Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran

Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran
Bab 68: gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran


__ADS_3

Setelah merapikan kotak obat, wira meletakkannya kembali di dalam mobil, Setelah menyimpannya wira kembali lagi dan berjongkok di depan ku sementara aku duduk di dalam mobil.


"bagaimana apa masih sakit," tanya wira memandangi ku, aku hanya mengangguk iya sambil menggoyangkan kakiku yang kaku karena terlalu banyak perban.


"wir kamu membungkus kakiku seperti orang mati,? Lihat ketebalan perbannya kakiku bahkan sulit di gerakan?" keluh ku protes karena memang rasanya tidak nyaman.


"biarkan saja biar kakimu lekas sembuh." jawabnya enteng tanpa berperasaan.


Ketika aku sedang berbicara dengan wira, mas faiz tiba-tiba datang dan langsung melabrak wira, aku tau sudah timbul salah paham di pikiran mas faiz, hingga memicuh penghinaan yang di lontarkan mas faiz.


Setelah cukup lama berdebat ku putuskan mengajak wira untuk pulang, biarlah dia berpikiran yang tidak-tidak percuma terus menjelaskan jika pada akhirnya dia tetap tidak akan percaya.


Wira menurut saja tanpa banyak membantah, setelah masuk dalam mobil wira langsung melajukan roda empatnya meninggalkan mas faiz yang masih mematung di tempatnya.


Sesampainya di apartemen aku langsung turun dari mobil lalu masuk kedalam lift tanpa menunggu wira lebih dulu.


"kak? Tunggu?" teriak wira namun tidak ku indahkan,


Sampai di lantai empat aku langsung menuju kamar mandi, ku buka penutup kerang dan berdiri di bawahnya, hem..Rasanya segar sekali saat air membasahi seluruh tubuhku tanpa melepaskan pakaian? Aku hanya ingin menyejukkan pikiran tentang banyaknya pertanyaan di otakku, rasanya aku benar-benar ingin gila jika mengingat masa-masa kebersamaan ku dengan mas faiz.


Apakah janji cinta itu hanya omongan saja, lalu kenapa mas faiz ingin bercerai dengan alasan seperti ini, dengan bukti apa agar aku bisa menghentikan perpisahan ini.


Kita Sudah melangkah terlalu jauh, dan kita berdua sudah berdiri di titik yang terakhir, hari ini mas faiz mengajukan gugatan cerai untuk ku, yang artinya sebentar lagi kami akan putus hubungan.


"aaaarrrrggggg....hiks?" jeritku di kamar mandi.

__ADS_1


"kenapa mas? Hiks... Kenapa kamu sulit untuk percaya,! aku tidak melakukan apapun pada ibu tapi kenapa kamu masih saja menuduhku?" teriak ku semakin histeris di dalam kamar mandi,


Aku tak habis pikir, pernikahan yang baru seumuran jagung sedang di perjuangkan di pengadilan, tidak? bukan di perjuangkan,! Tapi lebih tepatnya akan di akhiri.


entah berapa lama aku di kamar mandi hingga aku terbangun tau-tau sudah di tempat tidur.


"kak apa kamu baik-baik saja? Kenapa kakak menyakiti diri sendiri, jika kakak sakit apa kak faiz akan perduli,"


"aku tau bagaimanapun keadaan ku itu tidak akan Berarti apa-apa untuk mas faiz, aku hanya terlalu rapuh jika sekelebat bayangan masa lalu ku dengan mas faiz melintas begitu saja hingga benar-benar menguliti perasaan ku." ucapku dengan nada bergetar.


"ssuuttthh? Jangan terus di pikirkan, pikirkan saja apa yang lebih penting, misalnya anak yang sedang tumbuh di rahim kakak, dia juga butuh perhatianmu." jelas wira menatap ku dengan penuh kehangatan.


Yah harusnya aku jauh lebih ingat di Bandingkan wira, aku ini ibunya tapi justru wira lebih ingat ada kehidupan yang lain sedang berkembang di rahim ku.


"Terimakasih wir kamu sudah sangat banyak membantu ku, tapi ku sarankan jangan terlalu baik padaku, aku takut nanti malah suka sama kamu " ucap ku sedikit menggoda wira yang justru terlihat tersipu malu.


"ya aku tau kamu pasti akan melakukan yang terbaik, tapi? Biasa jelaskan siapa yang mengganti pakaianku," tanyaku, aku baru ingat jika tadi aku mandi tanpa melepaskan pakaian dan sekarang aku mengenakan pakaian yang lain,


"tentu saja aku memanggil pelayan wanita untuk mengganti pakaian kakak, aku masih waras kali untuk berbuat gila dengan kakak ipar sendiri, lagi pula jika mau aku akan meminta langsung sama kakak dan tidak perlu berbuat curang."


"ish?..kamu ini,! Aku kan cuman bercanda, sudah ah? Aku mau istirahat, lama-lama aku bisa mules dengar ocehan kamu." ucap ku lalu berbaring membelakanginya.


"ya baik lah kalau begitu aku ke rumah sakit dulu, kakak istirahat yang cukup ya, nanti malam mau ngajak kak niah jalan-jalan." ucap wira lalu berdiri dan berlalu keluar,


Aku juga enggan untuk bertanya hingga wira benar-benar pergi dari apartemen.

__ADS_1


Baru saja aku terlelap beberapa menit kini aku terbangun lagi.


"emngg? Siapa sih yang nelpon jam segini,? Aku meraih ponsel di meja samping tempat tidur dan melihat siapa pelaku yang mengganggu di jam tidur ku.


"ha? Ngapain burung gagak ini menghubungiku,?" ucapku kesal lalu menjawab telfon hingga tersambung.


"halo assalam?"


"langsung saja ya? Aku sudah mengurus semuanya, jadi aku butuh alamat mu agar aku bisa kesitu membawa surat cerai untuk kamu tanda tangani." ucap mas faiz, bukannya menjawab salam, ini malah komat kamit dulu tanpa di saring lebih dulu.


Ternyata secepat itu ya mengurus surat cerai, ku pikir akan butuh waktu yang lama baru surat cerai bisa keluar,


tapi ini? Aku benar-benar tidak bisa percaya jika suratnya bahkan sudah di tangan mas faiz, pada hal baru pagi tadi mas faiz ingin mengajukkan gugatan di pengadilan,


Atau jangan-jangan sudah jauh-jauh hari mas faiz merencanakan semua ini cuman akunya saja yang tidak tau.


Ku acak rambut ku kasar hingga penampilanku terlihat acak-acakan.


"halo niah? apa kamu masih mendengar ku,! cepat katakan kamu tinggal di mana? Biar surat ini bisa segera di tanda tangani." ucapnya lagi tidak sabaran membuat ku berdecak kesal.


"aku tinggal di apartemen wira, jika kamu sudah benar-benar butuh? datang saja ke sini aku dengan senang hati akan membubuhi kertas putih itu dengan tanda tanganku." ucapku setenang mungkin, meski sebenarnya hatiku sesak dengan kenyataan yang sudah di depan mata.


"jadi benar? Kamu sungguh kumpul kebbo dengan wira,? Tidak ku sangka, kamu ternyata tidak lebih dari wanita penggoda, bahkan adik suamimu saja tidak kamu lewatkan"


Dadaku benar-benar bergemuruh hebat, bagaimana tidak,? Pria yang masih berstatus suamiku dengan entengnya merendahkan dan menghina ku.

__ADS_1


"apa yang salah jika aku tinggal bersama dengan adik ipar ku jika suamiku sendiri sudah tidak punya hati lagi untuk ku mintai belas kasihan, kamu tau kenapa aku di sini, dan kau juga tau dengan alasan apa aku tinggal di sini, jika kamu masih mempertanyakan kebersamaan ku dengan wira maka cukup tajamkan penglihatan dan pendengaranmu dan jangan kaget jika aku kembali ke rumah Dirgantara dengan status yang berbeda." setelah berucap ku matikan sambungan telpon tanpa menunggu balasan dari kakak tua itu.


Biar saja dia semakin kesal, aku juga tidak ingin ambil pusing dengan tanggapan dia, benar kata wira aku tidak perlu menangis untuk orang yang tidak menganggap ku ada karena masih ada anak ku yang perlu ku pikirkan


__ADS_2