Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran

Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran
Bab 22: gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran


__ADS_3

"braaakkk,"


"berani sekali wanita sialan itu menghinaku, bahkan faiz pun turut ikut andil, tidak? Aku tidak bisa membiarkan siapa pun memiliki faiz, karena hanya aku yang berhak, hhhhh.....sepertinya wanita itu harus di beri sedikit kejutan,"


Ucap renata dengan senyum sinisnya.


"suara apa itu, apakah itu renata, kenapa dia pulang dengan perasaan kesal, ya allah kapan anak itu mau berubah," ucap pak adi keluar melihat putrinya.


"ada apa sayang, kenapa kamu kesal begitu," ucap pak adi menghampiri putrinya.


"bukan urusanmu!," ketus renata dengan tatapan yang mematikan.


"baiklah jika kamu tidak mau cerita, tapi setidaknya jangan membuat keributan, ucap pak adi berlalu pergi.


renata menatap punggung sang ayah yang menghilang di balik pintu kamar, ada rasa sakit ketika dia tidak perduli dengan kehadiran ayahnya,


"kenapa yah, kenapa kamu membiarkan aku sendiri, kenapa ayah tidak pernah bisa melihat bahwa di rumah ini kamu punya seorang putri kecil yang sangat membutuhkanmu," renata menjatuhkan tubuhnya kelantai dan menangis tanpa bersuara sama sekali.


"kenapa yah? Kenapa baru sekarang kamu menunjukkan kepedulian mu, saat aku kecil ayah kemana saja, renata Kecil begitu merindukan mu di masa kecilnya, tapi renata yang sekarang, jangan kan rindu, bahkan dia tidak bisa merasakan kapan terakhir kali dia merasa bahagia,"


"praannkk?"


Suara benda jatuh berhamburan di lantai, renata semaikan kesal dan menghancurkan semua barang-barang yang dapat di raihnya..


"Aaaaaaa....aku benci kalian semua, aku benci jika kalian bahagia, aku tidak ingin melihat ada senyuman di wajah kalian, aku akan lebih senang jika kalian semua menderita sepertiku,"


Dengan perasaan yang semakin kesal renata mengitari seluruh ruang tamu, mengambil! Dan menghancurkan apa yang dapat dia hancurkan.


"prraaankk...praaannkk...praannkk,"

__ADS_1


"AAaaaaa...hiks...hiks...ibu...aku sangat lelah, bisakah ibu menemaniku untuk tidur, hiks...hiks...hiks, ibu maafkan rena,"


Setelah cukup lelah renata pun tertidur di sofa dengan memeluk foto almarhum ibunya.


Sejak tadi pak adi melihat apa yang di lakukan renata, dia tidak dapat berbuat apa-apa selain ikut menangis dalam diam, saat ini renata bahkan melampaui batas kewarasannya, dia histeris seperti orang yang tidak punya akal sehat, dengan perasaan sedih pak adi menyelimuti putrinya dan membiarkannya tidur di sofa.


"bu! lihatlah anak kita, jika kamu masih di sini, mungkin dia tidak akan seperti ini, maafkan ayah bu, maafkan karena ayah telah lalai mendidik anak kita," ucap pak adi sesegukan namun secepat mungkin dia pergi, takut nanti akan membangunkan putrinya dengan suara tangisnya.


Di kediaman Dirgantara.


Sebuah mobil hitam memasuki halaman rumah, mereka baru kembali dari butik, sementara wira kembali lagi ke rumah sakit,


"ok sekarang kita suda sampai, tunggu sebentar kakak ambil kursinya dulu,"


"emmm"


Saat keluar dari mobil, faiz berpapasan dengan pak madi yang sedang terburu-buru.


"iya tuan muda ada apa?"jawab pak madi yang terlihat cemas.


"seharusnya saya yang bertanya ada apa? Kenapa kamu buruh-buruh begitu, apa ada hal yang penting," tanya faiz dengan tatapan menyelidiki.


"tuan muda, saya hanya ingin pergi menebus obat untuk ibu, soalnya penyakit ibu kambuh lagi dan kebetulan sekali stok obatnya sudah habis, jawab pak madi menjelaskan,


Faiz segera mengambil kursi niah dan membantunya duduk,


"ada apa kak, Kenapa kakak tegang begitu," tanya niah memperhatikan faiz.


"penyakit jantung ibu kumat lagi,"jawab faiz segera masuk kedalam rumah.

__ADS_1


Sesampainya di kamar faiz menghampiri ibunya, kali ini penyakit bu ranti semakin parah, dan itu selalu di sembunyikan bu ranti, dai hanya tidak ingin membuat anak-anaknya merasa hawatir, dan tibalah hari ini dimana dia tidak bisa menyembunyikan lagi penyakitnya yang semakin hari semakin membuatnya lemah.


"bu..! Faiz di sini, kenapa ibu tidak menghubungi faiz kalau ibu sedang sakit,ucap faiz begitu hawatir.


"ibu tidak apa-apa nak, jangan hawatir ibu pasti bisa sembuh dan melihat anak-anak ibu menikah,"ucap bu ranti dengan wajah yang sangat pucat namun masih terlihat bahagia.


"bu! Kita ke rumah sakit saja ya, jika di rumah sakit ibu akan lebih cepat di tangani," tawar niah dan faiz juga setuju dengan usulan nia, tapi tetap saja bu ranti tidak mau ke rumah sakit.


"bu!..ibu tau kenapa anak ibu wira mau menjadi dokter," tanya niah dan d sambut geleng oleh bu ranti.


"seseorang ingin menjadi dokter hanya memiliki dua alasan, yang pertama, dia ingin mengabdi pada negara dan membantu kesembuhan orang-orang di sekitar yang membutuhkan pertolongan, yang ke dua, suatu saat jika salah satu anggota keluarganya ada yang sakit, dia pasti ingin menjadi orang yang pertama memberikan kesembuhan untuk keluarganya,"


"saat ini! Anak ibu wira adalah seorang dokter, dan sekarang ini ibu sedang membutuhkan penanganan yang cepat, jika ibu tidak ingin ke rumah sakit, wira pasti merasa sia-sia melakukan pekerjaannya sebagai dokter,"


"kenapa dia merasa sia-sia, bukankah dia suda mencapai impiannya sebagai dokter," ucap bu ranti masih dengan egonya.


"bu maksud niah, ibu berobatlah jika ibu memang ingin sembuh, anak ibu seorang dokter dia pasti akan mengurus ibu sangat baik, di samping itu akan ada niah dan juga faiz yang nemenin ibu,"


Sejenak bu ranti terdiam dan menimbang usulan niah, tidak di sangka sang ibu pun mau di periksakan ke rumah sakit.


"ibu akan berobat ke rumah sakit wira, tapi ibu punya syarat untuk kalian, bagai mana kalian berdua setuju?," tanya bu ranti menunggu jawaban niah dan faiz.


"apa pun itu kami akan berusaha memenuhi syarat ibu asalkan ibu mau berobat," jawab niah meyakinkan.


Bu ranti begitu bahagia, bagaimana tidak? Dia akan meminta faiz dan niah mempercepat pernikahan mereka, bahkan semua persiapan sudah selesai tanpa sepengetahuan mereka berdua,.


"bu...apa ibu tidak ingin sehat, kenapa harus memberi kami syarat, tidakkah itu keterlaluan," ucap faiz tidak setuju dengan permintaan ibunya.


"jika ingin ibu sembuh maka turuti keinginan ibu, lagi pula niah juga setuju ibu mengajukan syarat, anggap saja ibu sedang mencari peruntungan dari kalian,"

__ADS_1


"kak biarlah, mungkin ibu hanya ingin kita sedikit perhatian padanya, sudahlah jangan terlalu keras padanya, lagi pula itu hanya sebuah syarat jadi tidak perlu di besarkan,"


"hari ini ibu boleh meminta apa saja! Selama selagi niah masih hidup niah pasti memenuhi keinginan ibu, tapi setelah itu, ibu harus menepati janji ibu, setiap satu bulan sekali ibu harus periksakan kesehatan ibu, apa ibu setuju," tanya niah menanti jawaban calon ibu mertuanya, yang di sambut dengan senyuman hangat oleh bu ranti


__ADS_2