
"nggak usah mikir yang aneh lagian aku juga nggak Ngatain kamu beratkan?"
"Tapi secara tidak langsung kamu ngatain aku?"
"itu kan kamu sendiri yang bilang?"
"Tapikan aku?"
"Sudah jangan di teruskan, aku minta maaf ya, aku nggak bermaksud ngomong seperti itu."
"Iya aku maafin...tapi bang faiz emang beneran ya aku itu berat?"
"Emmm....sedikit hehehe..!"
lagi-lagi niah cemberut dan hal itu membuat faiz semakin gemas melihat niah kalau sedang marah.
"Marah ya?"
"Enggak kok?"
"Oh.., Ya suda kita sudah sampai, tolong buka pintunya."
"Kenapa niah nggak di turunin?"
"Emang kamu bisa berdiri, bukannya tadi kamu terjatuh saat kamu berusaha jalan sendiri, suda buka saja pintunya nanggung banget nurunin kamu."
Faiz memasukan niah kedalam mobil dan memasangkan sabuk pengaman untuknya, dan hal itu membuat niah jadi salah tingkah karena jarak mereka yang terlalu dekat.
"Duh..jantung ini kenapa sih kok deg degan gini."
karena niah merasakan debaran jantungnya yang tak beraturan membuat dia memegang dadanya. Faiz yang melihatnya bertanya.
"niah kamu baik-baik saja kan."
"I iya bang aku baik-baik saja kok."
Faiz semakin mengikis jarak mereka sehingga mereka semakin dekat.
"Kalau kamu baik -baik saja terus kenapa dadanya di pegang gitu, jantung kamu baik-baik saja kan."
"jangan sampai bang faiz ngerti jantungku sudah mau copot karena bang faiz sedekat ini,
bang faiz benar-benar menggoda, Jangan sampai jantungku berpindah tempat, ya ampun bang faiz bisa nggak sih gantengnya di kurangin dikit, sumpah gantengnya kebangetan tau, coba aja bang faiz mau jadi pacar aku, pasti akulah wanita yang paling bahagia di dunia ini, secara punya pacar yang gantengnya tingkat dewa."
batin niah, senyum-senyum Enggak jelas.
"I iya.. Bang faiz, niah cuman Enggak biasa naik mobil,
Mungkin karena itu jantung niah terasa sesak."
"Tapi itu bukan karena aku kan?"
"Bu...bukan kok?"
__ADS_1
faiz tak henti-hentinya tersenyum, mendengar semua yang di katakan niah dalam hatinya, sebenarnya faiz ingin menertawakan niah, tapi dia mengurungkan niatnya
Dan memutuskan duduk d kemudi.
"Ya suda kita berangkat Sekarang?"
"eemmm...?"
Raniah masih berusaha menetralkan perasaannya yang sejak tadi membuat dia panas dingin dan memilih untuk diam saja.
"Ada apa?"
"apanya?"
"Kenapa diam saja, apa kamu ada masalah, mau
Cerita, mungkin saja aku bisa membantumu,
Oh iya kamu tinggal di mana? Aku perlu tau kamu tinggal di mana, nanti setelah dari rumah sakit aku bisa mengantarmu untuk pulang?"
"Niah nggak punya tempat tinggal?"
"Maksud kamu?"
"Ini hari pertama niah di jakarta, dan tadinya niah mau cari kerjaan di jakarta, tapi niah di jambret, sekarang niah nggak punya uang buat ngontrak."
"Kalau kamu mau kamu bisa tinggal di kosan depan rumah aku, kamu nggak perlu hawatir karena aku pemilik kosan itu, nanti setelah semua urusan selesai aku akan mengantarmu ke sana."
"Beneran bang faiz?"
Faiz terkejut karena niah tiba-tiba merangkul tangannya.
"Terimakasih ya bang faiz, tapi niah boleh minta satu hal lagi nggak?"
"Apa?"
"Emmm...bang faiz mau nggak cariin niah kerjaan, niah benar-benar butuh kerjaan."
"Iyah nanti aku cariin?"
"Alhamdulillah...ternyata di jakarta nggak semua orang jahat, sebagian dari mereka masih ada yang baik seperti bang faiz." Batin raniah.
'Kita sudah nyampe, tunggu di situ saja dan jangan kemana."
"Kenapa? Bukannya kita kesini buat periksa kaki aku."
"Iya..aku tau? Tunggulah sebentar saja, nanti kakimu juga bakalan di periksa."
"Pov Renata!"
"Dokter wira Di mana faiz?"
"Ah renata ada apa lagi kamu datang kesini?"
__ADS_1
"Tentu saja aku mencari faiz, Dimana Kamu sembunyikan faiz?"
"Oh ya ampun kamu ini, kamu pikir faiz itu barang yang bisa aku sembunyikan?"
"Jika faiz tidak disini lalu kemana dia? Suda hampir seharian di tidak muncul di kantor, apa dia punya urusan lain yang lebih penting sehingga dia meninggalkan aku di kantor."
"Ya ampun kak faiz ini selalu saja membuatku dalam masalah,
Belum lagi jika harus menghadapi wanita yang pakaiannya Kurang bahan seperti ini."
Batin wira memutar bola matanya dengan malas.
"Renata lebih baik kamu pulang saja, aku sedang banyak pasien tolong jangan membuat keributan disini."
"Tidak? Aku tidak akan pulang sebelum aku bertemu dengan faiz?"
"Rena aku harus bilang apa lagi sih, kak faiz itu tidak ada di sini, pulanglah dan tolong jangan mengganggu pekerjaanku."
"Baik aku akan pulang, tapi kalau sampai aku tau kamu menyembunyikan faiz, aku akan buat perhitungan buat kamu paham?"
"Kamu ngancem aku?"
"Menurutmu bagaimana?"
"Chiii....dasar wanita gila."
"Pov wira."
"Hari ini jadwal pasienku sangat padat, aku sengaja datang sepagi ini dan pulang agak sore, karena memang di rumah sakit sedang kekurangan tenaga medis, jadi mau tidak mau aku harus siap siaga di rumah sakit, supaya saat ada pasien akan cepat di tangani, tapi karena kakak tersayang ku melarikan diri dari wanita gila itu, Yaitu renata,
Justru aku yang kena imbasnya, lihat saja, saat ketemu nanti aku akan buat dia membayarnya, enak saja udah jadiin aku bulan-bulanan kuntilanak itu, sepertinya wanita itu sudah pergi lebih baik aku periksa pasien yang lain."
"Pov faiz."
"Saat tiba di rumah sakit aku melihat ada renata, jika renata sampai tau aku bersama wanita lain, bisa-bisa niah di apa-apain sama wanita gila itu, seharusnya sebelum aku pergi aku kunci dia di gudang kantor dengan begitu dia tidak akan keluyuran nyariin aku, sekarang aku harus gimana? Wira pasti marah karena renata mengacaukan rumah sakitnya, sepertinya aku harus siap-siap menghadapi kemarahannya, lagipula meskipun wira itu adikku dia tetap saja tidak punya rasa takut padaku, tapi sebelum aku masuk aku harus menunggu renata pergi, jika dia sampai melihatku bisa-bisa rumah sakit ini jadi kapal pecah, jadi aku akan masuk jika dia sudah pergi."
"Sudah ayo turun?"
"Ada apa dengan pria ini, mengapa sikapnya aneh sekali."
Batin raniah.
"Iya?"
Baru saja raniah membuka pintu faiz tiba-tiba menahan pintu mobil sehingga tanpa sengaja kening raniah terbentur kaca mobil, karena kaca mobil memang hanya di turunkan sebagian saja.
"Bang faiz ada apa sih kenapa pintunya di tutup lagi kening niah kan jadi sakit."
"Kamu mau ngapain?"
"Mau turunlah kan bang faiz yang nyuruh."
"Pria ini selain ganteng ternyata pikun juga, bukannya tadi dia yang minta aku turun, kenapa malah bertanya aku mau ngapain, dasar aneh." batin raniah
__ADS_1
"Apa? Aku pikun, nggak tau aja dia kalau aku bisa mendengar apa yang dia pikirkan, tapi kalau marah pasti dia curiga darimana aku tau kalau dia ngatain aku, hmmm....sudahlah, itu juga bukan salah dia kan memang bener aku yang minta dia turun, tapi kan maksudku tunggu aku dulu, cuman aku belum ngomong gitu sih jadi dianya nggak ngerti." batin faiz.