
"ada apa faiz, kenapa kamu diam saja, siapa orang yang kamu tabrak," tanya bu ranti keluar dari mobil,
"bu, faiz menabrak ayah renata," ucap faiz yang melihat pak adi berusaha untuk bangun.
"faiz apa yang kamu lihat cepat bantu pak adi," titah bu ranti pada faiz.
"pak saya minta maaf, saya bener-bener tidak melihat bapak tadi," jelas faiz membantu pak adi berdiri
"tidak apa-apa nak, bapak juga baik-baik saja, hanya sedikit memar saja nanti juga sembuh bila di beri obat," ucap pak adi.
"pak biar saya antar ke rumah sakit saja,"
"nak sudah bapak katakan, bapak baik-baik saja, dan maafkan bapak karena tidak memperhatikan jalan sebelum menyebrang,"
"bapak yakin tidak ingin ke rumah sakit?" tanya faiz lagi.
" tidak nak bapak Sungguh baik-baik saja," jawab pak adi.
"pak!,sekali lagi atas nama anak saya saya turut meminta maaf," bu ranti merasa tidak enak hati karena kecerobohan putranya.
"sayalah yang harus minta maaf, karena beberapa hari terkahir ini, anak saya Renata terus saja membuat masalah di keluarga bu ranti, dan saya sebagai orang tua merasa telah gagal mendidik anak saya satu-satunya," ucap pak adi membuat faiz dan ibu nya saling melempar pandang satu sama lain.
"dari mana bapak tau jika anak bapak tempo hari ke rumah saya, karena setahu saya, apapun tindakan Renata dia pasti tidak pernah melibatkan bapak," ucap bu ranti yang di setujui faiz.
"malam itu?, malam di mana renata anak saya datang ke rumah ibu, saya menyuruh salah satu anak buah saya untuk mengikuti renata, saya hanya ingin berjaga-jaga dari jauh, jika sampai anak saya bertindak melewati batasnya, maka saya sendiri yang akan menindak lanjuti perbuatan anak saya," ucap pak adi sedikit membuat bu ranti merasa prihatin pada pak adi.
Sebagai orang tua bu ranti juga dapat merasakan kesedihan yang di rasakan pak adi, apa lagi bu ranti juga tau, bagaimana renata melalui masa kecilnya, tapi karena renata tumbuh menjadi gadis yang tidak punya perasaan, bu ranti jadi tidak punya rasa empati pada renata.
"sudahlah pak, saya juga tidak mempermasalahkan hal itu dan saya juga suda tidak memikirkannya,"
"Terimakasih atas kebaikan bu ranti, kalau begitu saya pamit dulu, saya masih harus kembali ke kantor untuk miting lagi," ucap pak faiz undur diri.
__ADS_1
"tentu saja pak, kebetulan saya juga harus pulang untuk istirahat,"
Mereka kembali ke mobil masing-masing Dan melanjutkan perjalanan.
Di perjalanan oak adi tidak berhenti memikirkan faiz, dia melihat jika faiz sedikit menjaga jarak dengannya dan tidak terlalu banyak bicara saat bertemu tadi.
"sepertinya faiz masih kesal dengan perbuatan renata, lalu apa yang harus ku perbuat dengan sikap putriku, apa aku harus menghukumnya atau aku harus bagaimana?, di luar sana, renata terus saja menciptakan masalah, entah itu untuk siapa?, tapi aku sebagai orang tua satu-satunya harus mempertanggung jawabkan perbuatan putriku,"
Pak adi benar-benar frustasi dengan masalah yang datang menimpah keluarganya, sementara renata selalu saja membuat ulah.
"ya allah, di usiaku yang tidak mudah lagi tidakkah engkau ingin memaafkan putriku, hanya engkau yang bisa mengingatkannya," keluh pak adi meraup wajahnya dengan sedih.
Sementara di mobil lain ada faiz yang sejak tadi di perhatikan ibunya, karena saat bertemu deng pak adi faiz tidak banyak bicara, bu ranti mengenal putranya dengan baik, jika dia mendiamkan seseorang, itu pasti seseorang telah mengusik ketenangannya.
"nak, ada apa? Ibu lihat sejak tadi kamu tidak banyak bicara dengan pak adi, apa kamu marah padanya karena sikap renata?,"
Faiz melihat ibunya dan tersenyum.
"apa renata sudah tau kehadiran niah?," tanya bu ranti.
"iya bu, kemarin saat kami di butik, kami tidak sengaja bertemu dengan renata, ucap faiz.
"lalu? Apakah renata menyakiti niah seperti melakukan penyerangan atau semacamnya, bu ranti memberondong faiz dengan pertanyaan yang sangat banyak.
"renata tidak melakukan apa-apa, karena niah sudah membuatnya kesal lebih dulu dan kami pergi begitu saja sebelum renata benar-benar membuat masalah, kebetulan saat itu aku sudah lebih dulu mengirim pesan pada wira untuk datang mengatasi renata."
"bu faiz tau renata akan kembali lagi dan menyerang niah, karena itu juga faiz ingin mengadakan pesta di rumah saja, selain itu faiz juga hawatir dengan kesehatan ibu,"
"kau begitu menghawatirkan ibu,! Hem, ibu sudah mengurus semuanya jadi jangan terlalu banyak pikiran,"
"apa yang ibu siapkan?," tanya faiz melhat ibunya sekilas.
__ADS_1
"bukan apa-apa, hanya persiapan kecil untuk pernikahanmu yang tinggal dua minggu lagi," jawab bu ranti.
"apa! Dua minggu lagi? Apa tidak terlalu cepat bu, niah pasti tidak setu...." faiz belum selesai berbicara bu ranti suda motongnya lebih dulu.
"jangan katakan tidak, karena niah sudah setuju apapun syarat dari ibu asalkan ibu mau berobat, jadi kamu juga harus setuju, karena ibu sama sekali tidak ingin menerima penolakan titik,"
"bu tidakkah itu keterlaluan, itu sama saja ibu memanfaatkan kepolosan niah," ucap faiz masih tidak setuju dengan rencana ibunya.
Mereka sampai di rumah dan belum menyadari niah menunggunya sejak tadi.
"ibu melakukan ini unyuk kamu juga dan niah, jadi berhentilah berkicau seperti anak burung yang meminta di beri makan," ketus bu ranti turun dari mobil.
"ibu bagaimana dengan pemeriksaannya dan apa kata dokter,"
"niah kamu? Kakimu sudah sembuh, apa itu beneran tidak sakit, kenapa kamu tidak menggunakan kursi roda,"
Niah memijit kepalanya dan tersenyum, belum sempat menjawab bu ranti, faiz keluar dari mobil dan bertanya seakan tidak ada habisnya.
"niah apa yang kamu lakukan? bukankah kakak sudah bilang jangan melakukan sesuatu tanpa ada kakak yang mengawasi, jika tejadi sesuatu sama kamu apa yang harus kakak perbuat, dan lihat? kamu bahkan tidak menggunakan kursi roda,"
"bu, kak, niah harus jawab yang mana?"tanya niah memandang dua orang di depannya yang sedang memberi introgasi pada niah.
"di mana kursi roda kamu," tanya bu ranti dan faiz bersamaan.
" di atas,? Jawab niah dengan wajah polosnya.
"hem kamu ini, bisa-bisanya kamu sesantai itu," ucap faiz menggendong niah, membuat bu ranti terkesiap dengan tindakan putranya.
"apa itu putraku, rasanya sulit untuk ku pikirkan, dia bertingkah seakan dunia ini milik mereka berdua, seperti aku memang harus segera istirahat sebelum aku terkena serangan jantung,"
Bu ranti mengikuti faiz di belakang dan berusaha tidak mengganggu momen anak-anak mereka, hari ini dia juga sudah cukup lelah dan membiarkan faiz mengurus niah, sementara bu ranti berlalu ke kamarnya.
__ADS_1