Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran

Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran
Bab 75: gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran


__ADS_3

"suda nggak usah malu, lebih baik kamu pakai dulu cincinnya, biar aku ngerasa kalau kita beneran suda tunangan,"


"kamu pikir aku cuman mau nipu terima pinangan kamu," dumel ku kembali kesal, lagi-lagi wira menanggapi dengan senyuman, apa dia tidak bisa marah yah, kenapa bawaannya selalu tersenyum.


"bukan seperti itu sayang, aku cuman takut keduluan sama orang lain, kalau kamu pakaian cincin ini itu artinya kamu punya aku dan tidak ada yang boleh pegang-pegang kamu."


Susah paya aku menahan tawa hingga kedua pipiku mengembul seperti ikan buntal, geli sekali wira memanggil ku sayang.


"Aaaaa....jadi meleleh aku, modus banget jadi orang, ada atau tidak adanya cincin kan tetap sama yang penting niatnya," tandas ku ingin beranjak berdiri,


"akhh...perut ku?" baru saja aku berdiri, tubuh ku terhempas lagi di atas sofa tepat di samping wira.


Wira yang panik tidak bertanya lagi dan langsung membawaku dalam dekapannya lalu menggendong dan membawa ku rumah sakit.


"bertahan lah, sebentar lagi kita akan sampai," ucap wira terdengar panik hingga pandangan ku jadi gelap semua.


Aku tidak mengingat apa saja yang terjadi dan apa saja yang di lakukan wira selama aku tidak sadarkan diri.


Samar-samar terdengar suara orang di sampingku, ya itu suara wira, tapi aku belum bisa melihatnya dengan benar karena pandangan ku masih terlihat buram.


"wir?" panggil ku pada orang di samping ku, sementara yang di panggil langsung membrondong ku dengan segala pertanyaan.


"sayang apanya yang sakit hem, apa kamu butuh sesuatu, semalam kamu pingsan waktu aku membawa mu ke rumah sakit," ucapnya terlihat hawatir.


"aku tidak apa-apa, apa semalam kamu di sini, kamu masih mengenakan baju yang sama seperti tadi malam, apa kamu tidak pulang,"


"bagaimana aku meninggalkan kamu dengan keadaan seperti ini, tentu aku lebih kepikiran kamu ketimbang memikirkan soal penampilan ku,"


Aku hanya tersenyum karena tubuh ku terasa sangat lemah.

__ADS_1


"pulang lah dan bersihkan dirimu, aku tidak apa kamu tinggal sendiri," ucap ku, tidak enak juga melihat dia terlihat lusuh.


"nanti saja aku pulang pada saat jam makan siang biar ada suster yang menemanimu di sini,"


"ya suda terserah kamu saja," aku lebih baik mengalah dari pada tensi ku naik lagi.


"tumben kamu nggak protes, biasanya juga kamu akan meledak seperti petasan betawi,"


Baru juga aku ngalah, ni orang malah mancing mania lagi, kalau aku kumat pasti dia kena mental lagi.


"udah ya, aku lagi nggak selera buat berantem sama kamu, tunggu aku sehat lagi kalau kamu mau petakilan sama aku," sungut ku mendelik padanya, lama-lama gemas juga sama ni orang.


"hehehe..ya suda cepat sembuh ya, kasihan anak kamu kalau kamu sakit terus, dia masih kecil dan membutuhkan ibunya yang sehat agar dia bisa terlahir dengan selamat, makanlah dulu agar kamu juga lekas pulih," dengan penuh kesabaran, wira masih dengan tenangnya menyodorkan semangkuk bubur yang pasti baunya dapat mengocok isi perutku.


Ya allah aku sampai lupa kalau sedang hamil.


"iya makasih suda di ingatkan, aku juga bingung kenapa perut aku sakit lagi, setelah mas faiz menarik ku kemarin ini untuk yang kedua kalinya purut ku sakit," tutur ku pada wira, karena sakitnya perutku pasti bukan karena sakit biasa, sementara bubur itu suda di letakan di tangan ku,


Dengan kondisi hamil begini, aku hawatir terjadi sesuatu pada anak ku, wira juga tidak menjelaskan apa-apa padahal dia yang menangani ku.


"wir,! Hasil pemeriksaan ku bagaimana? Kenapa perut ku sakit lagi," tanya ku pada wira.


"kamu baik-baik saja, cuman kemarin malam kamu teriak-teriak terus itu menimbulkan efek tegang di bagian perut kamu makanya perut kamu sakit lagi," ucap wira menjelaskan sementara aku hanya mendengus mendengar penuturan wira,


entahlah? akhir-akhir ini aku mudah sekali marah dan terpancing emosi, bahkan hal kecil saja bisa memicu kekesalan ku.


"maaf kan aku wir akhir-akhir ini aku memang sulit mengontrol emosi ku, aku sendiri tidak tau apa sebabnya tensi ku mudah sekali naik setiap kali bercengkraman," jelas ku pada wira, mengingat akhir-akhir ini aku memang sering sekali marah yang tidak jelas.


"tidak apa-apa, itu wajar saja di alami oleh ibu hamil, jangan hawatir aku akan menemanimu melewati masa-masa sulit mu,"

__ADS_1


Andai dia mas faiz belum tentu dia akan semanis ini, nyatanya hanya sala faham saja dia langsung memutuskan untuk bercerai.


Ya allah jika pria di depan ku memang pria yang baik dan mau menerima kehadiran anak ku, insya allah aku ridho jika harus menikah agi.


Alasan tidak ingin menerima pinangan wira karena statusku sebagai mantan kakak iparnya, tapi melihat ketulusan wira dengan tindakannya, aku jadi berubah pikiran dan menerima pinangan wira.


Aku tidak perduli apa tanggapan mas faiz nanti, yang pasti aku hanya ingin melanjutkan hidup ku, dan melupakan semua tentang mas faiz.


"untuk beberapa hari kamu di sini dulu sampai kamu benar-benar pulih, meski hanya sakit biasa tetap jangan di sepelekan karena kamu sedang hamil, nanti aku akan pulang mengambil baju ganti untuk mu, lalu kembali lagi ke sini,"


Aku hanya mengangguk iya karena tidak mungkin aku memaksakan kedaan yang ada nanti wira malah tambah repot.


"iya kamu hati-hati kalau pulang," jawab ku kemudian di iyakan wira.


"ya suda aku periksa pasien yang lain dulu ya, nanti aku kesini lagi kalau suda waktunya makan siang,"


"iya dokter wira, ini juga buburnya belum habis udah di ingetin aja soal makan siang," sungut ku, belum juga semenit aku mengalah, eh in malah kumat lagi.


"hehe...kamu memang harus banyak makan supaya ibu dan anak sama-sama sehat," ujarnya tertawa mengejek.


"ya suda sana keluar, aku takut meledak kalau terus di gombalin kamu," ucap ku sedikit mengusir wira,


"ya elah galak amat bu mil, ya suda aku kerja dulu ya, kamu baik-baik di sini aku nggak akan lama kok, palingan juga sebentar lalu kesini lagi,"


Ya ampun ni orang, aku juga nggak akan ngilang kali kalau di tinggal lama.


"iya bawel, sana keluar, kamu itu nggak akan pergi kalau ngomong terus di sini," ucapku kesal mengangkat bantal berniat menimpuknya dengan bantal.


Dia hanya nyengir, lalu berlari keluar dan tertawa terbahak-bahak,

__ADS_1


Setelah kepergian wira, aku lebih memilih tidur, karena bubur yang di berikan wira sudah habis, entah kenapa bubur itu tidak membuat ku mual lagi, padahal kemarin aku sangat mual saat suster memberiku bubur.


__ADS_2