Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran

Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran
Bab 70: gadis desa dan coe ganteng pembaca pikiran


__ADS_3

"ya allahu robbi...bisa nggak si hati-hati kalau jalan, kalau jatuh gimana?"


Ih wira ini cerewetnya ngalahin emak emak komplek.


"iya iya ini juga sudah hati-hati,"


"sekarang aja baru bilang hati-hati,! Tadi mah nyelonong aja." grutunya nggak ada habisnya.


Aku heran de! Tiap kali ngomong sama wira bawaannya tensi mulu,


"udah ni ya, aku mau ke toilet, ayo temenin,! Kamu di luar aja nggak usah ikutan masuk." ajak ku pada wira.


Setelah ke toilet, aku memutuskan untuk pulang karena kaki ku rasanya sudah mau patah jalan terus sejak tadi.


"udah?" tanya wira bersidekap tangan di depan tiolet wanita.


"iya sudah,! Ayo pulang aku sudah capek?"


"pulang sekarang?"


"besok? Ya sekarang lah kan aku sudah bilang aku capek?" nih orang nggak peka banget.


"ya sudah ayo pulang" ajaknya tanpa banyak protes.


"gendong?" rengek ku merentangkan tangan.


Tanpa banyak bertanya wira berjongkok di depan ku hingga memudahkan aku naik ke punggungnya.


"ya allah berat banget,"


"apa berat? Mana mungkin berat wir,! Badan aku kan kecil." protes ku tak terima di katai berat.


"hahahaha...gitu aja marah, nanti lekas tua loh."

__ADS_1


"kamu nyumpahin aku?"


"eh kak? Aku nggak bilang gitu ya,"


"Tapikan kamu?"


"maaf de aku ngaku salah, jangan marah terus kasian anak kamu itu" ucapnya memotong ucapan ku.


Setelah masuk dalam mobil, selang beberapa detik akhirnya sampai juga di apartemen, wira turun lebih dulu, karena aku sudah tertidur sejak tadi.


Wira membawaku dan naik ke lantai empat di mana letak apartemennya dan membawaku masuk saat lift sudah terbuka.


" waw....jadi ini yang di sebut adik ipar tapi rasa suami." ucap seseorang membangunkan aku yang tertidur pulas di gendongan wira, suaranya sangat familiar di telinga ku,


"kak faiz?" ucap wira menetap lurus ke arah ruang tamu di mana sosok pria berdiri dengan sorot mata yang sangat memuakkan, ya setidaknya itu yang kurasakan, semenjak dia dengan mudahnya melontarkan kata-kata merendahkan.


Wira ingin menurunkan ku tapi aku tetap mengalungkan tangan ku di lehernya, aku ingin lihat apa lagi yang akan dia katakan.


"kak turun nanti kak faiz makin salah faham" bisik wira padaku namun aku hanya fokus kepada orang yang sedang menatap ku dengan tatapan merendahkan.


"he? Jaga bicaramu, apa kamu lupa sedang berbicara dengan siapa ha?" bentaknya maju beberapa langkah, namun dengan sigap wira menurunkan ku dan berdiri di depan ku.


"tolong kak jangan membuat keributan, ini apartemen ku, jangan sekali-kali mengacaukan tempat tinggal ku." ucap wira masih dengan intonasi di bawah rata. Aku tau dia juga sedang berjaga-jaga, siapa lagi yang mengenal si burung gagak kalau bukan adiknya sendiri.


"tenang saja aku juga datang kesini untuk meminta tandatangan wanita yang bersembunyi di belakang kamu itu." ucapnya menunjuk ku dengan seringai jahatnya namun terlihat lucu di mata ku.


Aku keluar dari persembunyian dan berdiri tepat di depannya, tentunya ada wira di samping ku.


"berikan kertasnya?" ucap ku menengadahkan tangan ku meminta secarik kertas putih yang membawanya datang ke sini.


"setelah ini kita bukan siapa-siapa lagi, aku berharap kedepannya mas faiz bisa menemukan jodoh seperti yang mas faiz mau, maaf? aku belum bisa menjadi yang terbaik buat kamu, dan aku harap jangan ada penyesalan setelah keputusan yang kamu ambil, aku rania dengan tanda tangan ini memutuskan hubungan dengan kamu faiz Dirgantara, setelah ini jangan ganggu hidupku lagi."


Sakit sudah pasti? Perih sudah pasti kurasakan, namun aku bukanlah wanita lemah yang akan terus menangis dan meraung seperti orang yang tidak punya rasa malu.

__ADS_1


Ku tinggalkan kertas itu di atas meja tanpa berkata apa-apa, kurasa tanda tangan itu sudah cukup untuk membungkam mulutnya.


"hai mau kemana? kenapa buruh-buruh sekali, duduk lah, apa kamu tidak ingin membicarakan pernikahan kamu dengan adik ku wira, bagaimana pun aku tetap kakak wira, selain menjadi mantan suamimu, aku juga akan menjadi kakak iparmu" jelasnya tanpa rasa malu, ingin sekali aku menelannya hidup-hidup,


"Cih dasar otak udang, tampilannya saja yang profesional, tapi etikanya benar-benar mines" grutu ku dalam hati.


"tapi tunggu? Kenapa wajahnya terlihat menegang apa dia mengerti apa yang ku pikirkan, masa iya dia bisa tau isi pikiran ku." Batin ku menerka-nerka.


lagi-lagi dia tersenyum sinis, jika dia wira pasti sejak tadi sudah ku ketok kepalanya biar sekalian otaknya geser.


"wira tolong urus kakak mu ini, aku benar-benar butuh istirahat, jika dia berulah tersera kamu mau apakan dia aku juga tidak akan perduli."


"aku sedang bicara jadi tetaplah di sini,?" ucapnya menarik tanganku hingga aku terhuyung dan duduk di sofa.


"kak faiz apa yang kakak lakukan?" bentak wira pada mas faiz, sementara si pelaku hanya mematung melihat ku kesakitan.


Aku hanya meringis menahan nyeri di bagian bawah perut ku, entahlah? seperti ada hentakan keras saat aku terduduk di sofa dengan keras.


"kak apa ada yang sakit,?" tanya wira terlihat hawatir.


"tidak tau wir? Tapi rasanya sangat nyeri di bagian bawah perut ku?" jelas ku kini sudah bersandar di sofa.


"kak kita ke rumah sakit saja ya?" ajaknya namun aku menolak, belum saatnya pria yang membuat ku sakit mengetahui darah dagingnya.


"ya ampun kalian ini, suratnya saja masih di tangan ku, tapi kalian sudah Mesra-Mesraan di depan ku, pake acara sakit lagi, nggak usah pura-pura deh palingan juga kamu cari perhatian aku kan, jangan harap ya, karena aku sama sekali tidak akan ibah padamu."


"kak? Jaga bicaramu itu kak nia sedang kesakitan Kenapa kakak justru berpikiran buruk." bentak wira, mungkin dia juga sudah muak terus mendiamkan kelakuan kakaknya.


"tidak wira biarkan saja dia bermunolog, antar saja aku ke kamar, lagi pula ini sudah larut malam besok pagi saja kita ke rumah sakit."


Namun baru saja wira ingin mengangkat ku, aku tiba-tiba memekik saat melihat darah mengalir di betis ku saat aku hendak berdiri.


"wira darah,! Itu darah wir, Kenapa ada darah," ucapku panik hingga mata ini berembun begitu saja.

__ADS_1


"oh tidak sebaiknya kita ke rumah sakit,?" ucap wira ikut panik, aku tidak menjawab lagi karena semuanya sudah gelap, aku juga tidak tau apa si burung gagak ikut atau tidak, aku juga tidak perduli setidaknya aku tidak perlu hipertensi jika mendengar omongannya.


__ADS_2