
Di bawah teriknya mata hari terlihat gadis cantik sedang turun dari mobil, dia berjalan ke arah penjual pinggir jalan,
seperti perkiraan rania, tika tidak suka tempat kumuh seperti itu, bahkan dia terlihat menutup hidung seperti orang yang sedang mencium bau busuk.
"neng cari apa?" tanya salah satu penjual yang sejak tadi melihatnya.
"kurang ajar rania itu,! bisa-bisanya dia menyuruh saya datang ketempat seperti ini"
"ada rujak Enggak mas?" tanya tika sambil terus mengibas-ngibaskan tangannya, mungkin dia kepanasan?.
"maaf neng saya jualan bakso bukannya rujak,! Tuh di depan grobak ada tulisan jual bakso dan mie ayam, dan tidak ada rujaknya,"
"mana saya tau mas tidak jual rujak,?"
"kan mbanya bisa baca tuh di depan, ada rujak atau tidak?"
"ya sudah yang jualan rujak di mana,?"
"noh...di sebrang jalan,!"
Tika melihat ke sebrang jalan dan benar saja di sana ada ibu-ibu yang sibuk membuat sesuatu.
tanpa mengucap Terimakasih, tika langsung berjalan ke arah ibu-ibu itu,
"jaman sekarang,! Orang kaya kalau datang ke lingkungan orang seperti kita, pasti dia terlihat jijik atau tidak suka jika kita terlalu dekat dengannya, lihat saja gadis itu? Dia bahkan terus menutup hidung seakan kita ini berbau sampah,"
Ucap bapak tadi melihat tika berjalan dengan tergesa-gesa,
"bu rujaknya satu jangan terlalu pedes ya, jangan lama juga soalnya panas banget di sini?" ucap tika saat dia sampai ke penjual rujak,
"sabar neng ngantri dulu atuh,! Kasian yang lain kalau neng dapat duluan, mereka juga kepanasan sejak tadi?"
"he? Bu,! Saya tuh mau beli bukan mau ngutang, lagian mereka juga sudah terbiasa kepanasan, jadi buatkan saya lebih dulu?...tinggal bikin aja kok susah banget?"
Terlihat satu ibu-ibu yang Terlihat geram dengan sikap tika, tanpa di duga wanita tua itu mengambil sebotol agua lalu menyiramkannya pada tika.
Tika yang mendapat perlakukan yang mendadak itu membuatnya sampai blingsatan, tika bahkan sampai megap-megap seperti ikan yang kehabisan air.
"he? Nenek tua,! Apa kamu sudah bosan hidup ha? Hingga kamu berani menyiram saya," ucap tika tidak terima dengan perlakuan wanita tua itu.
"loh neng..kenapa marah, bukannya tadi neng bilang kalau kami ini sudah terbiasa kepanasan,! Saya siram kamu air itu karena saya kasihan, soalnya kamu terlihat kepanasan, kupikir dengan menyiram kamu mungkin itu bisa membuatmu lebih adem dan tidak kepanasan lagi."
__ADS_1
Tika mengacak rambutnya sendiri hingga terlihat seperti orang gila, pakaian yang basah kuyup rambut yang acak-acakan di tambah lagi kulitnya yang terlihat terbakar akibat panasnya mata hari.
Ketika sampai di kantor pasti akan heboh lagi,
"hhhh....makanya neng kalau datangnya belakangan ya harus ngantri, jangan main nikun yang di depan, kan neng sendiri yang dapat imbasnya," ucap salah satu pelanggan yang juga sedang mengantri di bagian paling depan
"tapi Enggak harus pake nyiram saya juga kali, saya tuh mau kekantor tapi kalian malah berbuat seperti ini pada saya,"
"salah sendiri kenapa Enggak mau ngantri" ucap pria itu terlihat acuh pada tika
"jika bukan karena istri bos saya yang meminta makanan aneh seperti ini saya juga tidak sudi mengantri dengan orang-orang dekil seperti kalian ini,"
Jawab tika tak kalah bengisnya pada orang-orang yang menatapnya tidak suka.
"hus...sudah-sudah pak bu tolong jangan ribut,! Neng yang tertib ya, kalau mau beli nanti ibu buatkan, tapi tunggu yang lain dapat karena mereka lebih dulu"
"aarrgggkkk? Jika bukan karena pak faiz, tak sudi aku kepanasan di sini,"
"ya sudah bu cepetan nguleknya"
"iya neng sabar"
"ini neng rujak?" ucap ibu itu menyerahkan sebungkus rujak pada tika.
"lama banget si bu, saya sampai ngantuk nunggunya,"
"maaf ya neng, soalnya neng juga datangnya belakangan, jadi ya harus nunggu lama"
"ya sudah ini berapa?" tika mengangkat tinggi-tinggi bungkusan rujak itu.
"cuman tuju ribu neng"
Tika menyerahkan uang sepuluh ribu lalu sedikit membenahi rambutnya yang sempat dia acak.
"ini neng kembaliannya,"
Ucap ibu itu menyerahkan tiga lembar uang pecahan seribuan pada tik.
Setelah mendapatkan apa yang dia cari, tika bergegas kembali ke kantor, Sambil berlari kecil masuk ke dalam mobil yang terparkir di sisi kiri penjual rujak tadi.
"lihat saja? Jika aku punya kesempatan, akan ku beri pelajaran untuk wanita desa itu?"
__ADS_1
Tika memandangi bungkusan rujak itu, dan meletakkannya di sisi kanannya.
Perlahan dia melajukan mobilnya hingga dia tiba di kantor Karena jaraknya memang tidak terlalu jau.
Tika mengambil rujak itu lalu keluar dari mobil, dia ke kantin lebih dulu untuk mengambil jus jeruk sebagai pelengkap makanan sang empunya.
Jus pun sudah dia dapatkan. kini tika harus membawanya keruangan bosnya,
"tik? Habis dari mana kamu, kenapa tampilan mu seperti muntahan kucing gitu," tanya santi teman tika, dia itu tidak beda jauh sama tika, orangnya suka julid dan tukang rusuh juga.
"sialan lu san? Gue kaya gini itu gara-gara istrinya bos besar,"
"lo tau Enggak? Cuman gara-gara rujak doang, gue harus berjemur dulu, lihat aja kulit muka gue apa Enggak kaya kepiting rebus gara-gara kepanasan?" ucap tika menunjuk wajahnya yang kemerahan.
"ha? Rujak buat siapa tik, dan sejak kapan kamu jadi tukang antar makanan, kamu kan bisa nyuruh orang lain" santi terperangah melihat tampilan tika, yang tidak beda dari si penjual rujak.
"kalau seenak omongan lo, gue juga mau nyuruh orang buat beli makanan kampungan ini,"
Ucap Tika sambil mengangkat bungkusan rujak itu tepat di wajah santi.
"singkirkan benda aneh itu,! Baunya sama sekali tidak enak" ucap santi menyingkirkan tangan tika.
"chi...baru cium baunya saja wajahmu langsung mengkerut gitu, bagaimana sama gue yang harus mengantri demi mendapatkan rujak yang kamu sebut benda aneh"
Tika melengos pergi meninggalkan santi yang masih terlihat jijik dengan apa yang tika bawah.
"tok...tok..tok...?"
"masuk" jawab seseorang di dalam tanpa enggan berdiri untuk membuka pintu.
Rania tau siapa yang datang, maka dari itu dia tidak perlu bersusah-susah membukakan pintu untuk orang yang di depan sana.
Terlihat gagang pintu bergerak, namun rania tetap tidak bergeming dari tempatnya.
"bu? ini rujak dan jus pesanan ibu, maaf saya terlalu lama, soalnya tadi saya harus ngantri dulu"
ucap tika sambil meletakkan bungkusan itu di meja depan rania.
"tidak masalah? Saya juga tidak terlalu lapar," jawab rania enteng.
"kesel Enggak tuh sama aku,! Siapa suruh suka sama laki orang, jadi ginikan jadinya," batin rania memperhatikan tika yang terlihat acak-acakan.
__ADS_1