Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran

Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran
Bab 74: gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran


__ADS_3

Ku biarkan wira menikmati momennya terlebih dulu, jika di paksa pasti wira akan berbuat lebih, dengan keadaan ku yang bisa menggoda iman, aku takut jika wira sampai kalap dan menggarap ku seperti sawah.


"Terimakasih ya sudah biarin aku peluk kamu," ucapnya setelah cukup lama dia memeluk ku.


"iya, kalau gitu boleh aku pakai baju, kemejanya suda basah aku harus menggantinya sebelum aku masuk angin,"


Wira mengangguk dan melepaskan ku kembali ke depan lemari, wira juga suda masuk ke kamar mandi seperti yang ku minta hingga aku dengan leluasa memakai baju.


****


Malam ini aku makan bersama wira tanpa ada percakapan sama sekali, entahlah,? Wira juga sepertinya enggan untuk memulai percakapan.


"wir?"


Panggil ku akhirnya memecah keheningan.


"ya, ada apa?" tanyanya mengangkat wajahnya dengan seulas senyum, senyum yang dapat membius siapa saja yang melihatnya.


"emm..aku ingin tanya?" ucap ku sedikit gugup takut dia tersinggung dengan pertanyaan ku.


"tanya apa?" jawabnya masih tetap melanjutkan makannya.


"emm..itu,! Apa kamu punya pacar?" jiaaaa hahahahah..malu-malu tapi mau ya itulah aku, tadi menggantungkan harapan untuk wira, kini aku malah bertanya soal pacar ke wira, ish dasar aku ini, benar-benar unik jadi manusia.


"tanya pacar buat apa? Kalau aku punya ngapain aku ngajak kamu nikah,"


Iya juga ya, tadi sore kan wira ngajak nikah.


"kenapa? Kamu mau ya terima lamaran aku," tanyanya kini bertopang dagu di depan ku.

__ADS_1


ah manisnya,! Tidak tau apa aku masih dalam masa idah, ya setidaknya itu yang sering di Katakan orang untuk wanita yang baru bercerai seperti aku.


"tidak? bukan seperti itu maksudku, hanya saja,! Apa tidak ada yang marah jika kita tinggal satu atap, kamu pria yang sukses dan juga mapan ples ganteng, nggak mungkin dong kamu tidak punya pacar." tutur ku memilin ujung baju ku seperti anak yang sedang meminta sesuatu pada ayahnya.


" jadi kamu udah ngakuin kalau aku memang ganteng, hemm..wajar saja sih aku kan memang ganteng yea sebelas dua belas lah sama kak faiz, soal ada yang marah atau tidak, tentu saja ada yang marah," jawabnya membuat ku langsung mendongak kan kepalaku, ish benar-benar geer jadi orang.


"siapa yang marah, apakah renata atau mungkin ada yang lain," todong ku menatap aneh pada wira.


"allah yang akan marah jika tinggal satu atap, makanya aku ngajak kamu nikah, supaya apapun yang terjadi kedepannya semuanya sudah halal untuk aku dan kamu," jelas wira membalas tatapan ku.


Skatmat? Mampus kau rania, ngapain juga ngajuin pertanyaan menyiksa seperti itu.


"lah terus aku harus gimana? Aku kan masih dalam masa idah wir, nggak mungkin kalau kita nikah dalam waktu dekat ini, surat cerai dari mas faiz pun aku belum menerimanya," ucap ku jujur karena memang kenyataannya yang seperti itu.


Benar yang di katakan wira, jika kami suda menikah maka kami tidak perlu takut terjadi sesuatu hal yang dapat mengirim kami berdua ke maksiatan,


"hehehe...aku kan baru melamar kamu, untuk Sementara kitakan bisa tunangan dulu, tapi maaf ya bukannya aku tidak mau merayakan pertunangan kita, seperti yang kamu bilang, kamu masih dalam masa idah, kalau ada yang tau kamu tunangan yang ada nanti jadi masalah, jadi cukup kita berdua saja yang merayakan yang penting kita bahagia," ucap wira sambil mengeluarkan sepasang cincin pertunangan.


"aku suda siapin cincin buat kita, aku harap kamu suka ya, aku juga beli sesuatu buat kamu "


"apa?" tanyaku, tapi wira malah berdiri dan mengambil sesuatu di dalam lemarinya.


"kemarin sebelum kita ke pantai aku beli ini buat kamu," ucap wira meletakkan paper bag di depan ku.


"ini apa wir,? Ini bukan bom waktu kan,! " tanyaku sedikit melotot ke arah wira Sementara yang di pelototin hanya tertawa.


Rania kau suda di manis-manisin sama wira tapi kamu malah ngomong yang kecut kaya asem.


"buka saja nanti juga kamu tau isinya apaan, kalau di kasi tau namanya bukan surprise,"

__ADS_1


Tanpa menunggu lama segera ku buka pemberian wira dan taraaaaa.....?.


"wiraaaa!.....awas kamu ya, bikin malu aja tau nggak," teriak ku kesal mendapat hadiah yang tak senonoh seperti ini.


tebak isinya apaan? Sepasang pakaian dalam baju minim yang kurang bahan, di tambah apa lagi ini? Ku angkat tinggi-tinggi benda itu, ya ampun kenapa wira sampai kepikiran beli ini semua.


Dadaku kembang kempis karena orang yang ku cari tidak terlihat batang hidung, lihat saja kalau ketemu akan ku cucut hidungnya agar dia nurut kalau di bilangin.


"wira keluar, aku tau kamu masih di apartemen, cepat jeluar atau ku bakar apartemen kamu, ah tidak? Aku pasti akan masuk penjara,! Aku akan keluar rumah biar kamu bingung cari aku di mana, tapi kalau ada preman aku bisa amsyong,"


"wiraaa....ngapain kamu beliin aku barang menakutkan ini, barang yang bisa membanting harga diriku di depan kamu, kalau belanja ada bantingan harga si nggak apa-apa , tapi ini benar-benar memalukan, bagaimana kamu bisa membeli barang kampret ini,"


Aku benar-benar histeris hingga aku memutuskan untuk duduk di sofa, aku sampai ngos-ngosan seperti habis di kejar setan, padahal aku sendiri yang berlebihan, tidak? ini semua gara-gara wira.


"Lelah juga teriak-teriak sendiri, sementara yang di teriakin malah hilang bak di telan bumi, kaman anak itu, kenapa belum keluar juga dari persembunyiannya, apa dia benar-benar takut dari Ku,


Ya pikir ku begitu, ku tatap kembali barang-barang itu, hadee..mikir apa si wira itu, kok yang di beli malah barang kaya gini, aneh banget kan jadi orang.


"suda selesai marah-marah nya," ucap seseorang yang bisa ku tebak pasti adalah wira.


"kamu? Kamu dari mana saja kamu seneng ya denger aku teriak-teriak kaya orang gila,! sekarang jawab, ngaapin kamu beli barang-barang itu, apa nggak ada hadiah lain yang bisa kamu beli selain perlengkapan wanita, kamu tau itu jau lebih bahaya dari bom waktu yang ku katakan tadi,"


Aku kembali tersulut emosi Tapi yang kena amukan malah diam saja menampilkan lesung pipinya, oh tuhan lesung pipinya saja bisa mengubah suasana hatiku.


"duduk dulu, sensi amatsih jadi ibu hamil, aku itu beli semua itu karena aku tau kamu membutuhkannya, kain yang longgar dan bahan yang tipis itu akan sejuk di badan kamu, setahuku wanita hamil akan selalu merasa gerah dan kepanasan bila menggunakan kain yang tidak nyaman,"


"dan pakaian dalam ini buat apa kamu beli, bikin malu saja tau nggak," ucap ku kembali meletakan barang itu yang sempat aku angkat tepat di wajah wira.


"bukankah kamu sering buang air kecil, itu semua berguna untukmu, terlalu sering buang air kecil maka pakaian dalammu akan lembab dan itu tidak baik untuk ibu hamil, jadi aku belikan yang banyak supaya kamu bisa menggantinya jika dalaman kamu lembab,"

__ADS_1


"tapi kan aku malu di beliin begituan sama kamu wira,"keluh ku kini emosiku sedikit mulai redah, mungkin Karena penjelasan wira memang ada benarnya.


__ADS_2