
"mas bole aku tidur di sini?" faiz yang sedang berpakaian di kejutkan dengan kedatangan ranti.
"ya tentu saja lagi pula kita suda menikah?" jawab faiz dingin lalu menyisir rambutnya hingga ketampanannya semakin terlihat.
"mas mau kemana Bukankah ini malam pertama kita?"
Faiz berhenti di ambang pintu mendengar ucapan ranti, entah kenapa perasaannya semakin tidak karuan seakan ada hal yang terus dia sesali.
"aku masih banyak pekerjaan,! Tadinya aku mau lembur di kantor. Tapi karena ada masalah terpaksa semua pekerjaan aku bawa pulang ke rumah."
Tanpa menunggu jawaban ranti. Faiz kembali melangkah meninggalkan wanita yang baru beberapa jam menjadi istrinya.
'lihat saja! Cepat atau lambat kau pasti akan mencintaiku kalau perlu bertekuk lutut di hadapanku, aku berjanji akan membuat faiz Dirgantara mengemis cinta padaku." gumam ranti dengan penuh kemarahan karena gagalnya malam pertamanya.
Faiz memasuki ruang kerjanya lalu menuju kursi kebesarannya, entah apa yang dia pikirkan hingga tak ada raut ketenangan di wajahnya, berkali-kali dia mengusap wajahnya dengan kasar dan sesekali memijit pelipisnya. Apa yang terjadi hari ini benar-benar di luar prediksinya.
Breeeaakk?
"sial? Kenapa malah jadi Seperti ini si? Jika para rekan kerjaku tau citraku sebagai pemimpin perusahaan Dirgantara akan hancur,?" umpatnya geram dan mengepalkan kedua tangannya lalu menggebrak meja menimbulkan suara yang keras.
"ranti juga kenapa dia harus datang ke rumah si? seakan-akan apa yang terjadi suda di siasati! Atau mungkin ini adalah niat ranti dengan cara datang ke rumah agar kami di grebek lalau di nikahkan dengan begitu kan dia dengan mudah masuk dalam kehidupan ku, ya! Aku masih ingat ucapan rania sewaktu bertemu di kafe, jika ranti akan menerkam jika dia mendapatkan sedikit cela, sepertinya aku harus hati-hati dengan ranti jangan sampai dia menikam ku dari belakang. Dan jika sampai dia bermain licik! akan ku pastikan dia tidak akan selamat dari tangan ku." gumam faiz dengan sorot mata yang memerah.
Faiz segera meraih semua berkas lalau menyelesaikannya satu persatu. Tepat jam satu malam akhirnya semuanya selesai juga,
Bersandar di kursi lalu meregangkan otot-ototnya, faiz beranjak dari duduknya dan menghampiri sofa di ruang kerjanya lalu tertidur tanpa berniat menghampiri istrinya.
__ADS_1
"aku tidur di sini saja, malas sekali rasanya aku bersitatap dengan ranti," gumamnya langsung menghempaskan tubuhnya di atas sofa.
'kenapa harus begini! Menikah dadakan tanpa memikirkan bagaimana dengan kedepannya,? sepertinya mulai besok hari-hariku akan terasa berat!' pikirannya menerawang hari yang akan di lalu besok.
********
Jam lima pagi faiz suda bersiap dengan jas berwarna hitam di padukan dengan kemeja berwarna silver yang menambah kesan maskulinnya.
"pagi tuan muda!" sapa bi tari segera menyiapkan sarapan pagi karena bi tari memang suda terbiasa memasak jam empat pagi jadi ketika faiz ingin berangkat lebih pagi sarapan suda siap semua.
"pagi bi?" jawabnya singkat tanpa menoleh pada lawan bicaranya.
"bi! aku harus ke kantor,! tolong bibi awasi ranti, jika ada hal yang mencurigakan segera hubungi saya, ingat jangan sampai bibi lengah jika tidak kepala bibi akan aku penggal?" ucap faiz setela selesai dengan sarapannya.
"ba-baik tu-tuan saya akan mengawasi non ranti," jawabnya gugup takut kepalanya akan beneran di penggal.
Bi tari hanya mengangguk dengan membungkuk sebagai tanda hormat kepada majikannya.
Setelah kepergian faiz, bi tari membereskan meja makan lalu mencuci peralatan kotor yang habis dia pakai untuk memasak. Ketika hendak keluar dari area dapur dia di kejutkan dengan kehadiran ranti yang menatapnya tidak suka.
"astagfirullah...ranti! Kamu ngagetin aja," ucap bi tari sambil mengelus dadanya.
"apa yang kamu bilang barusan! Ranti katamu? dengar ya bi. Mulai hari ini panggil saya nyonya? karena saya suda menikah dengan faiz,"
'wah ngelunjak nih anak! Tidak tau saja jika dia terjebak dalam permainannya sendiri?" batin bi tari berusaha menahan senyumnya.
__ADS_1
"maaf ranti! Saya hanya menjalankan perintah dari tuan muda untuk memanggil anda dengan nama dan bukan nyonya!"
"halaaa...itu akal-akalan mu saja,! bilang saja kamu tidak suka aku menikah dengan majikanmu yang kaya-raya itu, makanya kamu tidak sopan sama saya" ucap ranti lagi dengan bengisnya mencemooh dengan angkuhnya di depan bi tari.
"ya suda! Saya masih banyak pekerjaan, jika kamu lapar ambil saja sendiri. Tadi di lemari masih ada sisa dari tuan muda, kurasa itu cukup untuk kamu sarapan pagi " pamit bi tari, tapi ranti kembali memekik.
"kamu pikir aku ini kucing yang harus makan makanan sisa? Pokoknya kamu harus bikin yang baru lagi cepetan? Sebelum aku memecat mu dari rumah ini.?" sentak nya kesal seakan dia suda berkuasa di rumah Dirgantara.
'idih! Lemes banget tuh mulut, memang dia siapa main pecat- pecat aja. Belum juga sehari jadi istri dadakan tingkahnya udah nggak ketulungan, ihs..dasar ulat bulu' sungut bi tari dalam hati berusaha menetralkan kekesalannya.
"maaf ya ranti, rumah ini atas nama tuan muda dan saya bekerja untuk tuan muda jadi suda pasti tuan muda juga yang menggaji saya, nah. Jadi kamu tidak punya wewenang untuk memerintah apa lagi sampai memecat saya ngerti? Lagian situ punya tangan buat masak, kenapa malah nyusahin orang sih,
"eh kamu ya makin kurang ajar saja, lihat? Aku laporin kamu sama faiz biar tau rasa kamu?"
"hehehe...ngga takut tuh,? lagian apa yang aku katakan tidaklah salah, kamu itu sorang istri, harusnya kamu bangun lebih awal dari suami kamu untuk mengurus segala keperluannya untuk kekantor, lah ini? Di saat suami suda di kantor kamu malah baru bangun dengan rambut seperti singa, jangan-jangan kamu belum cuci muka ya?"
"itu bukan urusan kamu, bukannya masak! Ini lagi malah ceramah, dasar pembantu sial?" ranti kembali ke kamar dengan perasaan yang teramat kesal.
"weladalaaaa..mbok yo jadi orang kok nggak punya etika banget, beda banget dengan non rania yang sikapnya baik dan humoris, non rania juga tidak perna bersikap kasar kepada para asisten di rumah ini, sayang sekali tuan muda mala melepas non rania dengan tuduhan tanpa bukti."
Karena ranti suda kembali ke kamar, bi tari kembali mengerjakan pekerjaannya.! sementara di kantor! faiz masih kelimpungan dengan keadaannya sekarang.
" ah sial?" umpatnya kesal meremas rambutnya.
"bodoh bodoh? Seharusnya aku tidak membiarkan dia masuk ke rumah ku! ini malah aku memberi izin ke dia untuk menginap, aarrggghhh? Aku benar-benar bodoh, jika suda begini apa lagi yang bisa ku perbuat?"
__ADS_1
Setelah bergelut dengan pikirannya, akhirnya faiz memutuskan ke club malam untuk menenangkan diri meskipun hari masih terbilang pagi