
Faiz menutup pintu dan kembali duduk di samping niah, faiz teringat dengan pria yang mengancamnya tadi siang, faiz mengepalkan tangannya, karena dia tidak suka jika ada orang yang mengusik ketenangannya, faiz melihat niah dan menyentuh tangannya.
"niah, kakak minta maaf, jika saat ini, kamu harus dalam bahaya karena telah bersama kakak, kenapa kamu hadir niah, kakak tidak ingin melihatmu sampai celaka, kamu tidak akan pernah tau, bagai mana kehidupan kamu tinggal bersama kakak, memang kenyataanya baru sehari kakak kenal sama kamu, dan kakak tidak bisa berbohong, kakak merasa nyaman ada kamu bersama kakak, banyak hal yang unik dari diri kamu, yang membuat kakak jatuh hati saat pertama kali bertemu."
"kamu itu baik, ceria, dan juga pengertian, meskipun kamu sedikit konyol, tapi kakak suka dengan semua yang ada pada diri kamu, karena di mata kakak, kamu begitu polos, kakak berharap, meskipun kamu belum mengenal kakak dengan baik, tolong jangan pernah pergi, dan jangan pernah tinggalin kakak yah, kakak janji, akan berusaha mendapatkan semua kebahagiaan untuk kamu, apapun itu, dan bagaimana pun caranya, kakak tidak akan membiarkan siapapun menyakiti kamu."
Entah sudah berapa lama faiz menatap niah, hingga niah terbangun faiz tidak menyadari sama sekali.
niah menggoyang goyang kan tangannya di depan mata faiz, namun nyatanya faiz belum sadar juga, faiz masih sibuk dengan pikirannya..
Setelah beberapa menit, niah berusaha untuk duduk, niah memperhatikan faiz sekali lagi, dan sesekali niah tersenyum melihat faiz yang tak kunjung sadar dari lamunannya, niah menjepit hidung faiz lalu menariknya, dan itu sukses membuat faiz menjerit kesakitan.
"aaaaawwwwww.....niah kok hidung kakak di tarik sih."
"hhhh...lagian kakak kenapa sih liatin niah kaya gitu."
"kakak cuman berpikir, apa kamu tidak lapar, bukankah sejak tadi siang kamu bilang sangat lapar, lihatlah sekarang sudah jam berapa."
niah melihat kiri dan kanan, tapi dia tak juga menemukan apa yang dia cari.
"apa yang kamu cari."
faiz pun ikut melihat seperti apa yang di lakukan niah.
"emmm...itu kak, niah cari jam dinding, niah mau lihat sekarang jam berapa."
"niah, kamu kan bisa tanya kakak, dan tidak usah kebingungan gitu,"
faiz berkata sambil mengusap kepala niah, hal itu pun membuat niah sedikit gugup.
"kak faiz manis banget, niah kan jadi salting hehehe."
batin niah cengengesan, dan faiz hanya menanggapi dengan seulas senyum, dan hal itu pun membuat pipih raniah merah merona.
"emang sekarang jam berapa kak?"
Faiz melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, jam menunjukkan pukul 19.00, faiz melihat niah yang masih menatapnya dengan serius.
__ADS_1
"jam berapa kak?"
"heemm...sekarang jam tujuh malam."
"apa?, kenapa kakak tidak bangunin aku,"
"kakak tau kamu sedang lelah, jadi kakak tidak membangunkan mu, jika mau, kamu bisa tidur lagi, kakak akan di sini menemani kamu."
"deg."
"apa aku tidak salah dengar, kak faiz mau nemenin aku?, aku pasti cuman mimpi."
niah menepuk pipinya dengan kedua tangannya, hanya terasa perih saja, belum puas dengan pipinya, niah kembali mencubit tangannya, dan itu menimbulkan rasa sakit yang sama, yang artinya, apa yang niah dengar memang kenyataan.
"ha?...ini bukan mimpi, kak faiz beneran nemenin aku, tapi kenapa kak faiz begitu baik, padahal dia baru sehari kenal sama aku, apa kak faiz tidak merasa takut jika aku bukanlah orang baik."
niah memiringkan kepalanya, ke kiri dan ke kanan, mencoba mencari tau, apa orang di hadapannya, adalah orang yang sama yang dia temui di taman tadi.
"niah apa kamu baik baik saja,"
faiz menyentuh kening niah dengan punggung tangannya.
"kenapa tingkahnya sedikit aneh yah, apa wira memberikan obat yang salah pada niah, tapi mana mungkin wira seceroboh itu."
batin faiz sedikit bingung.
"niah tidak apa apa kok, niah cuman bingung saja, pagi tadi kita bertemu sebagai orang asing, karena kecelakaan kecil, mengharuskan kak faiz harus bertanggung jawab,"
"jika waktu itu orang lain yang ada di posisi kakak, mungkin mereka hanya akan pergi dan meninggalkan aku sendirian dalam keadaan sakit, yah seperti yang di lakukan preman itu, dia hanya mengambil semua barang-barang ku, setelah itu mereka mengusirku tanpa uang sepeserpun."
"hari ini niah sangat beruntung, bisa bertemu kak faiz, yah meskipun dalam keadaan seperti ini, setidaknya, setelah kejadian tadi pagi, niah jadi punya teman di jakarta,"
"coba saja kalau niah tidak ketemu kakak, pasti sekarang ini, niah masih ada di jalanan,"
"terima kasih ya kak, mungkin niah belum bisa membalas kebaikan kak faiz, tapi jika kakak butuh bantuan, insya allah, niah akan berusaha ada buat kak faiz."
"sama-sama niah, kakak juga bersyukur ketemu kamu, karena, dengan adanya kamu, kakak bisa mengerti, bahwa, tidak semuanya bisa di nilai dengan uang."
__ADS_1
"hari ini kamu hadir dalam hidup kakak, dan,?"
faiz menjeda ucapannya, dia sedikit gugup, pelan pelan faiz menyentuh tangan niah, niah pun juga tidak menolaknya, karena sejak awal, niah memang suda menyukai faiz.
"dan apa kak,?"
"emm..itu niah, kakak sedikit gugup, selama ini kakak tidak pernah sedekat ini dengan perempuan,"
"tidak papa kak, katakan saja, niah akan mendengarkan, jika memang hal itu mengganggu pikiran kak faiz."
ucap niah sedikit membuat faiz lebih tenang.
"niah ?"
"emmm."
"kakak suka sama kamu."
faiz mengatakannya perasaanya pada niah dengan memejamkan kedua matanya.
"kalau kakak suka, kenapa kakak malam menutup mata?, lihat niah kak,"
Faiz membuka kedua matanya, dan melihat niah yang tersenyum padanya.
"ni...niah, maafin kakak, jika ucapan kakak tadi membuatmu jadi tidak nyaman, kakak hanya ingin jujur, dan tidak ingin, ada yang mendahului kakak,"
lagi-lagi niah hanya tersenyum, dan tangannya pun masih dalam genggaman faiz.
"ni...niah, kenapa kamu tidak menjawab kakak, dan apa arti dari senyuman kamu itu,"
Faiz merasa jika tubuhnya berkeringat, padahal pendingin ruangan nyala, di tambah lagi, niah hanya diam saja, Bukannya menolak, niah hanya sedang mencerna semua yang di katakan faiz, niah hanya tidak ingin berharap terlalu jauh, jika pada akhirnya hanya ada kekecewaan yang tersisa.
"niah, jika kamu mau marah, kakak tidak akan melarang mu, tapi apakah dengan diamnya kamu ini, kakak bisa menganggap bahwa kamu nerima kakak.
Faiz memiringkan kepalanya seperti apa yang di lakukan niah tadi.
"niah, jangan diam saja, katakanlah sesuatu, setidaknya anggukan lah kepalamu jika kamu setuju dengan pertanyaan kakak."
__ADS_1
"sekali lagi kakak tanya, apa kamu menerima kakak."