
"mas, katakan sesuatu,! Apa yang terjadi dengan ibu,?" tanyaku lagi namun tetap saja tidak ada jawaban.
"mas jawab aku? kenapa hanya diam saja" tanyaku sedikit meninggikan suaraku, mungkin dengan begitu mas faiz bisa buyar dari lamunannya.
"berhenti memanggilku,? seharusnya aku yang bertanya padamu,! Apa yang kamu lakukan pada ibuku." ucap mas faiz berang terhadapku,
"mas? Apa yang kamu maksud,! Apa kamu menuduhku membunuh ibu?, tidak kah tuduhan mu itu berlebihan mas, aku bahkan tidak tau ada apa dengan ibu, saat aku keluar kamar ibu masih baik-baik saja." jelasku berurai air mata dengan sikap mas faiz.
"cukup rania? Aku sulit untuk percaya, pasalnya tadi pagi ibu baik-baik saja bahkan kami bertiga masih sempat tertawa bersama, sekarang ibu tiada dan itu semua pasti karena kamu penyebabnya, iyakan?." tuduh mas faiz hingga mendorong ku dan terjatuh kelantai.
"maaaas...." jeritku menahan tangis bercampur dengan rasa sakit saat tangan besar mas faiz menjambak rambutku hingga aku mendongak.
"apa ini sakit ha?"
"mas tolong lepaskan, kepalaku sakit mas?" rengekku memelas padanya.
"hahaha.....mudah saja? Kembalikan ibuku maka aku akan melepaskan rambutmu yang indah ini." tegasnya dan semakin menarik rambutku.
"mas? Ampun, demi allah aku tidak melakukan apapun pada ibu, kenapa mas malah menuduhku, aku juga sayang sama ibu mas jadi mana mungkin aku menyakiti apa lagi sampai membunuh ibu."
"jangan membawa nama allah, mulut itu tidak pantas menyebutnya."
Mas faiz mengambil koper yang ku tau itu milik ibu, dalam sekejab saja semua pakaian ibu sudah masuk dalam koper,
Mas faiz menatapku sekilas dan berlalu ke kamarku, saat dia keluar kulihat dia juga membawa kopernya.
"mas kamu mau kemana?"
Dia tidak menjawab dan terus berjalan melewatiku.
"kak niah ada apa dan kenapa kamu menangis," tanya wira dari belakang, sepertinya wira tidak mendengar pertengkaran kami.
"wir jelaskan pada mas faiz kalau kakak tidak melakukan apapun?"
"memangnya apa yang terjadi kak," tanya wira masih belum faham juga.
__ADS_1
"i...ibu me...meninggal wir?" kataku tertunduk namun wira sudah tidak di depanku lagi..
"ibuuuu...bangun,? Jangan bercanda seperti ini bu, candaan ibu sama sekali tidak lucu." sama seperti ku dan mas faiz, wira pun tak kalah hancurnya melihat tubuh ibu yang sudah kaku.
"suda? Pergi dan kemasi barangmu, hari ini juga kita kembali ke jakarta jenasah ibu harus segera di makamkan,"
Sikapnya benar-benar berubah, bahkan dia tidak menyuruhku berkemas seperti dia menyuruh wira berkemas.
"baiklah aku juga akan berkemas?" ucapku berdiri dari lantai Meski kutahu kecil kemungkinan aku tidak bisa ikut,
"siapa yang menyuruhmu ikut? Tetaplah di sini dan urus keperluan keluargamu."
"tapi mas aku?"
"cukup rania, aku tidak ingin kamu pulang bersamaku, kehadiranmu hanya akan menambah luka di hatiku,"
"me...menambah luka?, apa selama ini mas hanya beranggapan seperti itu, tidakkah mas berpikir jika sikap mas itu juga melukai hatiku,"
"cukup kalian berdua? Tidak bisa kah kalian ego kalian dan fokus pada ibu, jangan membuat dia kecewa dengan bersikap seperti ini." jelas wira menengahi dua orang di depannya yang sedang terbakar emosi.
"baiklah mas aku akan tetap di sini dan jangan hawatir, mulai hari ini, apapun yang terjadi rania ini tidak akan membebani kamu lagi." setelah berucap ku tinggalkan kamar itu dan kembali ke kamarku.
"mas ada apa,! Kenapa sikapmu berubah, kamu tau aku sayang pada ibu, tidak mungkin diri ini tega menyakitinya, bahkan aku masih ingat janji apa yang ibu minta padaku."
Aku berdiri dan berjalan ketempat tidur, hingga aku tertidur dan melewatkan sholat ashar,
"ya allah..." gumamku mengingat ini sudah sangat sore.
Aku keluar dari kamar dan mendapati bude sedang menata kue kue yang hendak di sajikan nanti.
"apa sejak tadi bude di sini, kenapa tidak membangunkan niah" kataku duduk di meja makan.
"bude tidak enak neng, soalnya bude lihat neng teh sangat lelah jadi bude biarkan saja neng tidur dengan pulas." jelas bude panjang lebar.
"yang lain kemana neng, kok sepi banget,! Apa bu ranti masih tidur." tanya bude lagi saat aku hendak berdiri namun aku kembali duduk mengingat apa yang terjadi tadi siang, aku benar-benar lupa jika mereka bertiga meninggalkanku.
__ADS_1
"neng kok diam saja,!"
"mas faiz dan wira kembali ke Jakarta bude" jelasku terdengar parau
"pulang ke jakarta,? Lah bukannya mereka bilang mau pengajian dulu, kenapa malah pulang? Terus bu ranti apa dia juga ikut" ucap bude tidak percaya jika mereka benar-benar pulang.
"iya ibu juga ikut dan karena ibu lah mereka harus pulang?"
Ku tepis segala gemuru dalam hatiku, dan tidak ingin terus mengingat apa yang terjadi hari ini.
"aneh,! Pada hal kemarin bu ranti sendiri yang mau tetap disini, kenapa malah pulang dan ninggalin neng di sini, harusnya kan mereka menemani neng dalam ke adaan seperti ini."
"ibu meninggal bude, karena itu mereka harus pulang karena ingin memakamkan jasad ibu."
"Innalillahi wainnalillahirojiun." ucap bude dan terduduk di sampingku.
Bumi seakan berhenti berputar, mengingat kepergian ibu, apa lagi dengan sikap mas faiz, aku benar-benar tidak habis pikir, se sempit itukah pikiran mas faiz, hingga dia melemparkan tuduhan keji itu padaku.
Bude memelukku, dan merasakan tubuhnya terguncang, mungkin bude sedang menangis,
"ya allah neng, kenapa neng juga tidak ikut pulang, bude kan ada disini untuk mengurus urusan bibi kamu."
bude tidak tau saja jika aku harus tetap di sini atas permintaan mas faiz.
"tidak apa-apa bude, jika di sini sudah selesai niah akan kembali ke jakarta,"ucapku menutupi apa yang sebenarnya terjadi.
"tapi neng dia mertua neng, tidak baik jika neng tetap disini, lebih baik neng pulang saja, biar bude yang mengurus masalah di sini."
"tapi bude?"
"sudah kemasi barangmu dan kembali ke jakarta,"
"ya allah...apa yang harus lakukan mas faiz saja tidak ingin aku menyulitkannya, lalu bagaimana aku kembali ke jakarta?" pikirku tidak tau harus berbuat apa?.
"bude beneran nggak papa niah tinggal?"tanyaku sebelum beranjak ke kamar, karena aku tidak punya pilihan lain selain kembali ke jakarta.
__ADS_1
"iya? Bude tidak apa-apa,! Ayo? Biar bude bantu untuk berkemas, nanti bude antar kamu ke perbatasan"
Aku mengangguk iya dan berlalu ke kamar di susul bude di belakang.