Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran

Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran
Bab 50: gadis desa dan ceo pembaca pikiran


__ADS_3

Pov rania.


Hari ini mas faiz mengajak ku makan di luar, Sebenarnya aku masih cukup kenyang, tapi berada di kantor sepanjang hari rasanya cukup bosan juga, apa lagi jika harus mendapat gangguan alam, rasanya aku ingin segera memusnahkan merela semua.


Ku ikuti mas faiz dan berjalan beriringan, dapat ku lihat, jika beberapa karyawan wanita terlihat berbisik melihatku, mungkin karena aku menggandeng pujaan hatinya, tapi aku masa bodoh, toh pujaan hatinya adalah suamiku, merekanya saja yang tidak punya malu.


Namun ada satu yang membuatku kesal, ya! sindi? Gadis yang bertanya kemana suamiku akan pergi, padahal itu sama sekali bukan urusannya, untung suamiku pekka dan memberi penegasan pada sindi.


Aku cukup puas saat melihat ekspresi wajahnya, dia sangat lucu saat sedang kesal, rasanya aku ingin menggigit kedua pipinya itu.


Setelah berbasa-basi dengan sindi, kami berdua keluar dari kantor, entah kemana suamiku akan pergi, katanya si mau ke kafe, tapi entahlah di mana kami akan mendarat.


Ku lirik mas faiz yang di sampingku, wajahnya sangat kaku seperti bongkahan es balok, ku lipat kedua tanganku di depan dada, kesal juga rasanya satu mobil dengan burung gagak.


"mas tidak bisakah kamu senyum sedikit,"


Batinku seraya mencebik, bosan sekali rasanya jika dia seperti patung tanpa nyawa.


"jangan kesal begitu, apa lagi sampai mengumpati suami sendiri,"


"aish...apa dia berbicara denganku, sejak kapan aku mengumpatinya?"


ku lihat dia di balik kaca mobil, hem..masih seperti tadi, mungkin dia memang sulit untuk tersenyum.


"aku tidak kesal dan juga tidak mengumpati mas, tapi?"


"tapi apa? Tanya mas faiz masih fokus dengan kemudinya.


"bukan apa-apa?" jawab ku malas,


Setibanya di kafe, aku turun lebih dulu tanpa menunggu mas faiz.

__ADS_1


Sempat aku berbalik, kulihat dia sedikit bingung dengan sikapku, tapi biarlah, kulkas seribu pintu itu harus tau caranya mencairkan suasana.


Di dalam kafe aku sudah duduk lebih dulu sebelum mas faiz menyusulku,


"sayang kenapa kamu jadi lebih banyak diam,! Kau bahkan meninggalkan ku di parkiran."


"arrgggkk...pertanyaan konyol, apa dia tidak melihat jika aku sedang kesal,"


"oh? Jadi begitu, pantesan sejak tadi sikapnya jadi urung-uringan gitu, tapi? Dia kesal karena apa,!"


Batin faiz meraih daftar menu dari pelayan, sementara matanya masih fokus pada istrinya.


"saya pesan spagety dan dua jus jeruk, sayang kamu makan apa," tanya mas faiz.


"aku masih kenyang mas, bukannya tadi aku sudah makan rujak." jawabku menatapnya dengan ekspresi tak menentu.


"ya sudah mba, saya pesan dua spagety dan dua jus jeruk ya, istri saya harus banyak makan, supaya pikirannya tidak kabut lagi."


"apa dia pikir perutku ini karung beras yang bisa menampung banyak makanan, bukannya kenyang yang ada nanti malah jadi gendut pless jelek tingkat dewa."


"hhhhhh...sebentar lagi ruba kecil pasti akan ngamuk, lihat saja tuh hidungnya sampai kembang kempis gitu,"batin faiz mendengar apa yang di pikirkan rania.


Saat kami tengah menikmati makanan kami, ada satu objek yang menarik perhatianku, ya,! Aku mendengar suara renata, terlebih lagi ada seseorang yang menyebut namanya.


Ku perhatikan mas faiz, entah dia menyadari ada renata Atau tidak, yang pasti suamiku biasa saja, dia sama sekali tidak menggubris di sekitarnya walaupun sekedar bertanya.


Dan kurasa Renata juga tau kami duduk berseblahan meja dengannya, mungkin karena itu dia buruh-buruh pergi, biasa saja dia merasa tidak nyaman.


Aku teringat dengan ucapan wira, jika renata sedikit berubah, kini akupun percaya, pasalnya, saat bertemu di butik, Renata bahkan ingin menghajarku saat dia melihat ku bersama dengan mas faiz, Bahkan dia memberiku beberapa ancaman.


Saat pak adi menyusul renata, ku alihkan pandanganku pada mas faiz, dia benar-benar tidak terganggu dengan kejadian tadi, bahkan saat pak adi memanggil Renata yang berlari keluar, mas faiz pun sama sekali tidak berbalik atau sekedar terkejut.

__ADS_1


Tanpa sadar mas faiz sudah selesai makan, lamunanku buyar saat mas faiz menyentuh pundakku.


"sayang kamu sedang memikirkan apa? Sejak tadi ku lihat kamu hanya diam saja." tanya mas faiz membersihkan sisah makanan di bibirnya


"apa mas tidak tau jika tadi renata duduk di sebelah meja kita." ucapku mengentikan pergerakan mas faiz.


"mas tau dia disini, dan mas yakin diapun juga tau kita disini, hanya saja mas tidak ingin membuatmu merasa tidak nyaman jika kita harus membahas atau sekedar menyapanya."


"apa mas tidak menyukainya?" tanyaku membuatku merasa sesak dengan pertanyaanku sendiri.


"apa yang ingin kamu ketahui hem? Mengapa istriku ini mengajukan pertanyaan yang kurang sehat untuk di pikirkan, memangnya kenapa jika mas menyukainya?.


"ya allah baru begini saja mataku sudah memanas, apa lagi jika harus? Ah sudahlah mungkin aku saja yang berlebihan."


"mas kita pulang saja?" ajakku pada mas faiz, tidak sanggup rasanya menjawab pertanyaan mas faiz padahal aku sendiri yang mengorek masalah dia dengan renata.


Baru saja aku berdiri dan berjalan satu langkah, mas faiz sudah memelukku lebih dulu, aku yang belum siap tentu saja kaget, di peluk di trmpat umum seperti ini rasanya aku ingin menghilang saja, mas faiz benar-benar tidak bisa memilih tempat.


"jangan di pikirkan lagi, sebelum


kamu hadir, dia bukan siapa-siapa mas, kami tidak pernah memiliki hubungan apapun, memang benar dia punya rasa sama mas. Tapi demi allah mas tidak pernah membalas rasa itu, sampai hari ini rasa itupun tetap tidak ku balas, apa lagi sekarang mas punya kamu yang kini jadi istri yang ku cintai, jadi untuk dia tentu saja tidak punya tempat di hati ini, sudah berhentilah memikirkannya, mas juga tidak perduli tentang dia."


Setelah berucap panjang kali lebar, mas faiz menggandeng tanganku, dia bahkan tidak melihat bagai mana raut wajahku, benar-benar keterlaluan.


Aku masuk mobil lebih dulu setelah mas faiz melepas tanganku, ku sandarkan punggungku di kursi penumpang rasanya badanku lelah sekali, padahal di kantor aku tidak melakukan apa-apa selain makan dan makan.


Mas faiz sudah masuk lalu memasang sabuk pengamannya, tak lupa dia juga memasang sabuk pangaman untukku juga, dia tersenyum padaku, rasanya aku ingin mencubit pipinya, sifatnya cepat sekali berubah, seperti memiliki kepribadian ganda.


"apa kamu lelah?" tanyanya saat aku tidak merspon kedipan matanya.


"bukan lelah lebih tepatnya aku kekenyangan,!" jawabku malas, karena aku memang merasa tidak enak di bagian perutku.

__ADS_1


"hem...sepertinya kamu kelebihan makan, lain kali kalau makan porsinya di kurangin dikit, biar Enggak kekenyangan."


__ADS_2