Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran

Gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran
Bab 7: gadis desa dan ceo ganteng pembaca pikiran


__ADS_3

"ada apa? Kenapa malah tertawa, apa ada yang lucu, kakak tau berapa lama aku nungguin kakak, lihat!, aku bahkan berpikir akan pergi dari sini, karena kakak datang terlambat ."


"Sayang maaf ya, tadi kakak ada urusan sebentar, gimana? apa kamu suda sudah selesai, jika suda, ayo kita pulang, tunggulah sebentar, kakak bayar dulu belanjaan kamu,."


"haaaa....sayang? Kak faiz bilang sayang ke aku, apa aku nggak salah dengar ya, tapi kayaknya Enggak deh, emmmm....kak faiz boleh di ulangi lagi nggak manggil aku sayang,"


Di depan kasir, faiz terus saja tersenyum, bukan karena penjaga kasirnya yang cantik, tapi faiz tersenyum karena mendengar apa yang di katakan raniah dalam hatinya,


"ada apa pak,? kenapa bapak senyum-senyum sendiri,! apa ada yang salah dengan penampilan saya," hahaha...mba kasirnya jadi bingung nih, gara-gara bang faiz nya senyum senyum sendiri, hati-hati bang faiz, nanti mba kasirnya naksir lagi, secara senyum akang faiz teh manis pisaaaan.


"eh..mba bukan seperti itu, saya hanya teringat sesuatu, emmm berapa total belanjaannya mba,"


"semuanya tiga puluh empat juta tiga ratus ribu pak."


"Pakai debit saja, saya tidak membawa uang tunai"


"baik pak,"


Setelah selesai melakukan pembayaran, faiz membawa semua barang belanjaan raniah, dan menyimpannya di bagasi mobil, faiz baru ingat, jika di dalam ada seseorang yang mengawasi raniah, setelah urusan barang selesai, faiz segera berlari masuk kembali ke dalam toko dan menghampiri raniah.


"kak, ada apa? kenapa kakak kelelahan gitu, apa terjadi sesuatu di luar toko," lihatlah dirimu sangat berkeringat, kakak duduklah dulu, supaya kamu lebih tenang."


"sssstttttt....hhemm niah, kalau nanya itu satu-satu biar kakak nggak pusing mau jawab yang mana,."


"niah kan cuman nanya kak." niah cemberut dan mendorong kursinya sendiri.


"hey..kakak hanya bercanda, kenapa kamu harus marah, lagian jika terjadi sesuatu sama kamu, gimana sama kakak."


"Memangnya kenapa dengan kakak jika terjadi sesuatu sama aku, apa kakak akan gila, atau kakak akan bunuh diri, kakak nggak sayang apa sama diri kakak sendiri, lagian hidup kakak itu tidak bergantung sama aku, jadi nggak usah aneh-aneh kalau ngomong."


Plletaaakkk..!.


Faiz menjitak kepala raniah, dan mendorong kursi rodanya tanpa melihat ekspresi raniah yang sedang kesal, raniah terus saja mengomelinya, tapi faiz sama sekali tidak menggubris ucapan raniah,


"kakak itu sakit tau, apa kakak juga mau mencobanya," ucap niah pada faiz sambil mendongakkan kepalanya, karena posisi niah yang sedang duduk di kursi roda.


"dasar kucing garong."raniah belum tau saja, kalau faiz mendengar apa yang dia katakan.

__ADS_1


"kenapa?" niah tidak menjawab.


"heemmm...masih marah."


"menurut kakak bagai mana?"


"menurut kakak sih, kamu tidak marah, tapi kamu sedang merajuuuk."kata faiz sambil menarik hidung raniah.


"Apaan sih, emangnya aku anak kecil apa?"


"hhhhh...jangan marah nanti manisnya hilang loh." goda faiz, membuat pipi raniah merona.


"lihat saja tuh, pipi kamu sampai merah gitu, sepertinya kakak suda tau, bagai mana caranya bikin kamu tertawa."


"emang gimana."


"kepoooo."


"idiiih...siapa yang kepo, kakak tuh yang suka ngomong, tapi bikin bingung, "


"hhhhh...sudah -sudah ayo kita pulang, ini sudah sore, lagian kamu butuh istirahat, jadiiiii....sudah cukup jalan-jalannya."


"Eemm..gimana kalau kita makan di rumah kakak saja, sekalian kamu kenal sama ibu aku,"


"eemm..ok!, tangan niah membentuk o pertanda dia setuju dengan apa yang di katakan faiz.


"ya suda, kalau gitu sekarang kita pulang dulu, sini biar kakak bantu."


Faiz mengangkat raniah dan mendudukkan niah di kursi depan, tak lupa, kursi rodanya dia masukkan di bagasi mobil,


"baiklah ayo kita pulang, nona manis jangan lupa dengan sabuk pengaman mu, "


faiz melihat raniah, dan menyadari, jika raniah sedang tertidur, dan belum memasang sabuk


pengaman, faiz sedikit mendekat dan menarik sabuk pengaman lalu memasangnya untuk raniah, dengan sangat hati-hati faiz memasangnya, faiz tidak ingin membuatnya terbangun, hanya sejengkal saja, jarak faiz dari raniah, faiz berhenti sejenak karena merasa kagum dengan kecantikan raniah.


Faiz sadar apa yang dia lakukan, dan secepatnya faiz duduk di tempat semula, faiz berusaha menetralkan perasaanya, faiz tidak pernah menyangka, jika raniah terlihat lebih cantik jika di lihat dari dekat,

__ADS_1


Sepanjang perjalanan raniah hanya tertidur, mungkin dia terlalu lelah karena berbelanja, atau bisa saja karena pengaruh obat.


Saat tenga asik memperhatikan raniah, ponsel faiz berdering.


Zzzzzrrrŕtt.


Zzzrrrttt.


Faiz meraih ponselnya, dan melihat siapa yang menelpon.


"haloo.."


"selamat soreh pak faiz, apakah saya mengganggu bapak."


"maaf anda siapa? Dan dari mana anda mendapatkan nomor kontak saya."


"perkenalkan, nama Saya marsel, saya bekerja di kantor wijaya,


"marsel? Kantor wijaya? Bukankah itu kantor renata, tapi jika itu benar, apa hubungannya denganku, dan orang ini untuk apa dia menghubungiku, atau orang yang ku lihat di dalam toko tadi adalah orang ini, jika itu benar, pasti renata sengaja menyuruh orang untuk mengikuti ku, aku harus memastikannya." batin faiz merasa curiga.


"langsung saja ya, tujuan saya menelpon anda adalah, saya ingin menawarkan kerja sama dengan anda "


"kerja sama?."


"saya tau, anda sedang menyembunyikan sesuatu pada bu renata, dan jika bu renata sampai tau, bayangkan saja, apa yang akan terjadi, tapi tenang saja, bu renata tidak akan tau, jika anda mau menuruti keinginan saya."


"heii? siapa kamu, sehingga kamu begitu punya nyali untuk mengancam saya, dengar baik baik, jika terjadi sesuatu yang tidak saya inginkan, saya bisa pastikan, baik renata ataupun kamu, tidak akan saya lepaskan, lagi pula apa yang kau tau tentang saya haa?." bentak faiz penuh emosi.


"saya tau anda menyembunyikan seorang gadis, dan saat ini, gadis itu sedang bersama anda, saya suda mengambil beberapa foto sebagai barang bukti, dengan begitu, bu renata pasti sangat mudah untuk percaya,"


"apa yang kau mau dari saya, itu tidak akan pernah kau dapatkan, karena seorang faiz Dirgantara tidak pernah akan tunduk dengan ancaman murahan seperti itu, lakukan saja apa yang kau mau, tapi ingat satu hal, jika kau ataupun renata berani menyentuh wanitaku apa lagi sampai menyakiti fisiknya, saya akan menemukanmu meskipun kau pergi ke ujung dunia sekalipun ?." ancam faiz tak terima.


"Tu tu tu tuuttt...?"


Faiz memutuskan panggilan dan tidak ingin berlama-lama berbicara dengan orang yang suda menguras pikirannya,


melihat raniah yang tertidur, membuatnya sedikit lebih tenang, dia hanya perlu menjaganya, agar dia baik baik saja, karena satu orang yang mengenal dirinya, suda mengetahui kehadiran raniah, faiz memijat pelipis, rasanya begitu sakit, rasa hawatir membuatnya takut jika raniah sampai di lukai renata,

__ADS_1


Setelah sibuk dengan pikirannya, faiz memutuskan untuk pulang.


__ADS_2