Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran

Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran
Bab 78: gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran


__ADS_3

"mas sebenarnya apa hubungan mas dengan rania, kenapa dia malah bicara seperti itu?" tanya ranti setelah rania tidak terlihat lagi batang hidungnya.


"dia mantan istriku, baru dua hari kami resmi bercerai,!" jawabku mengetuk-ngetuk pinggiran meja.


"ha? Jadi hubungan kalian sejauh itu, kenapa dunia sempit sekali sih, kenapa pula harus rania yang jadi mantan istri mas," keluhnya terdengar tidak suka dengan apa yang terjadi.


"sudah lupakan saja, dia hanya masa lalu, Ngomong-ngomong kemana pelayan itu kenapa dia lama sekali,"


"tidur kali mas?" ucap ranti terdengar konyol.


"haha..kamu bisa saja, dia bisa di pecat kalau sampai molor di jam kerja," ucap ku mengedarkan pandangan mencari sosok pelayan tadi.


"maaf mas, mba, ini pesanannya," ucap pelayan itu akhirnya datang juga setelah lama kami menunggu, ya mungkin akibat pertengkaran tadi jadi rasanya lama.


"habis makan kita langsung pulang ya, soalnya aku capek banget, tadi saja tidak sempat makan siang karena terlalu sibuk,"


"iya mas saya juga kayanya sampai rumah mau langung tidur saja, badan ku rasanya remuk redam dan encok karena kelamaan duduk dan berdiri,"


Kami sama-sama tertawa, hingga kejadian tadi kami lupakan.


"ya suda jo pulang, biar besok fit lagi buat kerja,"


"iya mas tapi?"


"ada apa? Apa kamu butuh sesuatu," tanyaku melihat wajahnya yang terlihat malu.


"itu mas! aku perlu belanja kebutuhan di rumah," jawabnya, malu-malu kucing.


"ya ampun kenapa tidak bilang dari tadi sih," ku bayar pesanan ku tadi lalu menuju mobil.


"ayo turun?" ajak ku ketika sudah sampai di supermarket.


"kita ngapain kesini mas?" tanyanya polos ku hadiahi sentilan di keningnya hingga dia mengadu kesakitan.


"aduh mas kok di sentil sih aku kan cuman nanya," sungutnya terlihat kesal namun segera ku tinggalkan dan masuk ke supermarket.

__ADS_1


"malah di tinggal lagi," sungutnya ngedumel tapi masih dapat ku dengar.


"ayo cepetan katanya mau belanja, ini tuh namanya supermarket tempat orang belanja selain di pasar disini jauh lebih bersih dan higienis," terang ku menjelaskan padanya, kupikir dia tidak tau ini tempat apaan.


"oh kenapa nggak bilang dari tadi,"


Dia melongos begitu saja dan melewati ku yang menahan kesal dengan kepolosannya, untung saja dia cewe dan cantik.


Selesai urusan belanja kami pun pulang karena badan ini benar-benar butuh di rebahkan di atas kasur.


"Terimakasih untuk hari ini ya mas, makasih juga belanjaannya suda di bayarin, kalau gitu saya masuk dulu," pamitnya setelah dia turun dari mobil menenteng belanjaan di tangannya.


"iya sama-sama saya juga pamit pulang," jawabku lalu mobil ku belokan ke arah rumah yang pagarnya suda buka oleh pak madi.


*************


Pov rania.


"kenapa diam saja, kamu masih mikirin mba ranti ya," tanya wira saat kami tiba di apartemen.


"nggak aku cuman lagi capek aja, aku mandi dulu ya, mungkin dengan mandi badan ku akan lebih enakan," ucapku berlalu dari hadapan wira.


"niah?" panggil wira terdengar berat, aku berbalik menghadapnya yang ternyata berdiri di belakang ku, aku ingin mundur tapi bokong ku suda mentok di meja rias.


"wi...wir kamu mau ngapain?" tanyaku sedikit takut dengan sorot mata wira.


"aku butuh kamu rania,?"


Ha? Apa maksudnya butuh aku, tapi tunggu,! Kenapa wira bau alkohol, apa wira habis minum, ya tuhan harus ku apa kan anak ini.


"wir kamu habis minum pasti kamu lagi mabok deh, sana mandi aja biar otak kamu nggak ngeres gitu,"


Ku dorong tubuhnya agar masuk ke kamar mandi, bukan ke kamar mandi tubuh malah terjerembet dan jatuh di atas kasur bersama dengan wira,


Sumpah wira itu berat banget tau nggak?.

__ADS_1


"duh nih anak ngapain pake minum segala sih, kan aku jadi ribet gini, mana bau minuman lagi," sungut ku menutup hidung dan mengibas-ngibaskan tangan di udara, sementara yang lagi mabuk suda tidak sadarkan diri.


"bagus sekarang kamu pakai acara pingsan, terus apa kita akan tidur dengan posisi saling menindih begini, plisss kamu bangun wirr sumpah kamu itu berat banget," rengek ku pada wira yang entah beneran pingsan atau cuman tidur.


"enggghhh?"


"woy bangun enak banget kamu tidur di atas ku," sentak ku pada wira yang terdengar melenguh, kupikir dia ngelilir dari tidurnya, awas saja kalau sampai ngiler di baju ku.


Sedetik, dua detik, bahkan sampai setengah jam belum ada tanda-tanda dokter aneh ini akan bangun, baiklah,! sepertinya aku harus menggunakan tenaga dalam untuk membangunkannya.


"baik kamu jangan marah ya, aku tidak bisa bersabar sampai pagi dengan posisi seperti ini, kalau sampai marah akan ku buat kamu mabuk lagi," gumam ku setengah ngedumel, pegel banget menopang bobot wira yang bobonya anteng banget di atas ku, dia pikir tidur kasur kali ya makanya nyaman gitu, ya nyaman lah,! orang tiduran di atas gunung kembar ku, siapa saja pasti akan nyaman kalau tidur dengan posisi seperti ini.


"dalam hitungan ketiga aku yakin kamu pasti bakalan bangun,! Satu, dua, tiga,?"


"wiraaaaaaaa.a.....!"


"duuuhh....apaan sih nia, kok teriak-teriak mana telingaku di jewer lagi, kepala ku masih sakit kamu nggak bisa ya biarin aku tidur sebentar saja,"


Benarkan dugaan ku, trik ini pasti akan berhasil, terbukti sekarang wira jadi terduduk mengusap telinganya yang jadi sasaran ku.


"owalaaaahh..ternyata kamu sakit kepala to, apa sekarang masih sakit,? ku rasa suda tidak sakit karena kamu suda tidur dengan nyenyak di atas ku dan menjadikan gunung kembar ku sebagai bantal selama setengah jam," sungut ku menahan kesal hingga dadaku naik turun.


"apa? Kenapa aku tidak ingat,! Kamu pasti cuman mengada-ngada, iya kan?"


benar-benar nih orang sepertinya dia memang perlu di buat pingsan lagi.


"ya jelas kamu tidak ingat kamu kan mabuk, sekalipun otak kamu di letakkan di atas meja lalu di observasi tetap saja kamu bakalan tidak ingat,"


Wira masih tidak bergeming di tempatnya, dan menatapku dengan kebingungan.


"kalau aku tidur di atas kamu kenapa nggak di turun aja,?" ucap wira polos, argh? Rasanya ingin kuremas saja wajahnya itu.


"kalau aku bisa ! bukan hanya di turunkan? Tapi kamu bakalan sekalian aku tendang supaya kamu berguling hingga jatuh ke lantai, mungkin dengan begitu kamu bakalan ingat kamu habis ngapain,"


"jadi beneran kamu biarin aku tidur di atas kamu, sial banget ya, aku malah nggak ingat momen langkah itu," ucap wira ku hadiahi jeweran di telinganya.

__ADS_1


"aduh..du..ampun ampun, duh niah kamu kok kaya ibu sih, dikit-dikit jewer dikit-dikit jewer lama-lama putus kuping ku di tarik terus,"


"lagian kamu masih sempat-sempatnya bilang momen langkah, kamu nggak tau aja berat kamu melebihi dosaku, smpah?" ucap ku mangacungkan dua jari membentuk huruf v.


__ADS_2