
Di perjalanan faiz terus saja memperhatikan niah, dia bahkan beberapa kali berdeham dan memegang tangan rania.
"mas! Fokuslah, mas sedang menyetir,"
"ya..mas sedang fokus melihatmu apa itu tidak boleh," ucap faiz masih terus dengan gombalannya.
"boleh kok mas..?tapi lakukan nanti saja, saat ini kehidupan kita ada di depan sana, salah sedikit saja, kita bisa mencelakai orang lain, atau bahakan kita yang?"
"huusshh..? Sudah cukup mas akan fokus, faiz segera berpaling dan fokus menyetir, ya...meski tangannya masih menggenggam tangan rania.
"tidak ku sangka dia akan berbicara sebenar itu, bagaimana tadi jika aku tidak fokus, membayangkannya saja membuatku takut,"
"ada apa mas? Kenapa kamu seperti merinding gitu? Kamu tidak sakit kan mas," tanya niah mencoba memeriksa faiz dengan menaruh punggung tangannya di kening faiz.
"hemm..tidak panas,!"
"sudah,! mas tidak papa, mas hanya kepikiran ucapan kamu saja, lain kali jangan mengucapkan hal-hal yang membuatku takut," ucap faiz masih dengan wajah yang di penuhi dengan keringat.
"emm..aku tidak akan membuatmu takut,"
Faiz hanya tersenyum dan kembali fokus menyetir mobil.
"niatku bukan ingin membuatmu takut, tapi aku hanya mengingatkan mu agar hati-hati, jika sampai terjadi sesuatu pada mas,! bagaimana aku menghadapi diri aku sendiri? pernikahan kita tinggal menghitung hari, dan aku ingin melalui semua bersama dengan kamu mas,"
Niah membuang pandangan keluar jendela dan tidak ingin memperlihatkan kesedihan di matanya, tapi bagaimanapun niah ingin berbohong, faiz tetap akan tau karena mendengar kata hatinya.
"sayang kita sudah sampai, ayu turun?" ucap faiz membuyarkan lamunan rania.
"iya mas,! tapi wira mana? Bukankah tadi dia di belakang kita!," tanya niah mengedarkan pandangannya.
"sudah,! Ayi masuk lebih dulu, disini udaranya cukup dingin lebih baik kita tunggu di dalam saja, lagi pula wira harus membeli keperluan yang lain,"
"apa wira akan menyusul kita mas?," tanya niah masih enggan untuk masuk.
"enmm...tentu saja,! Bukankah dia sudah janji padamu, bahwa dia akan menemani kita untuk ke tokoh,"
__ADS_1
Faiz menarik tangan rania dan memintanya untuk segera masuk.
"lihat sayang ada begitu banyak pilihan, kamu bisa memilih yang kamu, lihat bukankah ini terlihat bagus," faiz mengambil kaling berinisial F dan memasang kalung itu di leher rania.
"waaahhh... Cantik sekali,! Mas saya ambil yang ini juga," ucap faiz pura-pura tidak tau jika rania ingin menolak kalung itu, faiz tau alasan niah menolak pasti ujung-ujungnya karena yang.
"Selagi kamu bahagia, lakukan saja apa yang kamu mau mas, karena melihatmu tersenyum membuatku tidak punya alasan untuk menolak apapun yang kamu beri," batin niah menatap kalung nama yang menggantung di lehernya.
"pak,!" panggil faiz pada penjaga tokoh.
"iya pak faiz!, ada yang bisa saya bantu!," tanya penjaga tokoh.
"bisa tolong berikan cincin pernikahan yang berinisial nama kami,! cukup satu huruf saja di setiap cincin ya,"
"bisa jelaskan detailnya sedikit," tanya penjaga tokoh.
"emm...tolong tulis huruf R di cincin saya, dan tulis huruf F di cincin calon istri saya, saya ingin sedikit berbeda dari cincin pernikahan pada umumnya, apa bapak bisa mendesainnya untuk saya,! Dan pernikahan saya satu minggu lagi,? bisakah bapak menyelesaikan dua hari sebelum pernikahan?," ucap faiz masih melihat-lihat perhiasan yang lain.
"tentu saja pak, kami akan usahakan yang terbaik, berikan saja kami ukuran jari bapak dan calon bapak, agar kami lebih mudah membuat ukurannya,"
Setelah selesai dangan urusan cincin, faiz mengajak niah keluar, Karena sejak tadi wira belum datang juga.
"kalau begitu kami permisi, dan tolong kirim secepatnya, saya akan membayar lebih jika bapak bisa membuatnya," ucap faiz kemudian pergi bersama rania.
"iya pak! Kami kaan usahakan,"
"mas kamu mengeluarkan uang begitu banyak, untuk apa kamu membeli kalung ini, bukankah kita kesini hanya untuk membeli cincin pernikahan,! Kenapa jadinya malah kalung, ucap niah masih terus memperhatikan kalung yang menggantung di lehernya.
"sayang apa yang salah dengan kalung itu!, bukankah itu bagus,! Lihat? bahkan kamu tidak berhenti memandangnya, anggap saja kamu menyelam sekaligus minum air, jadi berhentilah mengeluh dan masuk ke dalam mobil,"
"hey..kita mau kemana?" tanya niah menhan pintu mobil.
"pulanglah,! Ngapain lagi coba kita disini, bukankah urusan kita sudah selesai," ucap faiz menutup pintu di sebelah rania dan berlalu pergi masuk ke dalan mobil.
"pulang,? Lalu bagaiman dengan wira mas,! Kenapa sejak tadi dia belum datang juga," ucap niah mulai hawatir.
__ADS_1
"sayaaang....wira itu sudah dewasa jadi kamu tidak perlu menghawatirkan dia, mungkin sekarang wira sudah di rumah, jadi ayo kita pulang nanti ibu hawatir sama kita," ucap faiz menarik hidung rania dan membuatnya cemberut.
"mas yakin,! Adikmu itu sudah di rumah,! Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya,! apa yang akan kita katakan pada ibu,"
Faiz mengurungkan niatnya menyalakan mesin mobil dan mulai berpikir.
"emm..baiklah mas hubungi wira dulu,"
"tut....tut....tu...halo kak ada apa,!" suara wira di sebrang telpon menjawab panggilan kakaknya.
"wira kamu di mana, apa kamu sudah selesai dengan tugasmu," tanya faiz melihat rania yang sesekali menggoyangkan tangannya.
"wira sudah di rumah kak, kebetulan semua yang di perlukan sudah di siapkan pemilik tokoh jadi wira hanya tinggal ambil saja"
"ya sudah kakak juga dalam perjalanan pulang," ucap faiz menutup telpon secara sepihak.
"apa-apaan ini,! Kenapa malah di matikan," ucap wira berlalu ke kamarnya, dan bu ranti hanya melihatnya dengan tatapan bingung.
"ada apa dengan anak itu?," ucap bu ranti turun ke bawah untuk mengambil minum.
"Skip di jalan"
"mas,? apa itu wira,! apa dia sudah di rumah,! dia bilang apa sama mas," tanya rania, tanpa jedah sedikitpun.
"adik ipar mu sudah di rumah, katanya barang yang di butuhkan sudah di siapkan di tokoh, jadi Wira tinggal ambil dan langsung pulang," ucap faiz menjelaskan dan menyalakan mesin mobil.
"syukurlah kalau wira sudah di rumah, dengan begitu aku tidak perlu takut untuk pulang,"
"Kenapa harus takut pulang,!" tanya faiz sedikit bingung dengan rania.
"tentu saja niah takut,! bukankah wira keluar untuk mengurus keperluan pernikahan kita, jika terjadi sesuatu pada wira, apa mas mau menjadi orang yang bodoh dengan sengaja mengantarkan nyawa pulang ke rumah," ucap rania di sambut tawa oleh faiz.
"hhhhhh...memangnya di rumah ada malaikat pencabut nyawa, sehingga kamu berpikir terlalu jauh, apa kamu menyamakan ibu dengan iblis yang berwujud manusia, ucap faiz lagi dengan tawa yang semakin menggelegar.
"ishh...bisa-bisanya mas menertawakan ku, apa ucapan ku ada yang lucu," rania malas menanggapi dan memilih diam.
__ADS_1