
"Sudahlah aku juga nggak sengaja, aku minta maaf ya, sini aku gendong lagi."
"Pintunya jangan di tutup lagi sakit tau."
"iya...ayo berikan tanganmu."
niah mengulurkan tangannya dan faiz meletakan tangan niah di pundaknya, saat pandangan mereka bertemu, sedikit demi sedikit jarak semakin terkikis bahkan suara nafas mereka dapat terasa oleh wajah mereka, namun di detik-detik terakhir pengacau datang dan merusak momen mereka,! wira? Orang yang sejak tadi dia pikirkan, entah dari mana datangnya, tiba-tiba dia suda berada tepat di belakang faiz.
"Ehemmm....!"
niah membulatkan matanya karena ada orang yang melihat apa yang mereka berdua lakukan, berbeda dengan faiz, dia justru biasa saja karena dia suda tau siapa pemilik suara itu.
"Dasar pengacau."
Batin faiz berbalik dan melihat ada wira.
"Kak faiz dari mana saja, kau tau?"
"aku tidak tau? Kamu kan belum bilang."
Wira belum selesai berbicara, faiz suda memotongnya lebih dulu.
"Ih...dasar! Makanya dengerin dulu?"
Wira merasa kesal karena tindakan kakaknya sendiri.
"Mau ngomong apa sih adik kecil?"
niah yang mendengar faiz memanggil adiknya dengan sebutan adik kecil sontak saja membuat niah tertawa terbahak-bahak.
"Hei kamu siapa?, dan kenapa kamu menertawakan ku."
niah merasa takut dan bersembunyi di belakang faiz karena faiz memang belum menggendongnya.
"Emmm...adik kecil kenalkan ini raniah."
"Lalu kenapa dia datang dengan kamu kak.
Dan satu lagi? berhenti memanggilku adik kecil."
"Wira bisa kakak masuk dulu dengan niah."
"Jawab dulu pertanyaan ku, baru kakak boleh masuk."
"Wira kakinya sedang sakit, dia butuh di tangani, jika di biarkan nanti kakinya membengkak, kakak janji akan menjawab semua pertanyaan kamu, tapi nanti ya setelah niah kamu periksa."
"Bukan hanya masalah gadis ini yang harus kamu jelaskan, tapi kamu juga harus menjelaskan kemana saja kamu seharian ini sehingga dedemit itu sampai datang kesini hanya untuk mencari mu, dan kenapa kau begitu menghawatirkan wanita ini, apa dia kekasihmu?"
__ADS_1
ucap wira panjang lebar.
"Ya allah dia adik ku atau bukan sih, mengapa sikapnya seperti seorang wanita yang sedang mengintrogasi kekasihnya, pertanyaannya panjang sekali seperti kereta api," batin faiz menghembuskan nafas dengan kasar.
"Iya iya nanti kakak jelasin ok, sekarang tolong kamu obati dulu kakinya, kakak peduli padanya itu karena kakak yang nabrak dia."
"Itu salah kakak bukan salah aku, lalu kenapa harus aku yang mengurusnya."
Ketus wira yang masih kesal karena renata.
"Apa karena renata kamu jadi lupa kalau kamu itu seorang dokter.?"
"Tentu saja tidak, mengapa aku harus lupa dengan profesi ku hanya karena wanita gila itu."
"Bisa saja kau suka padanya?"
"ih!...najis,? ya sudah cepat bawa dia masuk,
Aku juga masih banyak pasien, gara-gara renata datang kesini jadwal pasienku berantakan semua."
"Ayo kita masuk,"
Faiz mengajak niah untuk masuk tapi niah justru merasa takut pada wira dan memutuskan untuk tidak jadi periksa.
"Bang faiz dokternya galak niah nggak usah di periksa ya,"
"Niah dengerin aku!..kaki kamu memang hanya ter kilir, tapi? jika di biarkan seperti itu terus, yang ada nanti kakimu di amputasi?"
Faiz hanya menganggu kan kepalanya pertanda apa yang dia katakan semua itu benar adanya.
"Emm....tapi, di amputasi itu apa sih bang faiz."
Faiz tercengang mendengar pertanyaan niah, dia tidak habis pikir jika gadis desa ini benar-benar tidak tau apa-apa, Nyatanya di amputasi saja dia nggak tau..
"Emm..begini niah! Kakimu sedang sakit bukan?"
"Eeemmm..!"
"jika tidak segera di tangani kakimu akan membengkak dan iritasi bahkan bisa membusuk, jika kakimu sampai membusuk itu artinya kakimu harus di amputasi dengan kata lain kakimu harus di potong!"
jelas faiz dengan begitu rinci.
"Ha? di potong....tidaaaaaak...!"
"tidak usah berteriak, kamu mau aku di gebukin orang."
"nggak mau! Memangnya bang faiz salah apa sampai di gebukin orang."
__ADS_1
ucap Niah berbicara sambil menangis.
"Ya ampun gadis ini benar-benar keterlaluan,"
batin faiz, kehabisan akal.
"Untuk apa kamu nangis, kan cuman periksa doang."
Faiz berusaha membujuk niah agar mau di periksa.
"Bang niah takut dokternya galak, kalau kaki niah beneran di potong bagai mana? Niah jalan pakai apa kalau nggak punya kaki." niah semakin histeris dan membuat faiz sedikit meninggikan suaranya.
"Niah tolong berhentilah berpikiran buruk, kamu periksa aja belum,? ini kok malah takut duluan sih, ayo kita masuk, kamu nggak usah takut aku kan nemenin kamu sampai selesai di periksa."
Faiz kemudian membopong niah dan membawanya masuk ke rumah sakit, faiz bertanya pada suster di mana ruang rawatnya, suster itupun mengantar mereka ke ruangan yang di dalam sudah ada wira yang sudah menunggu sejak tadi.
"Ini pak ruangannya, kalau begitu saya permisi dulu,"
"Iya suster terimakasih..!"
Setelah kepergian suster itu, faiz meminta niah membuka pintu, sebenarnya faiz bisa membuka pintu, karena faiz masih membopong niah jadi faiz mengurungkan niatnya, faiz lebih memilih niah yang membukanya.
"Niah tolong buka pintunya?"
"Apa dokternya di dalam."
"Emmm.....!"
"Hai kalian masuklah kenapa hanya berdiri di depan pintu, letakan dia di sana biar ku periksa."
"Bang faiz?"
"Ada apa?"
"Aku lapar, apa setelah ini kita bisa cari makan."
"Ah..iya aku juga lapar nanti setelah kau periksa kita cari makan setelah itu aku akan mengantarmu untuk pulang."
"Iya...Terimakasih ya bang faiz, untung aku bertemu dengan bang faiz, kalau aku bertemu dengan orang seperti preman tadi, pasti niah udah jadi gelandangan."
"Iya sama-sama, oh iya apa kamu suda menghubungi keluarga kamu?"
"Belum bang faiz, tadinya niah mau nelfon bibi di kampung kalau niah udah nyampe, tapi niah malah di jambret dan semua barang niah di ambil termasuk ponsel aku, sekarang bibi pasti hawatir karena niah nggak ngasih kabar,"
"Ternyata di balik kepolosan gadis ini. Dia memiliki kasih sayang yang begitu besar, nyatanya dia masih menghawatirkan perasaan bibinya yang hawatir, padahal keadaan dia sendiri sangat menyedihkan, jika aku jadi dia, mungkin aku akan lebih fokus pada keadaanku sendiri, dari pada sibuk mikirin orang yang jauh yang belum tentu menghawatirkan ku," Batin faiz.
"Niah..kamu nggak perlu hawatir aku pasti bantu kamu hubungin keluarga kamu, mungkin aku juga nggak bisa bantu banyak tapi setidaknya untuk saat ini kamu itu nggak Sendirian kok, kalau Kamu butuh apa-apa kamu bilang sama aku aja, ini kartu namaku kamu bisa hubungin aku lewat situ."
__ADS_1
"bang faiz baik banget, tadinya sih aku bingung mau tinggal di mana? Tapi setelah ketemu bang faiz niah jadi ngerti harus kemana? kemana lagi coba kalau nggak pulang ke bang faiz, habis ini bang faiz ajak aku belanja dong, soalnya niah nggak punya pakaian ganti termasuk pakaian dalam hehehe..." batin niah, senyum senyum nggak jelas.
Faiz Sungguh ingin menertawakan niah dan juga merasa geli karena harus membeli barang yang sangat di butuhkan niah ya itu daleman, tapi faiz berusaha agar tawanya tidak pecah dan membuat niah tersinggung.