Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran

Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran
Bab 43: gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran


__ADS_3

Di rumah Dirgantara,! Terlihat pasangan muda itu masih dalam balutan selimut seperti kepong-pong yang siap menjadi sepasang kupu-kupu yang indah,


"emmm..huaaammmm nyam...nyam emm..." suara rania yang merenggangkan otot-otot-ototnya, hingga tangannya tak sengaja mengenai wajah faiz yang tertidur.


"buggk?"


"astagfirullah...sayang kamu bangun kok pakai silat gitu si , ngagetin orang aja" ucap faiz terbangun menggosok hidungnya terasa sakit tertimpa tangan rania.


"hehehe...maaf? Hidung mas Enggak papakan," tanya rania melihat suaminya mengosok-gosok hidungnya.


"Enggak papa si,! Cuman hidungnya lumayan sakit," tunjuk faiz pada hidungnya yang terlihat memerah.


"eemmuaaccchhh...Enggak sakit lagikan"


"haaaa...kamu?"


Rania mencium hidung faiz lalu berlari masuk ke kamar mandi, sementara faiz hanya tersenyum mendapat perlakuan tak terduga dari istrinya.


Setelah beberapa menit, rania sudah selesai mandi, terlihat dia mengembulkan sedikit kepalanya Di balik pintu kamar mandi,


"cepat keluar ngapain masih di situ?"


"allahu akbar ya allah massss? Ngapain kamu berdiri di situ bikin kaget tau Enggak?,"


Rania keluar dangan handuk yang masih melilit di tubuhnya Sementara rambutnya yang panjang di biarkan tergerai begitu saja.


"glek"


Dengan susah paya faiz menelan ludahnya melihat pemandangan indah menurutnya.


"habis mandi saja kamu sudah terlihat cantik, apa lagi kalau sudah dandan, pasti akan jauh lebih cantik,"


Rania terperanjat, Karena faiz tiba-tiba memeluknya dari belakang,


Harusnya biasa aja ya, toh mereka sudah nikah, tapi rania tetap merasa mali jika faiz mulai usil padanya dan terus menggoda dengan berbagai cara.


Rania berbalik dan merentangkan tangan faiz ke udara lalau berjalan ke depan lemari.


"diam di sini dan jangan membuat ulah?" ucap rania menunjuk di lantai tempat faiz berdiri,


"kenapa?"


"aku bilang diam mas?"


"baiklah"

__ADS_1


Selama rania belum selesai, selama itu juga faiz tidak meninggalkan tempatnya, sambil menunggu pujaan hatinya selesai, sesekali faiz memainkan kakinya di lantai,


Pada hal faiz belum mandi, bisa saja kan dia kabur ke kamar mandi, tapi sayang dia justru lebih memilih perintah dari wanitanya dari pada menyegarkan diri dan berangkat kek kantor.


Setelah selesai memaki baju, rania keluar lagi dari kamar mandi, meski sudah menika tapi rania velum terbiasa berpakaian di depan faiz.


Rania menghentikan langkahnya melihat faiz masih ada di tempatnya.


"mas? Ngapain masih di situ" tanya rania berdiri di depan suaminya.


"Bukannya tadi kamu suruh aku diam?" ucap faiz masih enggan untuk bergerak.


"hhhh...mas kamu lucu deh akukan cuman minta mas untuk diam, kanapa mas malah jadi meneking di sini" ucap rania tertawa keras hingga faiz membulatkan matanya.


"kenapa tidak bilang dari tadi, kalau bilang kan aku bisa pergi mandi,?"


"kan masnya Enggak nanya, jadi wajarlah kalau aku Enggak bilang" jawab rania enteng.


Faiz terlihat gemas pada rania, hingga beberapa kali dia meremas tangannya tapi hanya dilakukan di belakang rania.


"huhu...sabar-sabar ini hanya godaan di pagi buta,!" ucap faiz mengelus dadanya beberapa kali.


Faiz masuk ke kamar mandi, sementara rania masih cekikikan di belakang faiz.


"sayang ada apa?"


"mas? Aku kangen sama bibi, sudah hampir sebulan aku tidak menghubunginya, aku hawatir dengan keadaan dia di kampung, karena bibi hanya tinggal sendiri,"


"jangan sedih kita akan menemuinya lebih dulu sebelum kita berbulan madu," ucap faiz mengelus pipi rania dengan lembut.


"sungguh? Kapan kita menemui bibi,! Aku tidak sabar ingin mengenalkan mas pada bibi, dia pasti senang dengan kedatang kita," ucap rania sangat antusias.


"Bagaimana jika besok? Mas akan bicara pada ibu lebih dulu baru kita berangkat?"


"Terimakasih ya mas?" ucap rania memeluk faiz,


"sama-sama sayang, ya sudah mas siapa-siapa dulu, nanti kita bahas lagi setelah mas pulang dari kantor,"


"emm?" jawab rania namun tidak melepaskan tangannya dari leher faiz kokoh,


Faiz berdiri dan melingkarkan satu tangannya di pinggang rania lalu berjalan ke arah lemari tanpa melepas istrinya.


Rania terus bergelantung di tubuh kekar itu, sementara sang pemilik sibuk meilih jas untuk ke kantor.


Saat hendak memakai, faiz menunduk dan mendaratkan satu kecupan di kening istrinya hingga tertawa geli dan semakin mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


"sayang biarkan mas bersiap dulu,"


Ranai mengangkat wajahnya lalu menggeleng seperti anak kecil,


"apa yang membuatmu tidak mau?" tanya faiz memainkan rambut pekat rania.


"boleh niah ikut mas?"


Faiz mengerutkan keningnya lalu melingkarkan tangannya di pinggang rania hingga kedua tubuh itu saling berhimpitan.


"istriku mau ikut kemana hem,! Apa kamu jiga mau ikut ke kantor?" tanya faiz mendapat anggukan dari rania.


"kamu akan bosan jika berada di kantor, karena mas harus menghadiri dua miting sekaligus, kenapa tidak di rumah saja, kamu bisa menemani ibu jika kamu merasa suntuk"


Rania memajukan bibirnya hingga beberapa senti lalu berbalik membelakangi faiz yang masih menenteng kemeja dan jasnya.


"baiklah jika kamu mau ikut, tunggu mas bersiap dulu,"


Mendengar faiz mengijinkannya, rania sangat kegirangan dan lagi-lagi rania memeluk faiz, faizpun tampak bahagia melihat istrinya terlihat manja pada dirinya.


"baiklah,! Biar niah bantu siapa-siapa ya, berikan kemejanya biar ku pakaikan pada mas," ucap rania mengambil alih pakaian faiz lalu memakaikannya satu persatu hingga selesai,


"astagfirullah....wira?" ucap rania mengatur debaran jantungnya, sementara faiz terlihat kesal pada adiknya.


Saat hendak keluar mereka di kejutkan dengan kedatang wira,


Sebenarnya wira tidak bermaksud mengejutkan kakak iparnya, hanya saja mereka belum ada yang tau jika rania mudah sekali takut dan belum ada yang tau akan hal itu.


"ngapain kamu sepagi ini sudah berdiri di depan pintu," tanya faiz keluar dari kamar di susul rania di sampingnya.


"itu? Aku ijin ikut di mobil kakak," ucap wira sedikit tidak enak sepagi ini sudah mengganggu kakaknya dan kakak iparnya.


"kemana si merah apa dia sedang sakit?" tanya faiz bebrbalik menatap adiknya.


"bukan sakit,! Tapi lagi ngambek"


"merah si siapa mas?" tanya rania yang sangat terlihat polos.


"bukan siapa-siapa, itu hanya simpanan wira yang lagi ngambek, makanya wira mau berangkat bareng," jawab faiz sekenanya.


Rania menggaruk kepalanya yang tidak gatal hingga wira dan faiz tetawa kecil melihat ekpresi rania.


"kenapa kamu berangkat kerja jika sedang bermasalah dengan si merah," rania bertanya seolah-olah apa yang di lakukan wira itu tidak benar.


"biarkan saja kak niah, jika dia sudah baikan pasti bisa di gunakan lagi, lagipula aku ini dokter, aku tidak bisa tidak kerumah sakit karena banyak pasien yang menungguku," ucap wira membuat rania terlihat geram dengan jawaban adik iparnya.

__ADS_1


__ADS_2