Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran

Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran
Bab 23: gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran


__ADS_3

"kamu lihat faiz, bahkan calon menantu ibu tidak bermasalah dengan permintaan syarat ibu," bu ranti memeluk niah dan faiz hanya memutar bola matanya dengan malas.


"baiklah! Ibu ingin meminta syarat apa?" tanya faiz menekuk wajahnya.


"kemarilah duduk di dekat ibu," faiz mendekat lalu duduk di depan sang ibu.


"apa yang ibu inginkan?" Tanya faiz lagi.


Bu ranti melihat faiz dan niah bergantian dan mencoba untuk duduk.


"hati-hati bu," ucap niah membantunya untuk bangun.


"sudahlah jangan terlalu memperlakukan ibu seperti orang yang sekarat, lihat ibu masih sehatkan," elak bu ranti berusaha duduk sendiri.


"ya...faiz rasa seperti itu hingga wajah ibu seperti mayat hidup," ketus faiz menyindir ibunya yang di balas tatapan mengancam oleh niah.


"jaga bicaramu kak, dia ibumu sendiri, kenapa bicaramu jahat sekali, jika tidak punya bahan untuk bicara setidaknya diamlah dan dengarkan ibu yang ingin meminta sesuatu dari kita," faiz terdiam dan melirik ibunya, sekilas faiz melihat ibunya tersenyum mengejek, karena dia mendapat pembelaan dari calon menantunya.


"ibu pasti bangga sekarang karena ada yang membela ibu yang tidak ingin berobat ketika ibu sedang sakit,"


"tentu saja, tapi jangan salah, ibu seperti ini itu juga untuk kalian, di masa depan kamu akan mengerti rasanya menjadi orang tua, dan soal syarat ibu, ibu hanya ingin meminta kalian untuk mempercepat pernikahan kalian," ucap bu ranti yang tiba-tiba sedih.


"mempercepat pernikahan?, tapi kenapa bu?," tanya faiz tidak percaya dengan pikiran ibunya.


"kak ibu hanya ingin melihatmu menikah, apa salah jika ibu meminta hal seperti itu," tanya niah mencoba menahan faiz agar tidak marah.


"tapi bagai mana bisa kita mempercepat pernikahan sementara persiapan bahkan belum selesai setengah dari lima pulu persen,?" faiz memijit kepalanya yang terasa pusing dengan jalan pikiran ibunya, tapi dia juga tidak bisa menolak karena jika sampai dia tidak setuju, bisa saja kesehatan ibunya yang akan di pertaruhkan.

__ADS_1


"kak!, ibu pasti suda memikirkan semuanya, makah karena itu dia meminta kita secepatnya untuk menikah, bukankah ide ini juga datang dari ibu, aku rasa semua ini sudah di rencanakan oleh ibu, benar sepertu itu kan bu," tanya niah pada bu ranti mencari pembenaran.


"menantu ibu benar-benar sangat pandai, tidak seperti anak-anak ibu yang kurang mengerti keinginan ibunya sendiri," bu ranti sengaja memancing faiz karena dia tau faiz akan berdialog lagi jika mendapat pujian pedas dari ibunya.


"bu suda jangan mulai lagi, seperti yang ibu mau, niah dan kak faiz setuju dengan keinginan ibu, sekarang kita ke rumah sakit dulu ya wira juga pasti suda menunggu ibu di sana,"


Niah sengaja mengalihkan pembicaraan sebelum faiz terpancing lagi dengan ucapan ibunya.


"hemm ya suda bantu ibu berdiri," pinta bu ranti pada faiz.


"niah kamu di rumah saja ya, lebih baik kamu istirahat, soal ibu biar aku yang urus," ucap faiz membantu ibunya berdiri.


"iya kak, niah titip ibu ya," jawab niah membuat bu ranti berkaca-kaca meskipun dia menyembunyikan.


"emm....tetu saja kamu tidak perlu hawatir, jika suda selesai kakak akan segera pulang, kamu baik-baik di rumah ya, kalau ada apa-apa hubungi kakak secepat mungkin, dan jika butuh sesuatu panggil bi tari saja, dia akan menyiapkan apa keperluan kamu,"


"emm ya suda aku pergi dulu, ayo bu!," ajak faiz pada ibunya.


"sayang ibu pergi dulu, jangan keluar dari rumah tanpa ada faiz bersamamu," ucap bu ranti mengingatkan.


"iya bu niah akan tetap berada di dalam,"


Setelah sampai di rumah sakit, wira suda menunggu sejak tadi di luar rumah sakit, karena faiz menelponnya jika ibu mereka suda mau periksa.


Selama ini jika penyakit bu ranti kamu, mereka jarang sekali tau karena memang bu ranti sengaja tidak memberi tau mereka, jika anak-anak mereka tau bu ranti selalu menolak untuk periksa ke rumah sakit, alasannya dia tidak suka dengan bau rumah sakit.


Selama ini bu ranti hanya mengandalkan obat-obatan untuk meredakan rasa sakitnya, dan itu membuat penyakitnya semakin parah, tapi dengan adanya niah, untuk pertama kalinya bu ranti mau periksakan diri ke rumah sakit, ya meskipun niah dan faiz harus mengabulkan syarat dari bu ranti, tapi setidaknya dia suda mau berobat,.

__ADS_1


Satu roda empat berwarna hitam terparkir di depan rumah sakit, faiz turun di susul bu ranti, wira yang berdiri sejak tadi segera menghampiri ibunya.


"bu...apa ibu baik-baik saja," tanya wira yang merasa hawatir.


" seperti yang kamu lihat, ibu baik-baik saja," jawab bu ranti berusaha tegar, meski rasa sakit di dadanya mulai terasa lagi.


"ibu terlihat pucat sekali, apa ibu sudah makan, ayo kita masuk ibu harua segera di periksa, kebetulan hari ini ada dokter spesialis jadi ibu bisa langsung di tangani oleh dokter ahli,


"kenapa bukan kamu yang periksa ibu, bukankah anak ibu juga seorang dokter?," ucap bu ranti mengintimidasi anaknya.


"bu dia jauh lebih berpengalaman dari pada wira, saat ini wira hanya ingin memberi yang terbaik untuk ibu, karena itu wira meminta dokter yang lebih ahli untuk merawat ibu,"


"baiklah terserah kamu saja, ibu juga suda lelah terus berdebat dengan kalian," faiz dan wira, hanya menghembuskan nafas melihat ibunya yang tidak seperti biasanya.


"kak aku bawa ibu dulu," ucap wira pada faiz dan berlalu ke ruang pemeriksaan.


Di rumah faiz niah sedang memandangi kakinya dan menggoyangkan sedikit demi sedikit, harap niah dia ingin kakinya sembuh sebelum hari pernikahan, karena itu dia memanfaatkan kepergian faiz untuk belajar berjalan.


"ini suda hari ketiga kaki ku sakit, mumpung kak faiz tidak di rumah makah aku ini menjadi kesempatan aku untuk belajar jalan, jika ada kak faiz, dia pasti tidak mengizinkanku untuk berbuat macam-macam, tapi menurutku kakiku sudah lebih baik, jadi tidak ada salahnya jika aku mencoba, jika tidak mencoba maka aku tidak akan bisa tau bagaimana dengan hasilnya,"


Perlahan niah berdiri dan melangkah satu demi satu, ajaib kakinya benar-benar sudah sembuh bahkan niah sampai loncat kegirangan.


"aaaaa....kakiku sudah sembuh hahaha.... Aku bisa jalan lagi, kenapa tidak dari kemarin aku coba jalan ya, tau gitukan dari kemarin pasti aku suda jalan dan tidak mengandalkan kursi roda lagi,"


"saat kak faiz pulang nanti aku akan menunggunya di depan, dia pasti senang lihat aku bisa berdiri,"


Bi tari yang sedang mengepel lantai di bawah terkejut mendengar teriakan dari kamar niah.

__ADS_1


__ADS_2