Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran

Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran
Bab 8: gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran


__ADS_3

Piiiiiiiipp...


Setelah beberapa menit menempuh perjalanan, akhirnya mereka samapi juga di kediaman Dirgantara, Faiz membunyikan klakson, agar satpam membukakan gerbang.


Seorang pria paruh baya berlari tergopoh-gopoh dan segera membuka gerbang untuk anak majikannya, dia adalah anak buah faiz yang bekerja dengan keluarga Dirgantara selama dua puluh lima tahun, namanya pak ardi.


Di rumah Dirgantara memiliki begitu banyak pelayan dan anak buah, wajar saja, karena rumah yang berdiri kokoh dengan sedemikian luasnya mengharuskan mereka mengetatkan penjagaan, selain anak buah, masih ada pengawal yang bertugas menjaga setiap anggota keluarga.


Pak ardi membuka gerbang dan menyapa tuan mudanya, pak ardi melihat ada seorang gadis yang tertidur di samping tuan mudanya, pak ardi ingin bertanya, tapi dia mengurungkan niatnya,


"selamat sore tuan muda, mari silahkan masuk."


"sore pak ardi,.....pak ardi, apa ibu sedang tidur,?"


"saya kurang tau tuan, seharian saya tidak melihat ibu, mungkin ibu di kamarnya sedang istirahat,"


"jika seharian bapak tidak melihat ibu?, kenapa bapak tidak cek kedalam, kalau terjadi sesuatu bagaimana pak."


"Maafkan saya tuan muda, saya bukan bermaksud untuk tidak perduli, tapi saya sendiri kurang sehat, saya hanya tidak ingin ibu tertular karena saya sedang sakit flu dan pilek."


"hemm...bapak suda minum obat?" jika bapak kurang sehat, kenapa bapak tidak ke dokter, atau istirahat saja, di rumah ini, penjaga keamanan bukan cuman bapak, masih banyak yang bisa gantiin bapak."


"ya sudah kalau gitu bapak istirahat dulu dan tolong panggilkan yang lain."


" baik tuan."


Pak ardi kembali ke belakang, karena kamar para penjaga ataupun pelayan, semuanya ada di belakang, tak lupa pak ardi memberitahu salah satu penjaga untuk segera menghadap tuan muda mereka.


"pak ardi,? kenapa bapak di sini, kenapa bapak tidak berjaga di depan, jika bapak butuh sesuatu, bapak bisa memanggil saya, jangan meninggalkan pekerjaan bapak, nanti tuan mudah bisa marah."


Sala satu pelayan wanita menegur pak ardi, karena pak ardi berada di belakang.


"bukan begitu neng tari, saya teh lagi nggak enak badan, jadi saya di suruh istirahat sama tuan muda, bahkan saya teh di suruh periksa ke rumah sakit, tapi saya menolak, soalnya saya teh nggak enak sama tuan,."

__ADS_1


"oh iya pak madi ke depan sana, tadi tuan nyuruh saya memanggil yang lain buat bantu tuan mengangkat barang belanjaan."


"lah pak ardi kenapa harus saya, kan masih banyak penjaga yang lain, nanggung nih pak saya lagi nggak pakai baju."


"ya Allah pak pak, bajunya kan tinggal pakai lagi, lagian yang ada di sini kan cuman pak madi, yang laing pada di atas semua, jadi bapak ke dapan sekarang sebelum tuan mudah mengamuk ke kita semua."


Pak ardi meminta pak madi segera ke depan, sebelum tuan mudah mereka marah karena terlalu lama menunggu.


"betul tuh yang di bilang pak ardi, cepetan ke depan, nanti semuanya kena mental sama tuan mudah."


pelayan yang bernama tari ikut membenarkan apa yang di katakan pak ardi, dan membuat pak madi sedikit kesal.


"berissiiiik...tau nggak?."


"bodoh amat," ucap bi tari berlalu pergi.


Pak madi, dengan perasaan kesal, akhir memakai baju dan bergegas menemui tuan nya, sesampainya di luar, pak madi melihat tuan nya menggendong seorang wanita, seperti halnya pak ardi, pak madi pun mengurungkan niatnya untuk bertanya, meskipun rasa ingin tahunya begitu besar.


"Pak madi, apa yang kamu lihat!, cepat bawa semua barang-barang itu ke dalam kamar saya."


"huuu hampir saja ketahuan aku ngelihatin perempuan itu, kalau ketahuan, bisa-bisa aku di jadikan rempeyek oleh tuan, lalu di berikan untuk si dogi, anjing peliharaan tuan muda."gerutu pak madi berlalu pergi


"ketahuan apa pak madi." setelah mendengar apa yang di katakan pengawalnya, faiz langsung memberikan peringatan, supaya tidak berbuat macam-macam pada raniah.


"ha,?..bukan apa-apa tuan muda, ."


"bagus, seharusnya kau sudah melakukan itu sejak tadi, tapi kau malah sibuk memandangi wanita ini, sampai kau melupakan tugas yang ku berikan, pergi sana, dan jangan pernah lagi memandang wanita ini seperti tadi, karena aku tidak suka, apa kau mengerti sekarang?."


"me..mengerti tuan muda, mohon maaf kan saya."


"kali ini aku maafkan, tapi, jika kau sampai mengulanginya lagi, akan ku keluarkan matamu itu." ancam faiz pada pengawalnya, dan itu suda cukup membuat seluruh persendian pak madi bergetar.


"ba..baik tuan muda, maaf jika saya tidak sopan, saya akan segera membawa semua barang tuan muda."

__ADS_1


Pak madi segera berlalu dari hadapan majikannya yang tatapannya sangat di takuti bila sedang marah, pak madi membuka bagasi mobil dan mengambil semua barang belanjaan dan juga kursi roda tak lupa dia turunkan.


Faiz berjalan masuk ke dalam rumah dengan menggendong niah yang masih tertidur, faiz tidak ingin membangunkannya, karena faiz tau niah sangat kelelahan dan butuh istirahat.


Faiz membawa niah ke kamar tamu, dan menidurkannya dengan sangat hati-hati, tak lupa faiz menutup tubuh niah dengan selimut, dengan begitu niah akan merasa hangat.


Seulas senyum tersungging di bibir faiz, melihat niah tertidur dengan sangat tenang, cukup lama faiz tenggelam dalam ketenangan niah saat tertidur, faiz ingin menyentuh pipih niah, tapi dia urungkan.


"tok tok tok."


Suara ketukan pintu menghentikan niat faiz yang ingin menyentuh pipih niah.


"heemm...pengawal satu ini mengganggu saja," ucap faiz berjalan membuka pintu, di depan pintu berdiri pak madi yang suda menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat pada tuannya.


"ada apa.?" faiz bertanya dengan muka masamnya, dan tidak sedikitpun terlihat adanya tanda tanda kehidupan bila sampai bertatapan dengan mata elangnya, dengan rasa takut, pak madi menundukkan kepalanya dan mengatakan bahwa semua perintah tuannya sudah dia laksanakan.


"tu...tuan, saya suda membawa semua barang-barang tuan ke kamar, apa tuan masih butuh sesuatu yang lain,"pak madi berbicara dengan rasa takut bahkan sampai terbata bata.


"tidak,? kau bisa pergi sekarang," hanya itu yang keluar dari bibirnya, seperti orang yang sedang berpuasa untuk bicara.


"ba...baik tuan, saya permisi dulu." baru saja pak madi memutar badan, faiz kembali memanggilnya.


"tunggu.?"


"iya tuan, ada apa."


"suruh pelayan wanita membawa makanan kesini, ingat untuk dua orang yah, saya akan menemaninya di sini."


Pak madi merasa ingin tau mengapa tuannya begitu perhatian pada wanita yang datang bersamanya, tapi melihat mata elang dari tuannya membuat pak madi terdiam, dan segera pergi untuk melaksanakan perintah seperti apa yang di katakan tuannya tadi.


"baik tuan, saya akan memberitahu yang lain untuk segera membawa makanan."


"emm..pergilah."

__ADS_1


"baik tuan, saya permisi."


__ADS_2