
"ya allah...anak ini masih tidur juga" gumam wira berkacak pinggang menatap rania masih terbungkus dengan selimut, padahal hari suda hampir magrib.
"hay..kepompong ku sayang, ayo bangunlah! Sampai kapan kamu akan tidur, ini suda sore loh"
Rania menggeliat meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku.
"sekarang jam berapa mas!" tanya rania masih mengumpulkan nyawanya dengan benar.
"jam tiga lewat lima belas menit!" jawab wira di barengi usapan lembut di kepala rania.
"apa? kenapa mas baru bangunin,! Aku kan mau jalan-jalan maaasss!" protes rania merengut dan mengerucutkan bibirnya.
"hahaha...sayang mas kan juga baru selesai, " ucap wira tertawa terpingkal-pingkal melihat pipi dan bibir rania seperti ikan buntal.
'ish..mala ketawa! Untung ganteng! ' batin rania semakin kesal.
"sudah! Gimana kalau hari minggu kita jalan-jalan! Jadi sekarang niat di tunda dulu, soalnya kan suda sore, lebih baik kita pulang sebelum magrib"
"tapi janji ya hari minggu!" rengek rania memainkan ujung kemeja wira.
"iya sayang!"
jawab wira dengan senyum yang terlihat manis.
Setibanya di apartemen, mereka langsung masuk, tak lupa wira merangkul bahu rania dan tidak ada lagi kecanggungan di antara mereka.
"Alhamdulillah...akhirnya sampai juga, kamu mandi dulu ya, pasti kamu gerah banget, habis itu gantian sama mas!"
rania mengangguk patuh dan mengambil handuk lalu masuk ke kamar mandi.
15 menit rania suda selesai mandi lalu keluar hanya mengenakan handuk.
Wira yang sedang berbaring sambil memejamkan mata jadi terbangun karena mendengar decitan pintu yang terbuka.
Deg.
"sayang kamu kok nggak pake baju si! Kamu sengaja ya godain aku," ucapnya sambil berjalan ke arah rania yang sama terkejutnya.
"apaan si mas! Tadi aku lupa bawa baju makanya cuman pakai handuk, lagian mas juga! Bukannya tadi mas sendiri yang nyuruh aku untuk mandi ya," rania berlalu dari hadapan wira menuju lemari tanpa memperdulikan tatapan wira yang terlihat aneh.
"wooyy...sana mandi, katanya mau gantian, mala bengong! Kesambet baru tau rasa lo" rania melempar wira dengan handuk, hingga wira sadar dari pikirannya yang suda traveling kemana-mana.
"iya iya! Galak banget si, emang nggak bole apa lihat sebentar saja!" rutukknya masih tetap di tempatnya.
"nggak bole? Dah sana mandi,! entar nih sendal melayang kesana lo," ancam rania sambil mengayunkan sendal jepit miliknya.
"allahu akbar...gini amat kalau belum halal,! Gumam wira berlalu ke kamar mandi.
Saat wira di kamar mandi, rania sedang di ruang tamu menonton acara tv, tanpa dia sadar sejak tadi wira suda berdiri di belakangnya.
"baahhh.."
"ish apaan si mas, ngagetin saja deh! Kalau aku jantungan gimana? Kamu suda bosan hidup ya, awas aja kalau aku sampai spot jantung tak hantuin kamu kalau aku mati?"
__ADS_1
"ya ampun sayang, kok ngomongnya jadi bawa mati sih, aku kan cuman bercanda yang"
"nggak lucu tau nggak?" sungut rania membelakangi wira.
"
'lah marah lagi, sabar wir! Kamu anak yang baik kamu harus bisa menaklukkan bidadari di depanmu ini'
"maaf deh yang, jangan marah lagi yah, niatku kan cuman pengen buat kamu ketawa" jelas wira mencoba memeluk rania dari belakang.
"kamu masih marah ya!" tanyanya wira karena rania masih bergeming tak berkata apa pun.
"hemm" hanya deheman yang terdengar.
"udah dong maranya nanti cantiknya hilang looo?" ucap wira menenggelamkan wajahnya di ceruk leher rania.
"mas ih geli tau!" protesnya mendapat serangan yang membuatnya bergridik kegelian.
"biarin! Siapa suruh diamin aku, nih rasain nih nih,"
"hahaha...ampun mas ampun, iya iya aku maafin, udah jangan usil lagi?" ucap rania di sela-sela tawanya.
"ok karena kamu suda maafin aku, sekarang kita makan yuk, mas laperni."
" ayo! Tapi mas yang masak ya" goda rania menaik turunkan alisnya.
Wira hanya tersenyum menanggapi sikap manja rania, lalu menuntunnya ke meja makan.
"baiklah tuan putri, selagi aku masak, kamu tetap di sini ya, jangan kemana-mana! Apa lagi hilang dari pandanganku, stai di sini dan jangan mengganggu waktu masak ku mengerti?" rania hanya mengangguk pertanda dia mengerti.
"kamu mau di masakkan apa?" jawab wira justru balik bertanya.
"apa saja mas"
"ya suda diam di situ dan jangan merecoki ku?" wira mulai aktifitasnya mengambil sayuran kemudian membersihkannya, dengan cekatan wira meracik semua bumbu hingga dua menu telah siap untuk di hidangkan.
"bagaimana! Apa rasanya enak!"dengan hati was was wira memperhatikan ekspresi rania.
"hemm...enak! Enak banget malah, besok masakin lagi ya,!"
"syukurlah jika enak, makanlah yang banyak agar anakmu sehat"
"ya meski berat badan ku harus bertambah" dumelnya mengunyah makanan dengan perasaan yang entah.
Setelah semuanya selesai rania berdiri dari duduknya lalu membawa piringnya ke wastafel.
"suda kamu istirahat saja biar aku yang membereskan meja makan" rania hanya tersenyum tanpa beranjak dari tempatnya.
"kenapa malah senyum, sana duduk saja"usirnya lagi,
Bukannya pergi rania justru bergelendotan di belakang wira.
"kenapa? Apa kamu butuh sesuatu" tanyanya, dengan tangan yang sibuk membereskan meja makan, ya walaupun geraknya lambat karena ada rania di belakang.
__ADS_1
Rania hanya menggeleng pertanda dia tidak butuh sesuatu.
"kalau begitu duduklah, kasihan perutmu yang terus tertekan di belakang"
"aku mau peluk!"
"nanti ya, mas cuci piringnya dulu, duduk gih,! nanti kamu lelah jika terus berdiri"
"kan ada kamu mas"
"memang kenapa kalau ada aku?" tanya wira memicingkan mata.
"kalau aku capek nanti mas gendong aja, bisa kan!"
"itu sih maunya kamu yang, sana duduk saja, ini juga bentar lagi selesai kok"
Rania melepas pelukannya, menghentakkan kaki lalu memanyunkan bibirnya lima belas senti kedepan.
"idiihh..manyun!" ledeknya, rania semakin kesal melihat wira menertawakannya.
"nggak peka banget deh" rania berlalu ke kamar, daripada terus di dapur membuatnya semakin dongkol.
Setelah semuanya beres wira berlalu ke kamar melihat wanitanya yang beberapa jam lalu merasa kesal padanya.
Tok tok tok
"yang! Boleh aku masuk?" ijinnya Sebelum membuka pintu.
"apa?"
"astagfirullah...yaaang ngagetin aja ih?"gemesnya namun wira hanya mampu mengelus dada.
"yasuda sih masuk aja, biasanya juga nyelonong masuk tanpa ketuk pintu"rania masi memasang tampang kesal, tanpa mempersilahkan wira masuk.
"mas suami nggak di suruh masuk ni" selorohnya masih mematung di depan pintu kamar, tak lupa dengan tampang sedih yang di buat buat.
"mau masuk nggak?"
"maauuu..."
"terussss"
"jangan terus terus yang entar nabrak lo?"
"mass?" bentaknya karena wira tak kunjung bergerak.
"iya bidadari ku"
"mau masuk nggak?" wira hanya mengangguk sambil memainkan kakinya.
"Kalau begitu ngapain masih di sana maaaasss..ya allah jadi gemes deh aku lihat kamu, untuk kamu bukan bayi."
"Memang kenapa jika aku bayi, kamu mau cium aku ya,"sontak rania membulatkan matanya tak lupa bantal dia layangkan satu mendarat sempurna di wajah wira
__ADS_1
"ge er banget deh jadi orang,"grutunya membenarkan selimutnya.
"galak banget sih bidadari ku,"