
"sudah jangan nangis lagi, tidak baik untukmu yang sedang hamil, tunggulah di sini akan ku ambilkan baju ganti agar kamu bisa membersihkan dirimu,"
sebenarnya aku malas untuk beranjak, aku masih nyaman berada di pelukannya, tapi aku juga enggan untuk menolak, bisa panjang ceramahnya kalau dia tau aku tidak mau mandi.
"darimana kamu mendapat baju ganti apakah tadi kamu pulang," tanyaku turun dari pangkuannya.
"iya, tadi saat keluar dari ruangan mu aku langsung pulang lalu kembali lagi ke sini dan memeriksa pasien yang lain, ayo sana mandi, sekalian bawa handuk dan baju ganti aku akan menunggumu di sini,"
Aku sedang tidak ingin berdebat, jadi aku patuh saja seperti apa yang dia jelaskan.
Wira lalu keluar dan menuju ruangannya yang bersebelahan dengan ruangan kamar ku, sementara aku kembali duduk dan menunggu dengan manis.
"nih baju dan handuknya, pelan-pelan aja kamu nggak usah buruh-buruh nanti kamu malah jatuh, ini infusnya lepas dulu nanti aku pasang lagi kalau kamu suda mandi, atau kalau habis mandi kamu baik-baik saja infusnya nggak usah pasang lagi,"
Aku heran,! Wira kalau terlanjur ngomong kok panjang banget ya, aku aja pusing dengarnya.
"ya suda kamu di sini saja ya, awas lo kalau ngintip," ancam ku menunjuk ke arahnya.
hanya beberapa menit saja aku suda selesai mandi, ku keringkan badan ku lebih dulu lalu meraih baju yang di pilihkan wira dan waaaahhhh bajunya tidak muat looohh?.
Kenapa bisa,? Mungkin karena perutku suda mulai bersisi jadi terlihat ketat menggunakan baju kaos, tapi ku gunakan saja dari pada keluar hanya dengan handuk bisa-bisa pikiran wira berkelana kemana-mana.
Merasa pas dengan penampilanku aku pun keluar mengunakan baju kaos dan rok di bawah lutut.
Wira sampai tidak berkedip memperhatikan ku keluar dari persembunyian.
Tapi Kenapa tatapannya aneh gitu?.
"wir kamu kenapa sih ngeliatnya gitu amat, ada yang salah ya sama baju aku," tanyaku membuyarkan lamunan wira.
"bajunya kayanya kesempitan deh, kasihan perut kamu nanti,"
Lah memang siapa yang ambilin baju ganti.
"kan kamu sindiri yang ambilin, ya aku pakai dong meskipun sempit kaya gini,"
"Kenapa di pakai kalau memang sempit,?" ucapnya lagi protes, dasar edan aku masih waras kali makanya keluar dengan baju.
"lha terus aku harus keluar dengan handuk gitu, bilang saja kamu mau cuci mata, aneh? Enak saja kalau ngomong,"
__ADS_1
Aku berjalan lalu duduk di sampingnya sambil menunggu adzan magrib tiba.
"maksud aku bukan gitu, kalau memang nggak muat kan aku bisa ambilin lagi di ruangan aku,"
Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal, malu banget deh berpikiran yang tidak-tidak.
"hehehe..maaf! Habis kamu sih nggak ngomong dari tadi," aku cengengesan menyembunyikan rasa maluku.
"kan kamu juga nggak nanya?" jawabnya polos, ingin sekali ku cubit pipinya itu.
"hehe..iya juga sih, berarti kita sama-sama salah ya," dia hanya mengedikkan bahu lalu keluar dari kamar.
"he? Kamu mau kemana?"
"ke ruangan ku mengambil baju ganti buat kamu," jawabnya setengah berteriak, padahal dia belum jauh kenapa harus teriak-teriak sih, kaya tarzan aja.
Selang beberapa menit wira Kembali lagi dengan baju di tangannya yang bisa ku pastikan itu adalah daster.
"nih bajunya, sana cepetan ganti kasian tuh perut kamu kesempitan," ucapnya menyerahkan baju berwarna merah marun.
Tanpa membantah ku raih baju itu dan berlalu ke kamar mandi.
"naah...! kalau gini kan kamu juga enak pakaiannya, dari pada yang tadi kamu lebih mirip sepertinya balon yang siap meletus,"
Aku hanya mengerucutkan bibir mendengar tanggapan wira, bisa-bisanya ngatain aku seperti balon, memangnya aku gendut.
"ya suda aku tinggal bentar ya, aku juga perlu mandi biar harum saat kamu peluk kaya tadi," selorohnya tanpa rasa malu.
"iya sana mandi aku juga mau shalat dulu,"
Setelah shalat ku lanjutkan dengan doa agar anakku lahir dengan selamat dan ku akhir dengan mengaji beberapa lembar surat-surat pendek.
selesai mengaji ku bereskan mukena dan sajadah dan meletakkannya di atas meja lalu kembali ke tempat tidur menunggu wira dan shalat isya.
"udah tidur?" tanya wira mengembul di belakangku karena posisiku membelakangi pintu.
"belum,! Kenapa?" tanyaku balik lalu bangun untuk duduk.
"ayo makan dulu, tadi aku beli ini di depan rumah sakit semoga saja cocok dengan lidah kamu,"
__ADS_1
Aku hanya tersenyum, segitu perhatiannya wira sampai-sampai harus hawatir takut aku tidak suka.
Dengan hati-hati wira membuka bungkusannya memperlihatkan potongan ayam kentucky lengkap dengan nasi, lalapan dan juga sambel, melihatnya saja suda menggoda banget.
"ayo di makan dulu?" ucap wira menyodorkan bungkusan itu di depanku.
Tentu saja aku tidak menolak karena aku juga memang sudah lapar.
"kita makan bareng ya, kamu juga pasti belum makan," ucapku menawarkan lalu menyuapinya dengan tangan yang gemetar,
"sini aku suapin juga, masa cuman kamu doang yang pengen romantis," ucap wira gantian menyuapiku.
Apa dia merasa romantis? Tapi kenapa aku enggak ya, justru aku merasa ingin ke kamar mandi sangking groginya.
"ayo buka mulutnya, aaaaa...nah enakkan kalau di suapin, nih aku suapin lagi biar kamu kenyang, ayo buka mulutnya lagi, aaaa...,"
Begitu seterusnya hingga semuanya ludes dan masuk keperutku.
"gantian dong kok cuman aku yang makan,"
"nggak usah kan semuanya sudah habis,"
"lah..? Nasi sama ayamnya pada kemana,! Kok tinggal lalapannya doang," tanyaku melihat peiring sudah bersih dari ayam dan nasi yang mengepul tadi.
"ya di makan kamu lah, kamu pikir aku suapin kamu sama apa? Aku aja nggak kebagian lo sangking enaknya kamu makan sambil di suapin,"
Percaya nggak percaya tapi itu kenyataannya, jadi nggak enak sama wira.
"eeng..maaf ya kamu jadi nggak kebagian, kita pesan lagi ya biar kamu bisa makan," ujar ku menawarkan, barang kali wira mau di suapin lagi.
"nggak usah, kalau kamu kenyang aku juga merasa kenyang, nih kamu minum dulu,"
"hahaha...! kamu bisa aja wir mana ada yang kaya gitu," ucap ku tergelak dengan sedikit mendorong wira, mungkin aku memakai tenaga dalam makanya wira sampai tercengkang hingga jatu dari tempat tidur, hahaha...maaf ya wir sengaja soalnya.
Wira berdiri sambil mengusap-ngusap bokongnya, itu pasti sakit karena tempat tidur lumayan tinggi, tapi tidak apa-apa lah wir kan laki-laki , pasti kuatlah kalau jatuh kaya gitu.
"aduh..gila kamu niah, bercandanya sampai bikin aku berguling ke lantai," ucap wira sesekali terlihat meringis.
Aku hanya menutup mulutku takut tawa ku akan menyembur melihat ekpresinya wira.
__ADS_1