
Usai icap kobul, kini saatnya menyambut para tamu undangan, sebagian dari mereka adalah keluarga dan tetangga, sebagian lagi adalah rekan bisnis faiz, di sini meski faiz masih terbilang mudah, tapi dialah yang paling disegani, selain tampan, faiz juga pandai kungfu dan beberapa ilmu beladiri lainnya, dengan postur tubuh yang tinggi besar, membuat dia semakin berkarisma dengan penampilannya.
"pak faiz selamat atas pernikahan anda, semoga kedepannya kami para jomblo bisa segera menyusul bapak,"
"hhhh....Lo kali yang jomblo bukan kita," ucap salah satu karyawan faiz mencelah rekan kerjanya dengan tertawa terbahak-bahak.
"Terimakasih juga karena kalian menyempatkan waktu untuk hadir," ucap faiz yang seketika membuat yang lain merasa rada aneh.
"apa kamu yakin dia bos kita?,"
Ucap salah satu karyawan setengah berbisik yang bernama dimas.
"menurut kamu bagai mana?, jika kamu masih ragu kamu bisa mengetesnya sendiri dia bos kita atau bukan,"
"kamu gila ya? Bagai mana jika dia memang bos kita,? Kamu mau aku mengantar nyawa aku ke sana,!"
Roy hanya tertawa dan meninggalkan temannya sendirian.
"jika tidak ingin mati,! Maka berhentilah berpikir yang negatif, karena bagaimanapun sikap bos kita, setidak dialah orang yang mau memberi kita pekerjaan dengan gaji yang lumayan tinggi," ucap roy berlalu pergi.
"benar juga kata roy, meski pak faiz selalu bersikap dingin, tapi dia memiliki hati yang baik, baiklah roy tunggu akuuuuu.....," teriak dimas dalam hatinya meski roy tidak mendengarnya.
Tak terasa hari semakin siang dan tamu pun sudah mulai pergi satu persatu, di antara tamu yang tersisa satu di antaranya mencuri perhatian faiz.
"bu? bukankah itu ayah renata, kenapa dia disini,! Apa ibu yang mengundangnya," tanya faiz masih memperhatikan sekitarnya, bukan apa-apa yang faiz takutkan, hanya saja ini Acara pernikahannya dan di depan sana ada pak adi, bukan tidak mungkin jika renata juga hadir.
"dua hari yang lalu ibu mengundangnya tanpa sepengetahuan mu, ibu tau apa yang kamu hawatir kan saat ini, tenang saja ibu tau siapa saja yang ibu undang, dan ibu sudah meminta pada pak adi agar tidak memberi tahu renata, jadi tolong kamu sambut pak adi dengan sopan ya,"
__ADS_1
"tapi bu? Bagai mana jika?"
"mas dengarkan kata ibu,? mengapa kamu begitu hawatir, lagipula! apa yang akan terjadi jika renata sampai datang kesini, Bukankah kita sudah menikah, jika dia hadir saat ini dia juga tidak akan bisa berbuat apa-apa karena kita sudah menikah," ucap raniah mencelah pembicaraan faiz dan ibu mertuanya.
"kamu dengar itu? Istrimu saja jauh lebih mengerti dari pada kamu," jawab bu ranti membenarkan ucapan menantunya.
"kenapa jadi aku yang salah sih,?" ketus faiz menekuk wajahnya seperti kertas kusut.
"niah lihatlah suamimu, dia bertingkah seperti anak kecil, kamu harus lebih sabar dengannya, kalau begitu ibu temui pak adi dulu, kalian berdua tetaplah di sini karena masih banyak tamu yang berdatangan," jelas bu ranti meninggalkan mereka berdua untuk menemui pak adi ayah Renata.
"pak adi selamat siang," sapa bu ranti pada pak adi.
"siang bu ranti,! maaf saya belum menyapa kedua mempelai," ucap pak adi membalas uluran tangan bu ranti.
"tidak apa-apa pak, lagi pula mereka masih di sana karena masih banyak tamu yang berdatangan,"
"saya turut bahagia atas pernikahan anak ibu, saya harap kedepannya mereka menjadi keluarga bahagia dan saling melindungi,"
"emm bu ranti, saya sangat berterima kasih atas undangan anda dan juga penyambutan anda ke pada saya, tapi sangat di sayangkan,! Saya benar-benar tidak bisa berlama-lama di sini, karena saya memiliki klayen dari jerman untuk melakukan miting,"
"tapi pak? Tidak bisakah anda menemui faiz dulu,!"
"tidak bisa bu? Saya bener-bener harus kembali kekantor, tolong sampaikan salam saya pada anak dan menantu ibu, maaf saya permisi dulu,"
"iya pak! Silahkan,? Biar saya antar kedepan,"
Setela kepergian pak adi, bu ranti kembali menemui faiz, dia sendiri tidak tau kenapa pak adi begitu terburu-buru, namun bu ranti tidak angin memikirkan hal itu, hari ini,! Hari kebahagiaan anak-anaknya, alangkah baiknya jika semuanya tetap baik-baik saja.
__ADS_1
"bu! kemana pak adi," tanya faiz ketika melihat ibunya.
"dia baru saja pulang, katanya ada miting mendadak, tadinya ibu mengajak dia untuk menemui mu dan raniah, tapi dia menolak, karena klayen yang akan meiting dengannya adalah orang dari jerman, pak adi hanya menitip salam dan maaf untukmu dan raniah karena dia tidak bisa menemui mu secara langsung."
"hemm...ya sudah bu tidak usah di pikirkan, mungkin pak adi memang sedang sibuk,"
"kalau begitu antar raniah ke kamar, dia pasti sangat lelah, kamu juga perlu istirahat, tapi nanti setelah parah tamu sudah tidak ada baru kamu istirahat"
"sepertinya sikap manis ibu hanya berlaku untuk istriku saja,,sementara untuk aku dan wira ibu akan tetap sama seperti biasanya," batin faiz memasang wajah cemberutnya.
"mas kenapa wajahmu jelek begitu,? Tanya raniah menggelantung di lengan faiz seperti ular.
"jangan pikirkan wajahku, lebih baik kamu ke kamar untuk istirahat,?" Ketus faiz menarik tangan raniah seperti anak kecil, tapi raniah hanya menurut saja dia tau jika faiz sedang kesal.
"mas? Aku belum makan,! tidak bisakah kita makan dulu, aku sudah lapar sejak tadi," faiz menghentikan langkahnya dan berbalik menatap wanita yang baru saja dia nikahi.
"hemm..sayang masuklah ke kamarmu, nanti bibi akan mengantarkan makanan untukmu," ucap faiz kembali menarik raniah ke kamarnya.
"tidak bisakah dia menjelaskan apa yang membuatnya kesal, apa gunanya diam terus, jika pada akhirnya aku juga pasti akan tau,! Dasar manusia kulkas, bisa-bisanya dia bersikap dingin padaku, apa aku yang membuatnya marah, sehingga dia membekukan hatinya hingga seratus delapan puluh derajat,"
raniah masuk dan menghempaskan bokongnya di sofa, faiz yang melihat hal itu melihat raniah dengan tatapan yang mematikan.
"apa kamu sudah bosan hidup? Tanya faiz membuat raniah terkejut dan merasa takit.
"m....mas? Kamu bicara apa? Jawab ranaih dengan mata yang berkaca-kaca, faiz sadar dia sudah terlalu keras pada raniah.
"niah mas minta maaf,! Mas tidak bermaksud menyakitimu,? Ucap faiz segera memeluk raniah agar berhenti menangis.
__ADS_1
"jika ibu sampai melihat raniah menangis, bisa habis aku sama ibu, lagipula ada apa denganku, kenapa aku merasa irih dengan istriku sendiri,"
Faiz melihat raniah sudah lebih tenang dan sedikit melonggarkan pelukannya.