
"pak madi, bantu wirah di luar, jangan sampai renata menerobos masuk, wanita itu benar-benar menyusahkan." kesal faiz atas kedatangan renata yang secara tiba-tiba.
Faiz membopong raniah, sementara kursi di bawa oleh pak ardi dengan di ikuti bu ranti.
"niah kamu di kamar ibu dulu ya, kakak temui renata dulu, jangan hawatir kakak akan segera kembali,"
Faiz berlalu pergi tanpa menunggu jawaban raniah.
"bu siapa wanita itu?, kenapa kak faiz menyembunyikan niah di kamar ibu, Kenapa niah tidak boleh bertemu dengan wanita itu, apa wanita ituuu...?"
"sssssssttttt...jangan berpikiran yang aneh aneh, wanita yang di bawa sana, bukanlah wanita baik baik, sebenarnya dia sangat cantik, dan cukup berpengaruh di dunia politik, tapi karena sikapnya yang arogan, membuat citranya rusak dengan sendirinya,"
"apa hubungan dia dengan kak faiz,?" tanya raniah dengan sedikit murung.
"sayang dia bukan siapa-siapa faiz, memang benar wanita itu menyukai faiz, tapi faiz tidak menyukainya, ibu pun juga tidak suka dengan wanita itu, jadi berhentilah merasa hawatir,"
"bu niah hanya tidak ingin menjauhkan mereka, jika mereka memang saling mencintai,"
"hemm...saat ini kamu belum mengerti siapa renata itu, tapi, suatu saat pasti kamu akan paham, jika kamu bertemu secara langsung dengannya, dan kamu sendiri pasti bisa menilai, apa yang tidak di sukai faiz dari wanita itu."
"ibu akan ke bawah, kamu tunggu di sini ya," bu ranti pun pergi, kini hanya raniah yang berada di kamar.
Di bawah, renata memaksa masuk, tapi terus di halangi wirah, hingga wirah mendapatkan tamparan dari renata.
"cukup renata, berhentilah selalu berbuat onar," faiz tiba dan melerai renata yang terus saja mengamuk seperti singa kelaparan.
"ini semua gara-gara kamu, jika saja kamu tidak selalu mengabaikan aku, aku tidak akan brutal seperti ini," ucap renata berapi-api.
"seharusnya kamu mengerti, di saat aku mengabaikan kamu, itu artinya aku tidak punya perasaan apapun terhadap kamu,"
Wirah dan bu ranti yang baru tiba dari atas, kini cukup jadi penonton saja, mereka berdua akan membantu seperlunya saja.
"tidak punya perasaan?, kamu bilang kamu tidak punya perasaan?," renata menunjuk faiz tepat di dadanya.
"apa waktu yang kita lewati bersama tidak cukup untukmu mencintaiku, apa kamu sesulit itu untuk membalas perasaanku, apa karena itu juga, kemarin kamu menghilang selama dua hari hanya untuk menghindar ajakan makan malam ku,"
"iya?"
renata mengepalkan tangannya, dengan penuh amarah, Renata berniat menampar faiz, tapi faiz mengetahui pergerakannya.
"cukup Renata?, jangan membuatku semakin membencimu, seharusnya kamu sadar, dengan sikapmu yang tempramental seperti ini, semua orang akan menjauh darimu,"
"pulanglah?, sebelum aku mengambil tindakan kekerasan?" ucap faiz dengan tenang, tapi setiap ucapannya penuh penekanan.
__ADS_1
"tidak?, aku tidak mau pulang, enak saja kamu menyuruh ku untuk pulang, setelah dua hari kamu mempermainkan aku untuk mencari mu,"
"memang siapa yang menyuruh kamu untuk mencari ku, kamu nya saja yang tidak punya malu, terus mengejar orang yang sudah menolak mu berkali-kali,"
"aku seperti itu karena aku mencintai kamu, apa kamu belum paham ha?, teriak Renata, seakan rumah faiz adalah kekuasaannya.
"lihatlah apa yang kamu lakukan, siapa yang akan paham jika kamu punya rasa cinta, jika kelakuan kamu saja seperti preman pasar, body saja ok, tapi etikanya minus,"
Bu ranti sejak tadi hanya menyimak saja, dia ingin bicara, tapi faiz memberi kode agar tidak ikut campur.
"wirah bawa ibu ke atas," tita faiz pada adiknya.
"iya kak,? Ayo ibu ke kamar saja, biar kakak yang mengurus dia," bisik wira pada ibunya.
Bu ranti hanya menganggukkan kepala pertanda dia setuju untuk Kembali ke kamar.
" kalian akan menyesal karena sudah membuatku marah, dan kamu faiz?, aku berjanji, aku akan buat perhitungan untukmu, jika kamu tidak bisa menjadi milik aku, maka siapapun tidak boleh memilikimu," ancam renata dan bergegas pergi dari kediaman keluarga Dirgantara.
Setelah kepergian renata, faiz menutup pintu dan bersandar, kini pikirannya tertuju pada raniah, apa yang akan terjadi selanjutnya jika renata sampai tau tentang raniah.
"kak, apa dia sudah pergi?" wirah turun kembali Setelah mengantar ibunya ke kamar.
"emmm," hanya itu, faiz masih bingung apa yang akan terjadi selanjutnya.
"niah, ayo ibu antar ke kamar kamu biar kamu bisa istirahat," baru saja membuka pintu faiz sudah berdiri di depan mereka.
"faiz, ngagetin aja, gimana? Apa dia sudah pergi,"
"sudah bu,"
"syukurlah," akhirnya bu ranti bernafas lega, sejak tadi dia sangat hawatir, melihat renata yang sulit di nasehati.
"ibu mau ke mana dengan raniah," tanya faiz pada ibunya.
"ibu mau antar raniah ke kamarnya agar di bisa istirahat," jelas bu ranti mengatakan.
"sini biar faiz saja, ibu istirahat saja, faiz juga ingin bicara sebentar dengan raniah,"
"baiklah kalau begitu kamu saja yang antar,"
"iya bu,"
Bu ranti menutup pintu, dan faiz mendorong kursi raniah masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Faiz mengangkat raniah dan meletakkan raniah di tempat tidur.
"kak?"
"emmm,"
"lihat aku kak?"
Faiz melihat raniah dan duduk saling berhadapan.
"apa ada masalah, kenapa sejak tadi kakak hanya diam saja, apa kakak tidak ingin bercerita sama aku, mungkin itu akan mengurangi beban pikiran kamu, yeaa..setidaknya bisa membuat kak faiz akan jauh lebih tenang," ucap raniah sambil berpangku tangan di depan faiz.
Faiz masih bingung harus memulai darimana, cukup lama faiz terdiam, dan akhirnya diapun mau bercerita.
"raniah apa kamu mencintaiku,?"
"tentu saja, aku juga mau menikah karena aku mencintai kamu, dan bukan karena kasihan pada ibu.
"suatu saat, setelah kita menikah, jika ada seorang wanita yang datang padamu dan mengatakan, ada wanita lain selain kamu dalam pernikahan kita, apa kamu akan percaya begitu saja,"
Kini faiz menatap raniah, dengan menggenggam tangan raniah.
"sebenarnya apa yang kamu tanyakan?, kepercayaan ku, atau kesetiaan ku,"
"aku mempertanyakan ke duanya?"
"emm...begitu ya?"kata raniah mulai berpikir.
"eemmmm"
"hubungan di mulai dengan landasan kepercayaan, tanpa kepercayaan hubungan akan hancur, Jika suatu saat apa yang kamu katakan benar akan terjadi, maka aku akan percaya apa yang menurutku benar,"
Faiz terdiam, masih terus menatap raniah.
"kak, kedepannya, apapun yang terjadi kita hadapi sama-sama ya, tidak usah merasa hawatir akan kehadiran seseorang, anggap saja mereka hanya mencuci mata melihat kebahagian kita,"
Faiz yang sejak tadi hanya terdiam, kini tersenyum walaupun hanya sedikit.
"Terimakasih niah, kini kakak jauh lebih tenang, tidurlah kamu pasti lelah,"
Faiz berdiri dan menyelimuti raniah, tak lupa mengecup kening raniah.
"mimpi yang indah ya," ucap faiz dan berlalu pergi, sementara raniah masih menetralkan degup jantung.
__ADS_1