Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran

Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran
Bab 48: gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran


__ADS_3

"apa? Tidak terlalu lapar,! Apa dia tidak melihat tampilanku yang ambur aduk kaya bubur," batin tika mendapat respon biasa saja,


"kalau begitu saya permisi dulu bu, saya tidak enak sam pak faiz jika meninggalkan kerjaan saya terlalu lama,"


"ya..keluarlah,! sebentar lagi suami saya juga akan kemari,"


Tika mencebikkan bibir mendengar kata suami namun tidak memperlihatkannya pada rania,


"aarrgggkk? Kenapa harus dia si pak,? Cantikan juga saya dari pada kelinci picek itu,"


"atau mungkin pak faiz yang rabun ya, kok bisa suka sama rongsokan gitu?"


"tika kamu kesel sama siapa? Kenapa wajahmu seperti benang kusut gitu." ucap akza yang mengagetkan tika yang terlihat kesal.


"eh pak akza, saya hanya sedikit lelah makannya saya kesal?" ucap tika berbohong.


Akza menutup hidung saat mencium bau yang tidak sedap di indra penciumannya.


"tik kamu mandi Enggak si kalau ke kantor" ucap akza saat menyadari bau itu berasal dari tubuh tika.


"mandilah pak, Memangnya saya bau ya?" tanya tika sambil sesekali mencium baju yang dia pakai.


Akza tidak menjawab dan langsung pergi menuju ruangannya.


"iih..ini semua gara-gara rania? Kalau saja dia meminta makanan dari restoran, gue pasti tidak bau kecut kaya gini,! Aaaa...mesti di taruh di mana muka gue, malu banget di katain bau sama pak akza,"


Tika melihat akza sudah masuk ke ruangannya dan berharap dia bisa pulang sebentar,


Baru saja hendak melangkah tapi sudah di cegat sama bunglon.


"tika mau kemana kamu,! Coba kesini sebentar"


"ada apa pak?" tanya tika berjalan menghampiri akza.


"apa kamu sudah mengantar makan siang ke ruangan pak faiz?" tanya akza terlihat sangat dingin.


"ihh..dasar bongkahan ess, mesti ku tarik mata harinya masuk ke dalam kantor, supaya dua manusia ess di kantor ini bisa segerah meleleh"


"sudah pak,! Mungkin bu niah sedang makan siang, saya juga bau seperti ini Karena habis dari luar"


"kamu beli makanan di mana hingga bau mu seperti itu," ucapan akza santai tapi sangat menjatuhkan harga diri tika.


Menyebalkan sekali,? Bisa sajakan dia tidak perlu berkata seperti itu" batin tika terlihat menekuk wajahnya.


"saya belinya tidak jauh dari sini,! Dan butuh setengah jam baru saya dapat pesanan bu niah"

__ADS_1


Akza menatap tika dari atas sampai bawah yang terlihat sangat buruk untuk di katakan dia adalah karyawan di kantor ini, karena tika lebih mirip dengan pasien rumah sakit yang tampilannya sangat acak-acakan,


"saya tidak perduli makanan apa yang kamu beli dan di mana kamu dapat membelinya,? Yang pasti bersihkan dirimu lebih dulu sebelum melakukan pekerjaan kamu kembali,"


Usai memastikan rania mendapatkan makan siang sesuai permintaan faiz, akza kembali masuk ke ruangannya tanpa menunggu jawab dari tika.


"breaakk"


Tika tersentak kala mendengar pintu yang di tutup dengan kasar.


"dassarr perjaka tua, gue sumpahin Enggak ketemu jodoh sampai rambut lo putih seputih tumpukan kertas yang ada di meja gue"


Tika menyambar tas dan keluar dari kantor,


"tik mau kemana?" tanya sindi melihat tika hanya melewatinya.


"pulang?" jawab tika singkat.


"ngapain pulang?"


"lo Enggak lihat tampilan gue kaya gini?"


"maksud lo pakaian lo itu?" ucap sindi menunjuk baju tika.


"ya sudah sana pulang? Risih juga nyium bau lo yang kurang enak?" ucap sindi berlalu dari hadapan tika.


Tika pergi dengan menghentakkan kakinya, sindi tidak perduli dan kembali bercengkraman dengan komputernya.


"sindi? Dimana tika?" sindi sangat mengenal suara itu, sindi berdiri mencari di mana orang yang memanggilnya.


"eh ayang faiz? kenapa nyari tika, mending juga sama saya yang sudah pasti ada di sini,"


"eh..pak faiz? Itu pak,! Tika barusan pulang katanya si mau ganti baaa?"


"kebiasaan kalau lihat yang ganteng," batin faiz merasa jengah dengan parah karyawannya.


"pulang? Lalu bagaimana dengan istriku? apa tika sudah mengantarkan makanan siang." tanya faiz memotong ucapan sindi


"sudah pak? Makanya tika pulang soalnya badannya bau banget habis cari pesanan bu niah" jelas sindi masih setia berdiri di depan faiz.


"memangnya istri saya meminta tika beli makanan apa? Kenapa tika sampai pulang kalau cuman beli makanan,"


"itu pak? Bu niah memintah rujak, bapak taukan tempat makanan seperti itu di mana?"


Faiz tersenyum simpul mendengar penuturan sindi, ingin rasanya dia tertawa tapi dia harus mempertahankan wibawanya.

__ADS_1


"pinter juga si rubah kecil mengatasi paran hamster, hemm..sepertinya ada baiknya juga dia ikut ke kantor, setidaknya saya tidak perlu bersusah-susah menghindari mereka karena sekarang aku sudah punya pawangnya"


"ya sudah sana kembali bekerja, saya ingin menemui istri saya." ucap faiz bergegas ke ruangannya.


"hemm...andai aku yang jadi istrinya," gumam sindi bertopang dagu melihat faiz hilang di balik pintu.


"sa? Yah! Rubah kecil lagi tidur?"


Ucap faiz meletakkan tas kerjanya di meja.


Faiz membuka jaznya dan menutupi tubuh istrinya yang kedinginan karena asee yang menyala.


"ya ampun sayang tanganmu dingin sekali" batin faiz menggenggam tangan rania untuk menghangatkannya.


"mas,! Kapan datangnya kok niah Enggak tau" nia terbangun menyadari ada seseorang di sampingnya.


"baru saja?" jawab faiz seraya tersenyum manis.


"manis banget kamu mas,! Pantes saja banyak wanita yang suka lihat senyumnya aja udah bikin ketagihan."


"ya mas tau sayang dan salah satu wanita itu adalah kamu," batin faiz mendengar pikiran rania.


"kamu sudah makan?" tanya faiz mengusap kuncup kepala istrinya.


"ehem?"jawab rania singkat, dia masih bergelayut manja di lengan besar dan kekar itu.


"mas sendiri bagaimana, sudah makan belum, maaf tadi niah hanya meminta tika untuk beli satu rujak itupun sudah habis sama nian takutnya mas juga tidak akan suka"


"tidak apa-apa sayang, temenin mas makan di kafe saja ya, nanti kita balik lagi ke kantor"


"ok,! Mau pergi sekarang atau nanti?" jawab niah membentuk huruf o di tangannya.


"sekarang juga boleh, bukankah jam makan siang sudah lewat"


"ya sudah ayo pergi" ucap rania berdiri di ikuti faiz di belakangnya.


"mau kemana pak?" tanya sindi pada faiz tanpa menghiraukan ada rania di sampingnya.


"kenapa?" jawab faiz dingin.


"eh..itu pak? Anu,! Saya cuman tanya saja?"


"kalau tidak ada yang penting jangan mengganggu saya, apa lagi jika istri saya ada di sini, jangan sekali-kali kamu membuatnya tidak nyaman dengan pertanyaanmu yang tidak penting."


"ma..maaf pak,?" jawab sindi terbata-bata, dia tau betul jika faiz memberinya peringatan, maka jangan coba-coba untuk mencelanya, jika tidak siapa saja bisa menyesal jika mengganggu ketenangan singa jantan itu

__ADS_1


__ADS_2