Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran

Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran
Bab 20: gadis desa dam ceo ganteng pembaca pikiran


__ADS_3

renata menyusuri setiap sudut tokoh, tanpa sengaja dia melihat dua sepasang kekasih yang sedang mengenakan pakaian pengantin, renata benar-benar marah, saat dia tau siapa mempelai prianya.


"faiz? Apa itu Sungguh faiz, tapi! Kenapa dia mengenakan baju pengantin?,"


ucap renata yang masih saja memperhatikan gerak-gerik faiz, yang sedang berbincang dengan seseorang.


"baiklah,! sepertinya hari ini cukup untuk baju pengantin saja, sisanya biar saya yang mengurusnya, niah juga butuh istirahat jadi tolong siapkan yang ini saja,"


"baik pak faiz, sesuai dengan instruksi anda, sehari sebelum hari pernikahan, pakainya akan kami antar ke rumah anda," ucap bu mega sedikit menjelaskan.


"tentu saja,! Kalau begitu saya permisi dulu,"


"iya pak, dan Terimakasih atas kunjungan anda di tokoh saya,"


"sama-sama bu mega, saya juga senang berkunjung di tokoh anda, selain barang-barang anda yang berkualitas, saya juga senang dengan pelayanan anda, terlebih lagi pemilik tokonya sangat rama dengan pengunjung,"


"hhh...Terimakasih atas pujiannya, saya akan pertahankan itu, Semoga setiap pengunjung bisa selalu puas dengan pelayanan kami,"ucap bu mega menimpali.


"amin ya bu, kalau begitu saya permisi dulu,"


"iya pak silahkan,"


sebelum keluar dari tokoh, faiz sekilas faiz melihat renata, faiz memperhatikan lebih jelas lagi, ternyata dugaannya memang benar itu adalah renata.


"ya tuhan, renata masih di sini, aku harus segera menghubungi wira, agar dia menghalau renata dan aku bisa membawa niah pergi dari sini,"


secepat mungkin faiz merogoh saku celananya, guna mencari benda pipi itu?.


"kak kenapa berhenti, ayo Kita pulang, niah rasanya sangat lapar kak,"

__ADS_1


sejak tadi pagi niah belum makan, faiz pun juga sama, karena pagi-pagi sekali sang ibu membuat drama dulu, hingga mereka datang kesiangan ke butik.


"oh ya ampun, kakak lupa kalau kita tidak sarapan pagi, kalau begitu sebelum pulang kita makan dulu, di depan sana ada kafe, kita makan di sana saja,"


"emmm,?"


"Sebaiknya aku kirim pesan saja ke wira agar dia lekas ke sini, Semoga saja renata tidak mendatangi aku," batin faiz terus mengawasi sekitarnya.


Baru saja beberapa langkah, renata sudah menghadang jalan mereka?.


"oh jadi ini perempuan yang sudah merebut kamu dari aku, apa bagusnya sih dia dari pada aku, cantikan juga aku, ternyata selera kamu jelek banget ya,"


"faiz faiz, kamu itu ganteng, kok mau sih sama perempuan cacat kaya dia?, kenapa kamu tidak pilih aku saja, yang tentunya sangat sempurna, tidak seperti dia, yang bisanya nyusahin orang," tunjuk renata tepat di wajah niah.


"cukup renata, jauhkan tanganmu dari niah, apa kamu tidak malu menilai kekurangan orang lain tanpa melihat apa yang kurang di diri kamu,"


Bentak faiz pada renata yang sudah keterlaluan.


ucap renata mendorong bahu niah.


"kamu benar-benar keter...?"


"cukup kak ayo kita pergi," faiz belum selesai berucap niah sudah mengajaknya untuk pergi, tapi? Bukan renata namanya jika dia tidak membuat drama.


"kenapa terburu-buru, kita bahkan belum kenalan, ucap renata memainkan rambut niah.


"semua orang pasti akan mengenal kamu, hanya dengan melihat penampilan dan sikap kamu, jadi aku rasa kita tidak perlu berkenalan, karena aku sendiri tidak punya selera untuk berkenalan,"


Faiz yang mendengar ucapan niah, benar-benar tidak percaya, jika niah sama sekali tidak takut dengan karakter renata yang jahat.

__ADS_1


"berani sekali kamu? sebaiknya jaga bicaramu itu, karena jika tidak kamu akan menyesal telah membuatku marah," ancam renata namun sama sekali tidak di hiraukan niah.


"sepertinya aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni kamu, jadi maaf kami harus pergi, bukankah seperti itu sayang," niah sengaja menekan kata sayang berharap wanita di hadapannya bisa mengerti di mana posisinya saat ini.


"kau? Siapa yang memberimu wewenang untuk memanggilnya seperti itu, asal kamu tau hanya aku yang berhak memanggilnya sayang, jadi jangan coba-coba mencari masalah denganku,"renata semakin terbakar emosi hingga suara gertakan giginya bisa terdengar.


"apa kamu sedang mengancam ku,"


"bukan mengancam, tapi memperingati mu supaya tidak melewati batasan mu,"


"hem...begitu ya? Tentu saja aku pasti akan selalu ingat, tapi sebelum kamu kamu memperingati ku, aku sarankan sebaiknya kamu mencerminkan dirimu dulu sebelum memperingati orang lain," balas niah tak kalah sengit


Faiz cukup mengawasi renata saja, jangan sampai dia menyerang niah.


"ayo kak kita pergi, aku tidak nyaman berlama-lama di sini," ucap niah mengibaskan tangannya sementara tangan yang satunya lagi mendorong kursinya dengan di ikuti faiz dari belakang.


Tapi bukan renata namanya jika dia akan menerima begitu saja sebuah penghinaan, dengan satu tarikan mampu membalikkan kursi niah hingga niah terjatuh dengan kursi yang berguling bersamanya.


"renata beraninya kamu menyakitinya, apa kamu tidak melihat jika niah sedang sakit," faiz begitu marah, bahkan dia tidak berpikir lagi siapa lawan bicaranya.


"kenapa kamu lebih membela dia dari pada aku, apa kurangnya aku di mata kamu, apa sebegitu cinta kamu sama dia sehingga kamu tidak memandang aku lagi sebagai seorang wanita, aku yang mengenal mu lebih dulu, di setiap kesulitan mu akulah yang ada untukmu, tapi hanya untuk wanita yang baru beberapa hari kamu kenal, kamu bahkan berani berteriak padaku,"


"memang benar aku baru mengenalnya beberapa hari, dan jika aku lebih memilih niah dari pada kamu, itu karena niah lebih pandai menempatkan dirinya pada setiap situasi, sementara kamu? Kamu lebih senang menempatkan diri di tempat yang salah, kau tau kenapa? Itu karena karena kamu tidak dapat merasakan perasaan orang lain,"


"kak sudahlah apa gunanya berdebat dengannya, ayo kita pergi saja," ucap niah menggandeng tangan faiz, renata yang melihat itu tentu saja sangat cemburu dan marah, baru saja renata melangkah, wira sudah lebih dulu mencekal tangannya.


renata berbalik menyadari ada yang menghentikannya, Bukannya marah renata justru jauh lebih kesal lagi karena orang yang menghalanginya adalah wira.


"wira? Lepaskan aku, aku harus memberinya pelajaran," kata renata yang berusaha lepas dari wira, tapi karena tenaganya tidak sebanding dengan tanaga wira,.

__ADS_1


"renata sepertinya aku harus memberimu obat penenang agar kamu bisa lebih tenang," bisik wira pada renata.


"wira kamu akan menyesali karena telah menyembunyikan semua kebenaran ini, tunggu saja aku tidak akan tinggal diam, aku pasti akan kembali dan membalas kalian bertiga," setelah berucap renata pergi dengan penampilannya yang berantakan.


__ADS_2