tertidur," faiz duduk di samping raniah, dan mengelus kepala raniah seperti anak kecil.
"kak.?"
"ini rumah siapa?"
"ini rumah orang tua kakak," jelas faiz dengan senyuman di wajahnya.
"haaaa.....eemmm...."
Sebelu raniah berteriak lagi, faiz segera menutup mulut raniah dengan tangannya.
"Ssuuuuuttt....nggak usah teriak, ini bukan di hutan." jelas faiz dengan santainya.
"kenapa kakak bawah niah ke sini, tadi kan janjinya niah tinggal di kosan, kok langsung d bawah pulang ke rumah kakak, kalau orang tua kakak marah gimana.?" jelas raniah setengah berbisik
"jangan hawatir, kakak sudah pikirkan semuanya kok, kamu hanya perlu fokus untuk sembuh, dan kalau kamu mau tinggal di kosan, tunggulah sampai kamu bisa berjalan lagi,"
__ADS_1
"kalau kamu mau, kamu boleh kok tetap tinggal di sini, kakak akan lebih senang, karena kakak bisa leluasa bisa jagain kamu."
"deg."
"jagain niah, eemmm...manis banget sih, segitu sayang ya kak sama niah,
"mana bisa seperti itu kak, niah tidak bisa tinggal di sini terus, nanti apa yang di pikirkan orang-orang kalau kita tinggal satu atap,"
"Setelah niah sembuh, niah akan tinggal di kosan kakak saja,"raniah memutuskan untuk tinggal di kosan dan tidak ingin merepotkan keluarga faiz.
"tapi niah, bagaimana bisa kamu tinggal sendirian, yang ada nanti kakak malah tidak bisa tenang,"
faiz sedikit hawatir karena keputusan raniah, dia tau, jika renata sampai tau, raniah ada hubungan dengan dirinya,, maka akan lebih mudah bagi renata menyakiti raniah, kerena raniah tinggal di kosan tanpa adanya pengawasan.
"kak, dengar baik baik ya, memang benar belum ada 24 jam kita saling mengenal, dan memang benar, jika cinta dan kasih sayang itu bisa datang pada siapa saja, tapi sebelum kita mengambil keputusan, antara melanjutkan dan mengakhiri, kita harus memikirkan orang terdekat kita ."
"kakak berasal dari keluarga terpandang, jika niah tetap tinggal dalam waktu yang cukup lama, apa itu tidak akan berdampak buruk pada keluarga kakak, maaf jika ucapan niah menyakiti perasaan kamu kak, tapi jujur kak, niah tidak ingin manjadi aib dan mencoreng nama baik keluarga kakak, karena hadirnya gadis seperti niah yang tak jelas asal usulnya."
Faiz mengepalkan tangannya, Bukannya dia marah pada raniah, tapi dia marah pada dirinya sendiri, seharusnya dialah yang berpikiran seperti itu, tapi justru raniah lah yang mengingatkannya.
Bukan faiz tidak perduli terhadap keluarganya, dia hanya ingin menjaga sesuatu yang baru dia temukan, yang rasanya sudah hilang selama bertahun-tahun.
Selama ini faiz hanya sibuk bekerja, dia tidak punya waktu untuk memikirkan cinta, apa lagi jika soal wanita, faiz sama sekali tidak pernah perduli, bahkan wanita cantik seperti renata pun masih dia abaikan.
Terbukti saat dia kabur dari kantornya sendiri karena kedatangan renata, bahkan faiz mengkambing hitamkan adik nya sendiri guna meloloskan diri dari incaran renata,
"baiklah, jika kamu maunya seperti itu, tidurlah, besok kita bahas lagi." faiz berlalu pergi, tanpa mengatakan apapun lagi.
"ada apa dengan kak faiz ya?, apa dia marah denganku, tapi salahku apa? Apa dia marah karena ucapan ku tadi ya." batin raniah sedikit hawatir dan berpikir apa kesalahannya.
"Maafkan kakak niah, kakak hanya menghawatirkan kamu, kamu belum tau saja, bahaya apa yang akan mengintai kamu di luaran sana." batin faiz berlalu pergi dari kamar raniah.
__ADS_1
"sudahlah, mungkin kak faiz hanya sedang lelah, lebih baik aku tidur saja, semoga di hari esok ada senyuman di wajah tampangnya itu, wajahnya sama sekali tidak cocok jika terus di tekuk seperti tadi." raniah mencoba mengabaikan apa yang sudah terjadi, dan memutuskan untuk tidur.